Mezy, Penyandang Disabilitas Netra Yang Raih Gelar Sarjana di IAIN Bukittinggi

Bukittinggi, SuhaNews. Mezy Ramadhan Putra mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Bukittinggi, bernafas lega usai menjalani sidang munaqasyah di gedung O 2 Kampus IAIN Bukittinggi Kubang Putiah. Jum’at, 21-02-2020.

Remaja penyandang disabilitas tuna netra ini sukses menyampaikan paparan skripsi yang berjudul Penggunaan Media Braile Teks dalam Pembelajaran Al-Qur’an di SLBA Tuna Netra Payakumbuh.

Binaan Rusman Edi yang merupakan Ketua Kelompok Penyuluh (Pokjaluh) Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi tersebut dengan lancar menyampaikan satu persatu poin penting dalam karya ilmiahnya didepan dua penguji, Wendra Afrison dan Fauzan.

Mezy memaparkan latar belakang ketertarikannya untuk mengangkat judul skripsi yang ia buat. Berbagai masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memperkenalkan Al-Qur’an melalui metode braile kepada parapenyandang disabilitas tuna netra.

Decak kagum terpancar diwajah penguji dan pembimbing. Semua yang hadir dalam ruangan fokus untuk mendengar dan memperhatikan seorang penyandang disabilitas yang tengah asyik berdalih ilmiah menggapai gelar sarjana yang telah ada di depan mata.

Dua penguji bergantian memberi tanggapan dan pertanyaan terkait isi skripsi yang telah dipaparkan oleh Mezy. Demi kesempurnaan karya ilmiah, berbagai masukan disampaikan oleh kedua penguji yang mengapresiasi semangat dan perjuangan lelaki bertongkat tersebut.

“Akhir-akhir ini banyak penyandang disabilitas tuna netra yang kesulitan dalam mempelajari Al-Qur’an. Meski banyak yang telah memanfaatkan audio melalui android untuk hafalan, namun tidak mengetahui bagaimana penulisannya,” ucap Mezy.

“Pesatnya kemajuan teknologi, dikhawatirkan penyandang tuna netra terfokus kepada mendengarkan audio saja, sedangkan mereka tidak tahu bagaimana penulisan yang sebenarnya. Sehingga metode braile semakin tertinggal dan tidak dikenal lagi oleh generasi yang akan datang,” imbuhnya.

“Braile identik dengan penyandang tuna netra, untuk itu harus tetap dipertahankan dan diajarkan kepada mereka,” tegasnya.

Wendra Afrison memberi tanggapan dan saran terhadap hasil penelitian yang telah dipresentasekan Mezy. Arahan dan perbaikan untuk kesempurnaan juga disampaikan Fauzan selaku penguji II pada sidang tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi Mezy telah mampu menyelesaikan skripsi ini. Namun tetap ada beberapa perbaikan yang harus diselesaikan untuk kebaikan dan kesempurnaan karya ilmiahnya,” ucap WendraAfrison.

“Beberapa perbaikan, baik teknik penulisan maupun isi yang belum disempurnakan pada beberapa bagian skripsi menjadi prioritas yang harus dituntaskan Mezy,” terang Fauzan.

Diakhir sidang, Endri Yenti selaku pembimbing Mezy menyampaikan beberapa kesimpulan dan capaian hasil dari sidang yang telah dilaksanakan. Dengan suara serak seolah menahan jatuhnya air mata haru, sang pembimbing tuna netra tersebut membacakan keputusan sidang.

“Tim penguji menetapkan Mezy Ramadhan Putra dinyatakan lulus dengan nilai 90,05 (+A) dan berhak menyandang gelar S.Pd,” ucap Endri Yenti

Rusman Edi tampak sangat bangga dan bahagia  menyaksikan secara langsung kesuksesan salah seorang binaannya. Senyum simpulyang dilemparnya, seolah menutupi air mata bahagia yang tengah menggelora.

Pembina Mezy pada kelompok Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kota Bukittinggi itu, sangat bersyukur atas apa yang telah disaksikannya. Perjalanan panjang selama ini, yang penuh liku dan melibatkan berbagai pihak akhirnya terbalas dengan kesuksesan penyandang disabilitas tuna netra pertama yang meraih gelar sarjana di IAIN Bukittinnggi.

“Atas nama pembina, kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dan membantu Mezy secara ikhlas,”ucap Rusman Edi.

“Terimakasih yang tidak terhingga kepada Bapak Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi yang selalu mensupport Mezy. Bank Nagari Syari’ah Bukittinggi yang telah berpartisipasi sebagai donasi sehingga hari ini terwujud cita-cita seorang penyandang disabilitas ini,” imbuhnya.

“Mezy telah membuktikan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mengejar cita-cita. Insya Allah Mezy akan lanjut ke-jenjang S-2. Untuk mewujudkan keinginannya itu, perlu perhatian dan kepedulian kita semua. Untuk itu kami mengajak semua pihak untuk dapat ikut berpartisipasi dalam menyukseskan studinya,” pungkas Rusman Edi.

reporter : Yal editor : Moentjak

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...