Malamang, Merekat Kebersamaan Mempertahakan Budaya di Nagari Gauang

Sejak pagi beberapa wanita telah sibuk di rumah kaum Dt. Putiah nagari Gauang kec. Kubung kab. Solok. Mereka mempersiapkan berbagai masakan yang kan dijadikan jamuan pada “manyaratuih hari” Jahar Dt. Putiah.

Selain membuat aneka masakan dan penganan, ibu-ibu ini juga sibuk “malamang” sebagai salah syarat dalam manyaratuih ini.

Mereka berbagi tugas, mulai dari menyipkan beras ketan, santan, talang (bambu) untuk wadahnya sampai sabut kelapa dan kayu yang dijadikan bahan bakar. Yang talak kalah pentingnya adalah penyiapan tungku yang dibuat khusus.

Lemang (Indonesia) atau lamang (Minangkabau) adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu jenis tertentu / talang (Minangkabau), setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun pisang dalam bambu kemudian diisi beras ketan dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang dengan bara api menyala.

Metode memasak ala bambu ini terbukti memang hasilnya menjadi lebih enak. Hal ini tidak hanya karena bahan dasarnya beras lokal, juga karena dibakar dengan kayu bakar. Tambahan efek dari wadah bambu dan daun pisang juga turut meningkatkan aroma rasanya menjadi khas. Value inilah yang dicapture untuk dilestarikan sebagai makanan yang khas pada hari tertentu, seperti hajatan atau hari raya.

Baca juga : “Karayia Paja” Tradisi Yang Masih Lestari di Nagari Gauang

Hanya saja proses membuat lamang atau lemang bukanlah hal yang simpel, karena perlu persiapan dan penanganan selama proses pembakaran. Perlu waktu yang lama karena hanya dibakar di pemanggangan dengan disandarkan pada kayu yang melintang disamping bara api cukup lama yakni tiga sampai empat jam.

Sebab setelah dinyatakan matang tapi masih perlu tetap disalai/disangai didekat bara tersebut sampai keluar aroma khas.

Dikenagarian Gauang Kecamatan Kubung Kabupaten Solok lamang selain kuliner tradisional dihari-hati besar tertentu juga merupakan makanan/ hidangan yang disuguhkan pada acara adat atau kebiasaan di nagari.

Malamang (Indonesia melemang) artinya proses membuat lamang. Di nagari Gauang istilah malamang tidak hanya menyangkut proses membuat lamang dalam makna denotatif saja. Hal ini lebih terkait pada kepentingan atau tujuan pembuatan lamang itu sendiri. Misalnya kalau hanya untuk kepentingan hidangan hari raya tidak terlalu digemakan. Sebab prosesnya hanya dikerjakan oleh orang yang ingin membuat lamang itu sendiri. Dan tujuannya hanya untuk hidangan tambahan disamping baik kue tradisional maupun kue modern.

Pada momen kali ini dirumah keluarga Dt.Putieh berlangsung acara malamang dalam rangka acara mendoakan mamak waris beliau Jahar Dt.Putieh.

“Kami akan mengajikan mamak kami Jahar Dt.Putieh”, Kata Syawalir Dt.Putieh.

Proses malamang ini dikerjakan oleh orang yang diundang sekampung baik laki-laki ataupun perempuan dengan tata acara adat yang berlaku selingkar nagari Gauang. Sebab lamang yang akan dibuat akan dijadikan hidangan makanan setelah makan nasi pada acara mendoakan/mengajikan orang yang meninggal dunia pada hari yang ke seratus.

Orang laki-laki berperan pada pengadaan/penyediaan kayu yang akan dibakar, bambu/talang, persiapan lokasi/ tempat malamang yang dikenal dengan istilah palamangan. Palamangan harus ready sebelum lamang akan dibakar.

Perlu tenaga laki-laki yang banyak selain pengadaan palamangan, juga diperlukan untuk mengukur/memarut kelapa. Kelapa yang diperlukan dalam jumlah banyak sesuai /sebanding dengan banyak beras ketannya.Jadi tidak memungkinkan kalau hanya dikerjakan oleh tenaga perempuan.

Setelah semua bahan tersedia siap diadon baru dikerjakan oleh tenaga perempuan seperti meletakkan bambu/talang lamang disenderan yang sudah disiapkan laki-laki tadi.

penulis : Risna Delfita editor : Moentjak

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...