Dinilai Tim PKKM Sumbar, Febrita : Saya Ingin Madrasah Ini Jadi Rumah Kedua

Koto Baru, SuhaNews | Dinilai oleh tim Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) dari Kanwil Kementerian Agama Propinsi Sumatera Barat, Kepala MAN 1 Solok Plus Keterampilan, Febrita, S.Pd, MA, mengawali presentasinya, tidak langsung menyuguhkan angka-angka statistik. Ia justru bercerita tentang filosofi kepemimpinannya. Ia menyebutkan bahwa madrasah adalah rumah keduanya.

“Saya tidak ingin menjadi kepala madrasah yang hanya duduk di ruang kerja dan menandatangani surat. Saya ingin menjadi motor penggerak yang membangunkan semangat setiap pagi. Saya ingin guru-guru merasa didengar, murid-murid merasa aman, dan tenaga kependidikan merasa dihargai. Karena madrasah yang hebat lahir dari budaya, bukan dari gedung,” ujar Febrita dengan suara bergetar penuh keyakinan.

Ia lalu memaparkan tiga pilar utama perubahan yang ia jalankan selama menjabat:

1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Humanis

Febrita mengakui bahwa ketika pertama kali menjabat, ia menemukan banyak guru dan murid yang bekerja dalam tekanan administratif yang kaku. Ia pun menginisiasi program “Ruangan Tanpa Tembok” —sebuah pendekatan di mana ruang kelas tidak lagi menjadi tempat satu arah, melainkan ruang kolaborasi. Guru dan murid duduk melingkar, diskusi menjadi inti pembelajaran, dan setiap pendapat dihargai.

“Saya memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen. Mereka boleh salah, asal mau belajar. Saya juga membuka pintu saya setiap hari untuk siapa pun yang ingin curhat—guru, murid, bahkan petugas kebersihan. Karena saya percaya, ketika manusia merasa diperhatikan, mereka akan memberikan yang terbaik,” jelasnya. nilai nilai nilai nilai nilai

2. Menjadi Motor Penggerak Perubahan

Febrita tidak sekadar memberi instruksi. Ia terjun langsung. Ia mencontohkan bagaimana ia rutin mengikuti pelatihan bersama guru, bahkan ikut serta dalam workshop pengembangan kurikulum merdeka dan digitalisasi pembelajaran.

BACA JUGA  Kedua Kalinya IAIN Batusangkar Gelar Wisuda Virtual di Tahun 2020

“Saya tidak bisa meminta guru berubah jika saya sendiri tidak berubah. Maka saya belajar bersama mereka. Saya ikut pelatihan Canva, Google Classroom, bahkan menulis jurnal ilmiah bersama tim. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, baru kemudian menyebar,” paparnya.

Ia juga menginisiasi program “Guru Penggerak Madrasah” yang memberikan ruang bagi guru-guru muda untuk memimpin proyek-proyek inovatif.

3. Meningkatkan Kualitas Guru dan Tenaga Kependidikan

Febrita mengakui bahwa tantangan terbesar adalah meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang tidak merata. Maka ia merancang sistem “Mentoring Berjenjang” —guru senior membimbing guru junior, tenaga administrasi diberi pelatihan manajemen data, dan semua PTK wajib mengikuti pelatihan kecerdasan emosional untuk menghadapi siswa dengan berbagai latar belakang.

“Saya tidak ingin ada yang tertinggal. Setiap orang punya peran penting. Tukang kebun pun saya ajak bicara tentang bagaimana lingkungan asri bisa mempengaruhi mood belajar anak-anak. Karena madrasah ini adalah tubuh utuh, dan setiap bagiannya harus sehat,” tegasnya. Ibenzani | Fendi

Berita terkait :

Facebook Comments

Google News