Trip Report MPM Legowo Bandung-Solok (3), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di Bakauheni

Trip Report MPM Legowo Bandung-Solok (3), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di Bakauheni
SuhaNews – Ada yang menarik di pelabuhan Merak, Kamis (11/11) sore itu. Setelah sampai di kapal, penumpang menyebar mulai dari lantai dua hingga empat untuk mencari tempat yang pas melepas pemandangan ke sekitar pelabuhan Merak. termasuk penumpang MPM Legowo, sebagian besar menyasar musala, untuk menjamak Zuhur dan Ashar.

Saat mengantri berwudu’ di depan musala, beberapa remaja bergelayutan di pagar kapal. Mereka bilang sama penumpang, kalau mereka akan melompat dan berenang di laut, nanti penumpang lempar uang dan mereka akan tangkap.

Aksi mereka ini jadi hiburan di pelabuhan penyeberangan ini hingga era 2000an. Saat itu yang dilempar masih uang receh lima puluh rupiah atau seratus rupiah. Kini taruf mereka berbeda, walau tak menyebut angka, mereka menyebut bisa lah untuk minum kopi dan beli mie nanti setelah dingin berenang.

Penumpangpun berlomba melempar uang lima ribuan dan sepuluh ribuan, ada yang diremas biar lebih berat dan ada juga yang menyelipkan koin didalamnya sebagai pemberat.

Saat mereka berhasil menangkap uang tersebut, mereka akan memperlihatkan kepada penumpang yang memberinya, seraya melambaikan tangan mengucapkan terima kasih. Penumpuang kapal Suki 2 berebut merekam aksi mereka, terutama saat melompat dari buritan hingga terjun ke laut.

Klakson kapal terdengar menggema, pertanda kapal siap diberangkatkan. Remaja yang yang tadi berenang disekiat kapal mulai menjauh dan naik ke dermaga. Pukul 17.40, KMP Suki 2 bergerak keluar pelabuhan dan masuk jalur pelayaran selat Sunda. Sementara cuaca saat itu angin lumayan kencang, meski tak menganggu perjalanan kapal, namun membuat penumpang yang berada di deck paling atas merasakan tiupannya.

Hal ini terasa saat hendak menuju musala untuk salat Magrib, sehingga tak banyak lagi penumpang yang duduk di teras depan musala, mereka lebih memilijh teras dilantai tiga depan kantin atau lantai dua dekat kendaraan pribadi dan minibus.

20 menit sebelum sandar awak kapal memberikan pengumuman, penumpang diminta bersiap dan dipersilahkan kembali ke kendaraan masing-masing.

Begitu juga penumpang MPM Legowo, mulai naik dan menempati tempat duduk masing-masing. Kaliang segera menghitung dan mencek penumpang. Sambil memastikan semua lengkap, ia pun mennghidupak 2 LED yang terpasang disektat kabin kemudi.

Tak lama kemudian film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang dibintangi Pevita dan Herjunot Ali tayang. Seiring pintu kapal yang terbuka film ini masuk ke cerita yang ditulis oleh ulama besar asal Ranah Minang yang juga sastrawan Buya Hamka.

Keluar kapal pukiul 19.27 WIB, MPM Legowo terus melaju meninggalkan pelabuhan masuk tol Lampung – Palembang. Empat saudara, Legowo, Kota Budaya, Goodboy dan Patikawa jalan beriringan.

Beberapa kali Legowo dan Kota Budaya jalan berdampingan, keduanya pun memainkan telolet masing-masing, namun demikian tidak begitu bisng ke dalam kabin penumpang. Karena antara ruang kemudi dan penumpang dibatasi sekat dan pintu yang rapi. Walau diluar ada suara telolet bersahutan, tak mengurangi nyamannya penumpang menikmati Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk crew MPM Legowo senja itu.

Lebih kurang satu setengah jam berlari di tol, pukul 20.55 WIB, MPM Legowo yang dikemudikan Bang Alex keluar di exit tol Gunung Sugih. Terus masuk ke jalur Lintas Sumatera menuju rumah makan Bukit Indarung di Bandar Jaya.

