spot_img

Suhu 42 Derjat, Payung Teduh Menyambut Tamu Allah

SuhaNews – Payung Teduh Menyambut Tamu Allah. Sinar mentari Madinah jatuh lurus dari langit, memantul ke aspal terminal yang panas dan berdebu. Suhu di luar mencapai 42 derajat Celsius, cukup membuat peluh mengucur hanya dalam hitungan menit. Namun di tengah terik yang menyengat itu, sekelompok petugas berseragam biru muda dengan lambang merah putih di lengan kanan, tetap berdiri tegak di pelataran Terminal Fast Track Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA).

Di tangan mereka, tergenggam payung-payung yang terbuka lebar. Mereka adalah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Bandara. Mereka bersiaga menyambut tamu-tamu Allah yang baru tiba dari Tanah Air.

Setiap hari, selama delapan jam penuh, para petugas ini berjaga. Menyambut, membimbing, dan memayungi jemaah haji Indonesia yang baru mendarat. Mereka berdiri di jalur keluar bus, menjemput satu per satu jemaah—terutama para lansia—dengan uluran tangan dan naungan payung.

“Baru jam 10 lewat, tapi teriknya sudah seperti ini. Di atas 40 derajat sepertinya,” tukas salah seorang petugas.

Payung Teduh Menyambut Tamu Allah

Artinya, baru dua jam dari delapan jam waktu kerja shift pertama di hari itu. “Rasa panas itu pasti, tapi lelahnya jadi ringan kalau melihat senyum jemaah,” tukas pria yang tergabung dalam Sektor 1 Daker Bandara tersebut.

Di tengah suhu yang bisa mencapai 42 hingga 44 derajat, para petugas tetap bergerak lincah. Mereka tahu, tugas mereka bukan sekadar teknis pelayanan, tapi bagian dari ikhtiar melayani para tamu Allah dengan hati yang tulus.

Selama kurang lebih tiga puluh menit, para petugas melayani proses kedatangan jemaah fast track. Bolak balik, dengan payung di tangan, mereka menembus teriknya langit Madinah mengantar jemaah menuju bus-bus.

BACA JUGA  Walikota Pariaman Serahkan Bantuan Bibit Cabe dan Jahe untuk Kelompok Tani

Terminal Fast Track memang mempersingkat proses imigrasi jemaah, tapi para petugaslah yang memperhalus pengalaman spiritual ini. Di balik keringat yang menetes, ada keikhlasan yang tak bisa diukur. Mereka tak hanya membuka payung, tapi juga membuka hati untuk melayani.

Langkah ini mengandung makna mendalam, sebuah sambutan teduh di tengah panasnya padang, untuk para tamu Allah yang datang dengan harap dan doa. (Indah Limy/Syafrial)

Baca juga: Haji 2025, Ini Aturan Penggabungan Jemaah Pasangan Terpisah

Facebook Comments

Google News