BLT, Berqurban Lillahi Ta’ala

BLT, Berqurban Lillahi Ta’ala

Oleh: M. Yusuf Aunur Sabri, SH, Pranata Humas Ahli Muda Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman

Berbicara Ibadah qurban sejatinya adalah tentang keikhlasan, ketundukan, dan kepedulian. Karena itu, qurban dimaknai sebagai Berqurban Lillahi Ta’ala atau disingkat BLT, berqurban hanya karena Allah SWT.
Allah SWT menegaskan, bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging maupun darah hewan qurban, melainkan ketakwaan hambanya.

Artinya, orientasi utama qurban adalah menghadirkan hati yang bersih, niat yang lurus, serta kepedulian yang nyata terhadap sesama manusia.

Qurban telah mengajarkan nilai pengorbanan dan keikhlasan. Nabi Ibrahim AS memberi teladan, bahwa cinta kepada Allah berada di atas kepentingan pribadi.

Semangat inilah yang perlu dirawat, di tengah kehidupan modern yang sering menjadikan ibadah sebagai ajang pencitraan dan kebanggaan sosial. Jangan sampai semangat qurban berubah menjadi perlombaan status, jumlah hewan, atau konten media sosial semata.

Jika dipandang dari aspek sosial, qurban memiliki kekuatan besar dalam membangun solidaritas kemanusiaan.

Ada kebahagiaan masyarakat kecil, yang jarang menikmati daging, ada nilai berbagi, pemerataan, dan rasa persaudaraan yang tumbuh.

Dari momentum qurban, mampu mendekatkan yang mampu dengan yang membutuhkan. Inilah wajah Islam yang penuh kasih dan keberpihakan sosial.

Namun demikian, kita juga perlu jujur melihat fakta di lapangan. Masih ditemukan pelaksanaan qurban yang kurang tertib, distribusi yang belum merata, hingga munculnya orientasi publikasi berlebihan yang justru mengurangi makna spiritual ibadah.

Ada pula persoalan limbah penyembelihan, yang tidak dikelola dengan baik, sehingga mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Karena itu, tema Idul Adha Tahun 1447 H/ 2026 M dan Kementerian Agama adalah meningkatkan spirit berqurban untuk merawat alam dan kemanusiaan menjadi sangat relevan.

BACA JUGA  Presiden dan Gubernur Mahyeldi Potong Sapi Kurbannya di Masjid Raya Sumbar

Qurban bukan hanya hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga tanggung jawab horizontal kepada manusia dan alam sekitar.

Pelaksanaan qurban harus bersih, tertib, sehat, dan ramah lingkungan. Penggunaan wadah yang mengurangi sampah plastik, pengelolaan limbah yang baik, serta distribusi yang adil adalah bagian dari nilai ibadah itu sendiri.

Dalam perspektif kehumasan, qurban juga menjadi ruang menghadirkan narasi agama yang menyejukkan dan membangun optimisme sosial.

Publik perlu melihat, bahwa agama hadir membawa solusi, memperkuat empati, dan mempererat persaudaraan.

Humas memiliki tanggung jawab menyampaikan pesan-pesan edukatif, agar ibadah tidak berhenti pada simbol, tetapi melahirkan dampak sosial yang nyata. blt blt blt

Akhirnya, qurban bukan tentang siapa yang paling besar hewannya, tetapi siapa yang paling tulus niatnya.

Qurban adalah latihan membersihkan ego, menumbuhkan empati, dan memperkuat nilai kemanusiaan.

Jika semangat BLT alias Berqurban Lillahi Ta’ala benar-benar hidup, maka qurban akan menjadi energi kebaikan yang tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga membawa keberkahan bagi lingkungan dan kehidupan bersama.

Semoga bermanfaat.

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News