Iriadi dan Agus Syahdeman Lolos, Peta Politik Kab Solok Berubah 

Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Solok Nomor 97/PL.02.3-Kpt/1302/KPU-Kab/XI/2020 tentang perubahan atas keputusan KPU Kabupaten Solok Nomor 80/PL.02.3-Kpt/1302/KPU-Kab/IX/2020 tentang Penetapan Pasangan Calon Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Solok Tahun 2020 bakal mengubah peta politik Kabupaten Solok.
Masyarakat yang sebelumnya fokus pada tiga pasangan calon, kini akan terbagi empat. Nofi Candra-Yulfadri Nurdin, Epyardi Asda-Jon Firman Pandu dan Desra Ediwan Anantanur-Adli yang sebelumnya berusaha ‘menarik’ pedukung Iriadi Datuak Tumangguang dan Agus Syahdeman harus bersiap-siap kehilanga suara lagi. Pendukung setia pasangan nomor urutan empat ini tentu akan kembali merelakan kehilangan suara.
Bagaimanapun Iriadi Datuak Tumangguang dan Agus Syahdeman jelas  memiliki basis. Pendukung dan tim sukses yau leng sudah ada sebelumnya, memang sudah ada yang terlanjur pindah dukungan. Namun ketika perjuangan pasangan nomor urutan empat ini sukses, tentu bakal ada suara yang tergerus. Apalagi pasangan ini boleh dikatakan berada di ‘metropolitannya” Kabupaten Solok.

Iriadi Datuak Tumangguang bersal dari Selayo, Kecamatan Kubung, daerah yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Apalagi Kubung termasuk daerah dengan penduduk dan pemilih terbanyak di Kabupaten Solok.

Sementara Agus Syahdeman, Calon Wakil  Bupati berasal dari Talang, Kecamatan Gunung Talang, juga dengan penduduk yang padat. Kini Gunung Talang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Solo, sejak pusat pemerintahan pindah dari Koto Baru ke Arosuka.

irLolosnya Iriadi Datuak Tumangguang dan Agus Syahdeman sebagai pasangan calon Bupati Solok memjadikan persaingan semakin ketat. Karena kini ada calon bupati dari tiga wilayah, Utara, Tengah dan Selatan.

Di Utara ada, Nofi Candra dan Epyardi Asda sebagai calon nomor orang 1 Kabupaten Solok di tengan ada Iriadi Datuak Tumangguang, sementara di Selatan Desra Ediwan Anantanur. Ketiganya termasuk calon yang berpengalamanan di pemerintahan atau legislatif.

BACA JUGA  Kemenag Bukittinggi dan BPS Bipih Gelar Bersahaja Masa Pandemi

Dibanding tiga pasangan calon (paslon) lainnya, Iriadi Datuak Tumangguang dan Agus Syahdeman memang punya waktu lebih pendek untuk berkampanye. Namun disadari atau tidak, ketika pasangan ini ‘terganjal’, sebenarnya paslon ini tidak pernah hilang. Karena masyarakat terus mempertanyakan mengapa pasangan ini tidak lolos.

Setelah berjuang, akhirya KPU meloloskan pasangan ini, dan dalam waktu pendek pula , baliho dan gambar ini sudah tersebar di berbagai titik.

Jalan menuju Arosuka 1 makin terjal. Persaingan untuk menempati kantor baru semakin sengit. Suara masyarakat Kabupaten Solok akan terpecah, perhatian pun akan terbelah. Belum tahu, siapa yang akan memenangkan suara rakyat.

Empat calon bupati sudah menebar pesona sejak setahun terakhir. Mereka sudah dikenal oleh masyarakat. Masyarakat pun diyakini sudah punya pilihan, tetapi masih ada keraguan karena semua sosok berimbang. Masing-masing punya kelebihan. Karena itulah, pemilih butuh waktu untuk menentukan pilihan.

Kampanye Diam

Berbeda dengan pemilihan Bupati sebelumnya, yang bisa berkampamye dan mengumpulkan masya dalam jumlah banyak, kampanya saat ini, adalah kampanye diam dan gerilya. Tidak bisa mengumpulkan warga dalam jumlah banyak. Karena itulah, pergerakan setiap calon tidak begitu terlihat.

Terbentuknya posko pemenangan di beberapa nagari, menjadi salah satu bukti jika pergerakan itu tetap ada. Namun apakah posko pemenangan ini bisa menjalankan fungsi dan perannya dengan baik, masih menjadi pertanyaan.

Setidaknya posko pemenangan ini memperlilihatkan adanya kelompok loyalis terhadap pasangan calon bupati. Merekalah yang diharapkan menjadi penggerak dan perayu agar memilih pasangan  yang diusungnya.

Sekalipun kini calon Bupati dari Utara, Tengah dan Selatan, tetapi warga Kabupaten Solok tentu samgat paham bahwa yang dipilih adalah Bupati Solok. Bisa jadi pituah tagak kampung, paga kampung, tagak nagari, paga nagari tidak bisa diwujudkan sepenuhnya. Sekalipun hal ini sulit pula menghindarinya.

BACA JUGA  Sultan Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Politik Untuk Tingkatan FDI

Karena itulah, setiap calon harus mampu meyakinkan warga pemilih melalui visi, misi dan program yang bakal dilakukan jika terpilih menjadi orang nomor 1 di Kabupaten Solok.

Seperti penaggulangan Pandemi Covid-19 yang dilakukan secara massif, kampanye pun perlu dilakukan secara massif, sekallipun dalam jumlah kecil. Saat ini satu suara sangat berharga karena tidak mungkin mengumpulkan banyak orang, maka tidak ada salahnya berkampanye dari rumah ke rumah, dari satu perkumpulan ke perkumpulan lain. (*)

Baca juga:

Facebook Comments

Google News