Kayu Tanam, SuhaNews – Bencana alam, banjir, longsor dan galodo yang melanda beberapa daerah di Sumatera Barat, juga dialami keluarga besar SMPN 1 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman.
“Banyak siswa kami yang menjadi korban bencana alam ini,” ujar Kepala SMPN 1 2×11 Kayu Tanam, Aprijon, M.Pd., Selasa (11/12/2025).
Baca juga: Satu Truk Logistik dari BPBD Sumbar untuk Korban Bencana Kabupaten Solok
Karena bencana ini berdekatan dengan pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) I Tahun Pelajaran 2025/2026, jelas Aprijon didampingi Wakilnya Mimi Andriani, maka SMPN 1 2×11 Kayu Tanam, membantu siswa dengan menginapkan mereka yang terkena bencana banjir dan longsor selama Penilaian Akhir Semester ini di sekolah.
“Ini sebagai wujud kepedulian sekolah terhadap siswa yang terdampak bencana banjir yang melanda kawasan tempat tinggal siswa di korong Balah Aia, Nagari Kayu Tanam,” ujar Aprijon.
Diinapkannya mereka di sekolah, jelas Aprijon, karena dikhawatirkan mereka tidak akan bisa datang tepat waktu jika harus berangkat dari rumah karena jalan rusak dihantam banjir.
“Kami memfasilitasi mereka yang terdampak bencana banjir agar bisa mengikuti ujian dengan nyaman,” jelas Aprijon.
Selama menginap di sekolah, jelas Aprijon, disediakan akomodasi dan konsumsi. Jadwal PAS adalah 8 sampai dengan 12 Desember 2025. Namun para siswa terdampak bencana ini hanya mengikuti PAS sampai Rabu (10/12) karena pada Senin dan Selasa mereka diberi kesempatan mengikuti PAS dua sesi, yakni pagi dan usai Zuhur.
“Sejak Senin, 1 Desember 2025, Pasca banjir sejumlah guru bersama kepala sekolah telah berkunjung ke beberapa kediaman siswa yang terkena banjir dan longsor untuk mendata siswa yang terdampak bencana sekaligus memberikan bantuan, terutama di Korong Balah Aia dan Banda Manggih.
Di korong Balah Aie dan Sikayan, jelas Aprijon, ada 19 siswa yang terdampak bencana yang tidak bisa datang ke sekolah karena akses jalan menuju sekolah putus total.
“ Mereka harus berjalan kaki melewati rimba perbukitan untuk bisa sampai ke sekolah,” jelas Aprijon.
Jika melewati jalan biasa, menggunakan kenderaan roda doa, mereka harus berganti sepeda motor setelah berjalan kaki menyusuri bibir sungai yang hancur akibat dihantam banjir.
Sementara di Banda Manggih ada 6 siswa terdampak banjir dan tanah longsor. Lalu ada dua unit rumah siswa hilang tertimbun tanah lonsor dan satu rumah terkena banjir lumpur.
“Akses jalan ke Banda Manggih masih bisa dilewati kenderaan roda empat,” tambah Aprijon.
Untuk membantu meringankan derita siswa yang terkena musibah di Banda Manggih, urai Aprijon, para guru datang langsung memberikan bantuan berupa uang tunai kepada masing-masing siswa yang terkena bencana banjir dan tanah longsor.
Sementara siswa yang berasal dari Balah Aia difasilitasi dengan menyediakan penginapan di sekolah dan menyediakan makan mereka selama mengikuti ujian.

“Para guru dengan sukarela bergantian piket mendampingi siswa dan menyediakan masakan untuk siswa yang menginap di sekolah selama ujian berlangsung,” tambah Aprijon.
Siswa yang menginap di sekolah selama Panilaian Akhir Semester berjumlah 16 orang, terdiri dari 6 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.
“Mereka benar-benar mengalami kesulitan untuk datang tepat waktu ke sekolah. Sebelum banjir, ereka harus sudah berangkat dari rumah pukul 06.00 wib agar sampai di sekolah tepat waktu karena jauhnya jarak rumah mereka dari sekolah.
“Para siswa yang menginap di sekolah selama PAS ini, diantar langsung oleh orang tua masing-masing pada Minggu Sore, 7 Desember 2025,” jelas Aprijon.
Para orang tua siswa bersyukur dan berterima kasih karena anak-anak mereka bisa difasilitasi penginapan dan makan selama ujian.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Mimi Andriani, S.Pd.I. memaparkan bahwa siswa yang diinapkan, selain disediakan makan, juga mengikuti salat berjamaah lima waktu di musala sekolah, yang dibimbing oleh Donny Ramadhan Putra. Wewe
Baca juga: Pemkab Pelalawan, Riau Bantu Korban Bencana Kabupaten Solok





Facebook Comments