Kaji Itu Tidak Salah Walaupun Zaman Telah Berubah

Kisah Ustadz Kampung dan Tahniah
Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Kaji Itu Tidak Salah Walaupun Zaman Telah Berubah

oleh : Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa

Bagaikan angin bertiup, isu yang membawa cerita bahwa sang bupati akan maju menjadi bakal calon gubernur telah tersebar kemana-mana. Namun sang ustadz muda dari kampung tak begitu perhatian dengan isu tersebut.
Kesibukan kuliah dan berdakwah seolah-olah telah mengasingkan ustadz kampung dari hiruk pikuk perpolitikan. Salah seorang jama’ah pernah bertanya, “ustadz, sudah bicarakah bupati dengan ustadz tentang rencananya mau maju jadi gubernur ?”.
“Belum dan juga tak ada keharusannya beliau membicarakan hal itu dengan saya. Lagi pula kalau pun beliau sampaikan, saya tak akan mendorong namun juga tak akan menghalanginya malah saya menjadi rumit karena harus bernasehat kepada orang yang seumur dengan orang tua saya”, jawab sang ustadz.

Pada suatu Kamis sore sepulangnya dari menghadiri undangan ceramah ke propinsi tetangga, sang ustadz yang didampingi isteri sengaja pulang mengantarkan hadiah untuk orang tua beliau di kampung dan bermalam satu malam. Keesokan harinya karena terlalai berangkat, ustadz kampung itu singgah melakukan sholat Jum’at di Masjid yang terletak di depan kantor bupati.

Karena terlambat, ustadz kampung duduk di shaf belakang dan ia sempat melihat di shaf depan ada bupati. Selesai sholat, ustadz kampung sengaja bergegas meninggalkan masjid karena ia harus segera sampai di rumah dan juga sengaja menghindar dari penglihatan bupati karena tak punya waktu yang cukup untuk bicara panjang dengan sang bupati.

Ia merasa tak enak hati bila nanti harus menghentikan pembicaraan karena tergesa. Tapi sayang. belum sempat ia meninggalkan halaman masjid, ajudan bupati memanggilnya,

“buya, tunggu sebentar ! Pak bupati ada keperluan dengan buya”.

Mau tidak mau, ustadz kampung menghentikan langkahnya. Bupati itu pun datang menghampiri sang ustadz sambil bertanya,

“ustadz tergesa atau tidak ? Kalau tidak, baiknya kita ke kantor atau ke rumah karena ada hal yang ingin saya tanyakan”.

“Kalau bapak tidak keberatan, di sini sajalah pak karena saya harus segera sampai di rumah”. Jawab sang ustadz.

Bupati pun memulai pertanyaannya dengan mengingat-ingat kajian yang pernah ia dengarkan dari ustadz muda itu. “Ustadz ! Saya ingat suatu pengajian ustadz tentang meminta jabatan tapi saya tak tahu bahasa arabnya”, kata bupati.

“Betul pak. itu hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim dari ‘Abdurrahman Ibn Samurah ra, bunyinya:
يا عبد الرحمن لا تسأل الإمارة فإنك إن أوتيتها عن مسألة وكلت إليها و إن أوتيتها من غير مسألة أعنت عليها

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan ! Sesungguhnya jika ia diberikan kepadamu dengan meminta maka berarti engkau telah diserahkan kepada jabatan itu (untuk dikuasainya) namun jika engkau diberikan jabatan tanpa memintanya maka engkau telah terbantu untuk menguasainya”.
Memangnya ada apa dengan hadits itu pak ?”, tanya ustadz kampung.

Bupati itu pun melanjutkan pertanyaannya, “begini ustadz, dalam sistem seperti sekarang ini, bagaimana jabatan tidak akan diminta. Ada kampanye, ada partai yang mengusung, ada biaya dan lainnya. Bagaimana hadits itu bisa diamalkan ?”.

Ustadz kampung belum mau menjawab komentar itu tapi malah bertanya lebih lanjut, “konkritnya yang bapak mau tanyakan apa ?”.

“Begini ustadz, saya sebenarnya ingin memberitahu ustadz dan minta pertimbangan tentang rencana majunya saya menjadi calon gubernur. Saya sudah berusaha mengamalkan nasehat ustadz agar bersama dengan mereka yang memperjuangkan Islam melalui jalur politik tapi saya sangat kecewa karena mereka minta duit kepada saya. Padahal mereka tahu bahwa saya hanyalah seorang bupati. Bagaimana saya bisa mendapatkan duit sebanyak itu ! Apakah saya harus korupsi ?! Heran saya dengan mereka. Untung ada salah satu partai yang mau tapi suaranya tak cukup sehingga harus bersama dengan partai yang bukan partai Islam. Nah ini lah yang merumitkan saya ustadz ! Saya ingat dengan hadits itu, yang melarang meminta dan juga saya ingat pesan ustadz. Solusinya bagaimana ?”, ujar sang bupati.