Rumah makan Bukit Indarung lokasinya tak jauh dari pintu keluar tol, MPM legowo pun berbelok ke halaman rumah yang berada disisi kiri, diseberangnya dealer Hino. Penumpang turun beristirahat dan makan malam.

BACA JUGA  Kemenag Terbitkan Buku Tata Kelola Umrah Indonesia 2021

Kaliang yang menjadi crew langsung membuka pintu mesin di belakang bus, setelah itu dengan cekatan ia kembali kedepan, masuk ke kolong bus untuk memperbaiki adanya komponen yang tidak berfungsi baik. Tak lama kemudian menyusul MPM lainnya yang tadi beriringan sejak dari kapal Suki 2.

Keempat bus yang berdampingan ini sama-sama pamer bokong yang terbuka. Sementara di depan juga berlomba menampilkan strobo dan runing text di kaca depan. Sambil menunggu penumpang makan dan istirahat para crew bus MPM juga membersihkan bus masing-masing, termasuk menambah air di toilet.

Petugas dari rumah makan juga membersihkan kaca depan bus, agar pandangan sopir tidak terhalang debu yang menempel di kaca. Sejam istirahat, bus kembali melanjutkan perjalanan.

Pukul 21.00 WIB, MPM Legowo meninggalkan rumah makan Bukit Indarung, masuk kembali ke Tol Trans Sumatera melalui gerbang tol Gunung Sugih. Kemudi dipegang sopir dua Oki, disusul tiga saudara Legowo lainnya.

Di perjalanan kali ini, pengguna Tol Tran Sumatera dari Lampung menuju Palembang, tak dapat menikmati jalan ini secara maksimal, karena adanya perbaikan di beberapa titik, sehingga pengemudi juga ekstra hati-hati dalam memacu busnya. Termasuk MPM Legowo dan lainnya yang “ma agak-gak lari”.

Saling salip dengan bus tujuan Sumbar lainnya mewarnai perjalanan malam itu, Ada NPM, ANS, Gumarang Jaya dan pemain baru Epa Star dengan body Avante terbaru dari karoseri Tentrem. Sayangnya nomor pintu atau julukan bus-bus tersebut tidak terlihat karena kaca MPM Legowo kabur diselimuti embun.

Namun istimewanya, meski saling salip beda merk, bus-bus asal Sumbar ini tetap saling sapa dengan klakson dan telolet, karena mereka berprinsip meski beda perusahaan tetap Bandunsanak di lintasan.

Pukul 00.41 di gerbang tol Palembang, bertemu dan sama-sama keluar dengan Epa Star. Batu terlihat, ternyata yang ini julukan Piaman Laweh. Kembali MPM Legowo melaju meninggalkan gerbang tol melintasi kota Palembang mengarah ke Betung menuju Sungai Lilin ke Bayung Lencir yang menjadi perbatasan Sumatera Selatan dengan Jambi.

MPM Legowo kembali minum solar pukul 01.50 WIB sebelum melanjutkan perjalanan menembus pekatnya malam. Melintasi daerah rawan ini, pengemudi lebih berhati-hati dalam memacu laju busnya.

Memasuki waktu Subuh, beberapa kali bus melambatkan laju untuk mencari tempat berhenti salat Subuh, namun dari beberapa masjid yang dilalui, semua parkirannya penuh. Awak bus tidak mau ambil resiko buat penumpang jika bus parkir agak jauh dari masjid.

Jadilah salat Subuh sedikit terlambat dan baru berhenti pukul 05.30 WIB di Jami’ Bayung Lencir. Terlambat dari waktu Sbuh pukul 04.15 waktu setempat. Saat bus nerhenti pun matahari pagi sudah menampakan sinarnya. Hanya MPM Legowo yang berhenti disini.

Usai salat, penulis sempatkan hunting di depan masjid. Ada NPM V36 yang melintas mengarah ke Sumbar. Dari arah Jambi ada Lorena dan Handoyo yang menuju pulau Jawa. Selain itu ada juga bus ekonomi ukuran medium yang melayani trayek Jami – Palembang dan Jambi – Lampung.

Usai salat, perjalanan kembali dilanjutkan menuju rumah makan Simpang Raya Bayung Lencir. MPM Legowo yang pertama sampai disini pukul 07.00 WIB. Tak lama kemudian disusul 3 MPM lainnya.

