Kareh-Kareh, Makanan Tradisional Langka yang Masih Bertahan

Kareh-Kareh, Makanan Tradisional Langka yang Masih Bertahan
Solok, SuhaNews – Kareh-kareh, salah satu makanan tradisional yang mulai langka keberadaannya manun masih bisa ditemukan. Salah satu pengrajin yang membuatnya adalh Ninun.
Usianya sudah 68 tahun, Ninun masih tetap tegap untuk melayani pembeli kareh-kareh, dagangannya di pinggir jalan Alahan Panjang-Talang Babungo, tepatnya di Nagari Salimpat kec. Lembah Gumanti Kab. Solok

“Hanya kami berdua yang rutin menjual kareh-kareh ini,” ujar Ninun kemarin.

Kareh-kareh merupakan makanan tradisional khas Salimpat dan beberapa nagari di Kabupaten  Solok. Penganan yang terbuat dari tepung beras dan gula ini, biasanya akan ditemukan  di rumah rang baralek atau saat mendoa manujuah, maampekbaleh  atau saat manyaratuih hari. Hitungan hari mendoa untuk keluarga yang meninggal.

“Setiap hari habis sekitar 4 kg gula,” jelas Ninun.

Setiap satu kilogram gula pasir dicampurkan ke dalam empat sukek tebung beras. Dengan bumbu tradisional yang ada, maka dibuatlah kareh-kareh dalam dua versi, kecil dan besar. Kareh-kareh tersebut dikemas dalam kantong plastik (asoi).

“Harga satu kantong kareh-kareh Rp20.000,” jelas Ninun.

Ketika ditanya sejak kapan mulai menggalas kareh-kareh, Ninun menjelaskan bahwa ia sudah menggalas sejak puluhan tahun  lalu.

“Nyinyiak saya dulu juga dagang kareh-kareh ini,” jelas Ninun. Ia sudah masuk generasi ketiga yang menggalas makanan tradisional ini. Kini anaknya juga menjual kareh-kareh bersamanya.

Selain berjualan di depan rumahnya, Ninun  mengaku sering menerima pesanan dari nagari lainnya. Selain dari warga Salimpat sendiri. Ada juga yang memesan dari Batu Bajanjang, Kecamatan Tigo Lurah, dari beberapa nagari di Bukit Sundi dan Lembang Jaya, serta nagari lainnya.

“Biasanya mereka memesan 15 hari sebelum alek atau manyaratuih hari dilaksanakan,” jelas Ninun.

Disediakannya waktu 15 hari agar ia bersama anaknya bisa mengerjakan pesanan dan pemesan tidak kecewa. Maklum, pembuatan kareh-kareh ini secara tradisonal, tidak menggunakan mesin apapun.

BACA JUGA  Kota Payakumbuh Raih Penghargaan WTP Ke-6 Secara Beruntun

“Alhamdulillah, dengan berdagang di sini  bisa memenuhi kebutuhan harian,” jelas Ninun.
Kadang-kadang ia bisa berjual beli sekitar Rp200.000/hari, kadang lebih dan kadang kurang. Selama puluhan tahun menggalas kareh-kareh, Ninun masih bertahan hingga sekarang. Kareh-kareh yang dijualnya memang terasa gurih dan baru. Ini membuktikan jika yang dibuatnya habis di tangan konsumen setiap harinya.

Kalau Anda ke Salimpat, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok ini, jangan lupa mencicipi kareh-kareh ini. Selain gurih dan tidak pakai zat kimia, ini termasuk makanan tradisional yang sudah langka.

“Tidak semua warga mampu membuatnya,” jelas Ninun.

Karena itulah, bagi yang membutuhkan untuk baralek atau mendoa, mereka lebih memilih kepada Ninun dan anaknya. Ninun siap melayani pesanan tersebut. Dagangan tanpa merek ini tetap laris manis dan disukai konsumen.

Selamat menikmati kareh-kareh, yang bukan keras tetapi gurih dan punya cita rasa khas. Wewe  

Baca Juga

Facebook Comments

loading...