“Mereka mintanya banyak ya pak ? Untuk apa ?”, tanya ustadz kampung dengan rasa kesal dan penasaran.

“Pokoknya gaji saya dua periode jadi bupati tidak cukup untuk memenuhi permintaan mereka. Saya sudah minta rencana anggaran biayanya, biar kita tahu untuk apa tapi mereka tak mau mengajukannya. Saya kan kecewa dengan partai yang mengusung simbol agama kita tapi perilakunya seperti itu”. jawab sang bupati.

“Kalau partai non Islam bersama dengan partai Islam yang lain mengusung bapak, apakah mereka (non Islam) itu bisa mempengaruhi bapak atau tidak ?”,tanya ustadz kampung selanjutnya.

“Insya Allah tidak ustadz karena kita ada kontrak dan suara mereka tak sebanding sama sekali dengan partai Islam yang mau mengusung”, ungkap bupati tersebut.

Akhirnya, baru ustadz muda dari kampung itu menjawab, “Kalau memang tidak ada partai Islam yang cukup suaranya untuk mengusung bapak, mau bagaimana lagi… silahkan asal jangan sampai suara yang satu itu mempengaruhi kebijakan sehingga terlanggar aturan Allah swt.

Adapun cara supaya bapak terhindar dari meminta jabatan, biarkan mereka yang datang meminta bapak dan minta mereka membawa alasan rasional dan data tentang sejauh mana bapak diinginkan oleh rakyat.

Sudahlah pak ! Lupakan saja partai yang satu itu ! Kalau permintaan mereka bapak kabulkan walaupun dengan uang bapak sendiri, itu membeli jabatan namanya ! Jangankan bapak, saya pun kecewa mendengarkan partai Islam seperti itu”.

Selanjutnya ustadz kampung itu menambahkan, “Tapi pak ! sebelum saya berpendapat tentang rencana bapak itu, saya mau bertanya, “apakah bapak sudah menghisab diri untuk itu ? Karena itu amanah yang bisa saja menjadi penyesalan di hari kiamat kelak dan ingat pula bahwa sistem yang berjalan ini, bukanlah sistem yang diredhai oleh Allah swt. Apakah kehadiran bapak dalam sistem itu dengan kedudukan tersebut, bisa memberikan yang lebih baik untuk umat ? Kalau memang itu telah melalui pertimbangan yang matang, silahkan tapi kalau tidak, tak usah lah ! Saya lebih sayang dengan akhirat bapak dibandingkan dunia bapak.”, tegas sang ustadz muda itu.

“Sudah saya timbang ustadz tapi saya akan ulang lagi dan juga akan istikharah. Kalau memang nanti akhirnya pilihannya adalah maju, bagaimana ustadz ?”, tanya bupati sambil berjalan pelan mengantarkan sang ustadz ke dekat pintu mobil.

“Saya do’akan agar bapak mendapatkannya dengan ridha Allah dan menjalankannya sesuai dengan ridha Allah swt”. Jawab sang ustadz.

“Hanya do’a ustadz ?”, tanya sang bupati.

“Hanya itu yang bisa saya lakukan pak. Saya tak bisa membantu bapak untuk berkampanye dan saya sarankan agar jangan sampai para ustadz juga bapak libatkan dalam tim kampanye bapak. Kenapa demikian ? Bapak kan tahu, tugas ustadz itu tidak ada batas periodenya dan mereka tak punya apa-apa untuk mengawal umat ini selain kehormatan dan wibawa. Sedangkan perebutan jabatan ini berjangka waktu lima tahun serta bergelimang dengan fitnah. Kalau sampai seorang ustadz terlepas pembicaraan karena dukung mendukung maka dia berarti telah memperpendek masa tugas keustadzannya pak. Terlalu mahal tugas seumur hidup terkorbankan oleh kepentingan lima tahun.
Apapun kebaikan dan keberhasilan bapak selama ini, saya akan ceritakan kepada orang tapi berbagai kekurangan bapak juga tak akan saya tutupi kalau memang itu perlu untuk diketahui umat yang akan menitipkan amanah di tangan bapak. Setelah itu, saya akan terus mendo’akan agar bapak jangan salah langkah dalam mengambil keputusan. Malang sekali orang yang mengorbankan akhirat abadi untuk mendapatkan dunia sementara ini. Semoga ‘inayah Allah senantiasa menyertai setiap langkah bapak. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”, ucap sang ustad mengakhiri pembicaraan sambil bersalaman dan naik ke mobilnya.

“Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Terima kasih ustadz. Saya maklum dan akan saya ingat saran itu. Selamat jalan, hati-hati ustadz !”, jawab sang bupati.
(Cuplikan perjalanan dakwah ustadz kampung tahun 2005)

BACA JUGA :

Facebook Comments

loading...