Selain 4 unit MPM yang menuju Ranah Minang, pagi itu juga masuk MPM aka Shedulur yang hendak menuju Jakarta sekitarnya. Bersama Shedulur juga ada Gumarang Jaya nopin 9 berbody Jetbus 3 juga menuju Jakarta.

Sambil menunggu penumpang makan atau sarapan, bus-bus yang istirahat di rumah makan ini juga menjalani ritual cuci muka. Karena kaca-kacanya diselimuti embun pagi, yang menyebabkan pandagan terhalang.

BACA JUGA  Polsek IX Koto Sungai Lasi Ikut Menanam Pohon

Karena masih pagi, tak banyak penumpang yang makan, rata-rata memilih sarapan yang disediakan di bangunan samping kanan rumah makan. Ada Soto Padang, Nasi Goreng dan menu lainnya disini. Kalau di dalam rumah makan juga tersedia menu aneka masakan Padang.

Tak hanya bus, di rumah makan ini juga banyak truk yang berhenti untuk istirahat, selain area parkir yang luas, keamanan di rumah makan ini juga menjadi pilihan pengemudi untuk beristirahat. Begitupun kamar mandi yang tersedia cukup banyak, sehingga penumpang tidak perlu antri.

MPM Legowo berangkat dari rumah makan Simpang Raya pukul 08.00 WIB, kemudi kembali dipegang Bang Alex. Melaju arah ke Jambi yang kemudian berbelok melewati Tempino terus ke Muara Bulian di Kabupaten Batang Hari.

Melewati tikungan Harmoko, terlihat satu unit truk Toyota Dyna warna biru tergolek ke sisi kiri jalan, mungkin karena menginjak bahu jalan yang lunak. Beberapa truk lain tampak berhenti untuk memberikan bantuan.

Pulul 08.40 WIB, MPM Legowo belok kiri menuju Tempino. Tak lama jalan mulus yang dilalui, beberapa lobang menjadi rintangan dan tangan bagi pengemudi untuk tetap memberikan rasa nyaman bagi penmumpang sekaligus menjaga agar bus tidak rusak saat melewati lubang-lubang yang sebagian cukup dalam ini.

Puas meliuk di jalur Bayung Lencir menuju Muaro Bulian via Tempino ini, MPM Legowo terjebak macet persis didepan SPBU 23.366.12 Tempino pukul 09.40 WIB. Satu unit Dump Truck Hino yang membawa material cadas karam dalam lobang jalan menganga. Posisinya membelintang jalan, sehingga menghambat arus lalu lintas kecuali mobil kecil dan sepeda motor.

Saat minta izin ke petugas SPBU melintas ke area SPBU tak dibolehkan, kecuali beli isi BBM dulu, namun Solar juga sedang kosong. Setelah negosiasi, dibolehkan namun tetap dengan syarat beli BBM dulu. Jadilah MPM Legowio minum Dexlite seratus ribu sebagai syarat diizinkan melintas.

Bang Alex pun memberi tahu kondisi ini kepada Bang Boy Kota Budaya dan MPM lainnya dibelakang. Lebih kurang sejam disini, perjalanan kembali dilanjutkan, masih dengan kondisi jalan berlubang. Terlihat ada masyarakat yang meminta sumbangan kepada pengendara, setelah mereka memperbaiki jalan berlubang dengan alat dan material seadanya.

Memasuki Muara Bulian, jalan lumayan bagus, sehingga MPM Legowo bisa menambah kecepatan menuju Muaro Tebo. Memasuki kota Tebo laju kembali diperlambat, karena arus kendaraan yang lumayan ramai oleh masyarakat yang menuju masjid untuk salat Jumat.

Sepanjang jalan dari Tebo menuju Muaro Bungo, ditemui juga jalan rusak di beberapa titik diantara liku jalan nasional ini. Di lokasi jalan rusak ini dimanfaatkan oleh masyarakat termasuk suku anak dalam (ini terlihat dari cara berpakaian mereka) untuk meminta sumbangan kepada pengguna jalan. Meski tidak memaksa, ini membahayakan karena diantaranya juga anak-anak bahlkan balita yang menyodorkan ember kepada pengguna jalan yang melintas.

