Makna Dibalik Keindahan Pakaian Anak Daro Solok Di Nagari Kotobaru
Oleh : Muhammad Rijalul Ihsan, Mahasiswa Sastra Daerah Universitas Andalas
Wilayah Minangkabau terbagi atas dua wilayah yaitu wilayah darek dan pasisia (wilayah rantau). Wilayah pasisia atau rantau adalah wilayah perluasan dari wilayah inti meliputi daerah pesisir pantai Sumatera sampai ke Muko-Muko, Pasaman dan Solok Selatan sampai Kerinci. Wilayah darek adalah inti Minangkabau meliputi daerah Tanah Datar, Bukittinggi, Limapuluh Kota. Solok disebut juga dengan kapalo nyo rantau ikua nyo darek dan termasuk kedalam wilayah adat Kubuang Tigo Baleh.
Wilayah adat Kubuang Tigo Baleh ini meliputi kenagarian Solok, Salayo, Tanjuang Bingkuang, Saok Laweh, Guguak, Koto Gadang, Koto Anau, Cupak, Gantuang Ciri, Selayo Tanang, Muaro Paneh, Koto Baru, dan Kinari. nagari nagari yang terdapat di daerah Kubuang Tigo Baleh ini memiliki beberapa tradisi, budaya, dan pakaian pengantin yang hampir sama, salah satunya pakaian pengantin perempuan basuntiang bungo sanggua.
Pakaian adat merupakan salah satu unsur budaya yang terdapat pesan pesan, nilai Norma dan filosofis. pesan pesan yang terdapat dalam pakaian adat dapat diketahui dari simbol,warna, ragam hias yang diungkapkan dalam pakain itu yang mencerminkan corak dan karakter masyarakat daerah tersebut. Masing masing nagari di Minangkabau mempunyai aturan sendiri, kapan pakain itu digunakan, siapa yang memakainya, dan aturan lain yang telah di tetapkan oleh kerapatan adat nagari atau salingka nagari.

Berikut filosofi yang terdapat pada pakaian anak Daro Solok di kenagarian Koto Baru:
1. Sarung kain balapak
Sarung balapak ini dipasang disusun sebelah kiri dengan jumlah hitunggan 3,5,7 jadi disusun ganjil, artinya 3 adalah melambangkan tungku tigo sajarangan, kemudian lima melambangkan shalat lima kali sehari semalam yaitu salat fardu kemudian rukun Islam,saruang palapak ini kita susun sebelah kiri yang juga mengandung arti bahwa perempuan itu adalah bagian dari tulang rusuknya laki-laki.
2. Baju batabue ameh
Baju batabue dibuat dari bulidu(beludru) hitam dan dijahit dengan model basiba longgar tidak memperlihatkan lekuk lekuk tubuh,baju basiba ini berwarna hitam,Artinya tahan tampo maksudnya adalah tahan terhadap cobaan yang di uji dalam rumah tangga.Dibagian lengan baju berbentuk Tapak Kuda Tujuannya adalah untuk menutup punggung tangan sehingga juga melambangkan adat basandi syarak jadi disini juga sifatnya menutup aurat.
3. Kain sandang balapak
Salendang palapak ini ada jumbai/rendo dengan berbentuk saik wajik/galamai,saik wajik ini runcing tetapi tidak melukai,melambangkan bahwa si perempuan berkata-kata bijaksana lebih berlemah lembut dan apabila tegas tetapi tidak menyakitkan atau menyinggung hati orang lain.Jumbai/Rendo ini ada dibagian kiri dan bagian kanan artinya melambangkan bahwa menyatunya kedua hubungan keluarga antara keluarga perempuan dan keluarga laki-laki. pakaian pakaian [pakaian pakaian pakaian pakaian pakaian pakaian
Baca Juga :
- 35 Jemaah Haji Koto Baru Dilepas secara Resmi di Balai Adat
- Makan Bajamba dan Pasambahan, Pelesterian Budaya di MTsN 2 Solok
- Bararak Nasi Kunik, 178 Siswa MTsN 2 Solok Ikuti Wisuda Tahfiz
4. Lukuah Pinyaram
Lukuah panyaram Ini terbagi dari lima yang kecil melambangkan rukun Islam dan 3 bagian yang bawah melambangkan tungku tigo sajarangan niniak mamak,alim ulama,cadiak pandai sarato Jo Bundo kanduang.
5. Tali Baju
Tali baju juga melambangkan kekayaan dan juga perempuan yang sudah menikah itu sudah tidak bebas lagi.
6. Tanti
Tanti terdiri dari 3 melambangkan tungku tigo sajarangan dan juga melambangkan kekayaan bahwa perempuan itu bisa menyimpan harato pusako.
7. Galang
Galang yang di pakai minimal 3 terdiri dari Galang Kaciak,dan Galang Siku(Munggu),Galang siku ini berbentuk bukit kecil maksudnya bahwa perempuan itu setelah menikah Dia mempunyai tugas yang berat dia akan mengerjakan semua tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
8. Jalo ameh
Jalo ameh ini melambangkan kekayaan kemudian juga seorang perempuan yang sudah menikah Itu sudah merupakan suatu ikatkan kepada perempuan yang sudah menikah bahwa mereka tidak lagi bisa bebas seperti ia gadis lagi.
9. Tabue(tabur)
Tabue ada yang berbentuk bintang dan juga berbentuk kupu-kupu ini juga melambangkan bahwa anak Daru itu berseri-seri dan gembira.
10. Kupiah
Kupiah ini gunanya untuk menutup aurat,kopiah juga diberi tabue bintang-bintang kupu-kupu.
11. Suntiang Bungo Sanggua
Di bagian depan suntiang ini berbentuk segita melambangkan tungku tigo sajaranggan,di hiasi juga dengan bunga-bunga yang banyak,yang melambangkan pisang sarumpun kelapa Serumpun,maksudnya adalah bahwa keturunan yang dihasilkannya menjadi orang yang pintar,anaknya menjadi orang yang berguna jadi bermanfaat. dan hiasan lainnya seperti bunga cimpako, burung burung dan kupu kupu.
Seiring perkembangan zaman dan pengaruh teknologi pakaian Anak Daro Solok di nagari Koto Baru masih tetap dipertahankan disetiap sisinya, ini juga tidak terlepas dari peran masyarakat, kerapatan adat nagari, bundo kanduang yang masih menjaga, melestarikan, dan merawat disetiap makna yang ada didalam pakain anak daro solok ini. Cara masyarakat nagari Koto Baru menjaga pakaian anak daro dengan masih menggunakan Suntiang Bungo sanggua pada saat acara baralek. Peran pemerintahan nagari dapat dilihat dengan adanya event Koto Baru gebyar, event Koto Baru gebyar ini sebuah event tahunan yang diadakan setelah lebaran idul Fitri dengan menampilkan adat,budaya,tradisi yang ada dikenagarian Koto Baru dan pemerintahan nagari juga bekerja sama dengan Kerapatan Adat Nagari, Bundo kanduang, anak muda dalam mengadakan event Koto Baru gebyar ini.
Baca Juga :
- Uniknya “Balimau” di Garabak Data, Nagari Diujung Kabupaten Solok
- P5PPRA MAN 1 Solok PK Gali Budaya Nagari Koto Baru
- Hebat, Kafilah Koto Baru Pertahankan Juara Umum MTQ Kubung ke 8 Kali
- Karupuak Leyak dan Timun Lado Bangkitkan Kenangan saat Reuni Akbar MTsN Koto Baru
- Barisan MTsN 2 Solok Diantara Meriahnya Pawai Nagari Koto Baru



Facebook Comments