Tebo pun dilalui dengan lancar, MPM Legowo dan lainnya sampai di kota perlintasan Muaro Bungo pukul 14.40 WIB. Usai melapor di terminal Type A Bungo perjalanan dilanjutkan menuju Sumbar.

Denga tenang MPM Legowo melaju di lintas Sumatera menuju perbatasan Jambi dan Sumbar. Pukul 16.00 WIB, bus melewati gapura perbatasan di Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat.

Sampai di rumah makan Mutia Putri Minang (MPM) yang juga milik owner bus MPM pukul 16.15 WIB, Legowo dan kawan-kawan kembali istirahat untuk makan siang yang tertunda akibat bus terjebak macet di Tempino maupun macet sebelum naik kapal di Merak.

BACA JUGA  SY Ditangkap Polres Solok Kota Karena Pencurian di Ampang Kualo

Normalnya, jika perjalanan tak ada kendala, bus MPM dari Jawa akan berhenti di rumah makan ini tengah hari atau kisarwan waktu Zuhur. Kembali empat bersaudara berbaris rapi di depan rumah makan yang telah beberapa kali ganti nama, diantaranya Alam Raya yang pernah jadi persinggahan bus ANS sebelum berganti ke rumah makan Palapa.

Tak lama empat bersaudara ini istirahat di rumah makan MPM, datang pula tiga bus dari Solok menuju Jakarta. Mereka berbaris rapi di halaman rumah makan. Ketika foto ini penulis upload ke grup MPM mendapat respon lebih dari 1.000 like oleh netizen. Karena biasanya pertemuan bus dari Sumbar dan Jakarta terjadi rumah makan Simpang Raya Bayung Lencir atau selisih jalan saja.

Lebih kurang sejam pula istirahat, MPM Legowo kembali melanjutkan perjalanan menuju Solok. Kendali kemudi kembali berganti, Bang Alex istirahat di kabin belakang.

Melewati rumah makan Umega Gunung Medan, tampak pula Epa Star Piaman Laweh bersiap keluar menuju Solok. Di kawasan ini bus hanya berjalan santai, karena banyaknya kendaraan sore itu, terutama sepeda motor.

Senja pun berganti malam, MPM Legowo melewati Sialang perbatasan Dharmasraya dengan Sijunjung terus melaju melalui Kiliran Jao yang persimpangan arah ke Pekanbaru hingga Tanjung Gadang, dan Tanah Badantuang.

Saat bus nerhenti karena buka tutup jalan di daerah Pematang Panjang, naik pengamen yang membawa Rababnya. Lelaki berumur lebih kurang empat puluh tahun ini, mendendangkan humor menghibur penumpang. Ia pun makin bersemangat melihat penumpang tersenyum dan tertawa mendengarkan buah rababnya, bahkan ia makin bersemangat ketika ada yang memvideokan aksinya.

Aksi yang kocak ini meraih simpati penumpang, walau tak penuh kantong kresek besar yang semula dipakai untuk menimpan rababnya, beberapa lembar lima ribuan hingga sepuluh ribuan mengisi kantong yang disodorkannya.

Pukul 20.05 WIB MPM Legowo berhenti di Simpang Simancuang, karena ada penumpang yang turun. Setelahnya bus kembali meliuk diantara liku jalan Padang Sibusuk, Muaro Kalaban, Silungkang, Sungai Lasi terus Guguak Sarai dan berhenti untuk transit terminal Bareh Solok pukul 08.20 WIB.

Menjadi yang pertama masuk terminal Bareh Solok, Legowo menunggu Kota Budaya, GoodBoy dan Patikawa yang menyusul lima menit kemudian. Penumpangpun dipisah dan digabung berdasarkan kota tujuan.

Legowo finish di Padang, Patikawa ke Padang lanjut ke Pariaman. Sedangkan GoodyBoy lanjut ke Payakumbuh bia Batusangkar, Kota Budaya yang dikemudiakan bang Boy lanjut ke Bukittinggi. Fendi

Tamat..

Berita Terkait :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaGubernur: Literasi Kunci Menyambut Masa Depan
Artikel berikutnyaGenius Umar Lantik 91 Fungsional Medis Kota Pariaman