Berbekal jurusan teknik komputer bagian hardware dan software, Yusrizal (29) justru sukses merintis jalan sebagai pengusaha batik yang go internasional. Dalam waktu kurang dari lima tahun, usaha yang dipelajarinya secara mandiri ini sudah dikenal ke berbagai negara di Asia Tenggara.
“Alhamdulillah, Batik Tulis Salingka Tabek sudah memiliki pelanggan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand,” ujar Yusrizal.
Baca juga: Pincuran Puti dalam Balutan KBA Talang Babungo
Sementara pangsa dalam negeri, juga tidak kalah menariknya. Konsumennya bukan hanya Sumatera Barat, nyaris semua provinsi di Sumatera sudah mengenal Batik Tulis Salingka Tabek. Mereka sudah memesan jauh-jauh hari agar bisa mendapatkan batik tulis buatan Yusrizal ini.
“Sepanjang tahun 2022, kami mengejarkan pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari luar negeri,” ujar Yusrizal.
Usaha yang mulai dirintisnya pada 2017 ini, mampu bangkit dan berkembang ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Ketika perekonomian terpuruk dan banyak usaha yang gulung tikar, Batik Tulis Salingka Tabek justru kian berkibar. Pesanan dari luar negeri meningkat, permintaan dari bergagai daerah di Indonesia bertambah.
“Kami sampai kehabisan stok pada 2021 karena banyaknya permintaan,” jelas Yusrizal.
Tidak Pelit Berbagi
Ketika Pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan adanya larangan untuk berkumpul. Kunjungan ke Sanggar Batik Tulis Salingka Tabek tidak ada lagi, Yusrizal tidak menyerah. Ia beralih dari offline kepada online. Ia memasarkan produknya melalui facebook, instagram dan pasar online lainnnya.
“Permintaan meningkat, omset melejit daripada sebelumnya,” jelas Yusrizal.
Kalau pada 2020 omset masih sekitarRp160 juta/tahun, pada 2021 meningkat hingga mencapai Rp200 juta. Sementara pada tahun 2022, permintaan terus meningkat, sehingga lebih dari 6 bulan, Januari-Juni 2022, Yusrizal bersama tim kreatifnya menyelesaikan pesanan saja.
“Permintaan yang masuk pada tahun 2022 terpaksa kami selesaikan enam bulan berikutnya,” jelas Yusrizal.
Sanggar Batik Tulis Salingka Tabek yang dikelolanya hadir untuk bersama. Yusrizal tidak pelit untuk berbagi. Ia bukan saja sering mengikuti pameran di tingkat regional maupun nasional, juga rajin berbagi ilmu dan keterampilan kepada siapa saja yang membutuhkan.
“Saya diberi kesempatan oleh Balai Diklat Industri (BDI) Padang untuk berbagi pengalaman membatik,” ujar Yusrizal.
Bersama BDI Padang, Yusrizal sudah melanglangbuana ke berbagai daerah di Sumatera. Di samping itu, secara pribadi, ia juga sering diundang untuk berbagi ilmu batiknya kepada lembaga, organisasi dan kelompok masyarakat.
“KBA Talang Babungo termasuk pihaknya yang memanfaatkan jasa saya untuk berbagi ilmu pembantikan,” jelas Yusrizal.
Ia hadir di KBA Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada Desember 2021. Diklat batik ini dilakukan selama 15 hari, diikuti oleh 22 orang, semua ibu-ibu dari Kampung Berseri Astra (KBA) Talang Babungo ini.
“Usai mengikuti pelatihan, KBA Talang Babungo langsung memproduksi batik tulis,” ujar Yusrizal.
Suatu kegembiraan baginya, bisa berbagi pengalaman dan melahirkan pembatik baru. Apalagi usaha ini bisa bangkit dan berkembang ketika Pandemi Covid-19 masih membayangi Indonesia.
Kini KBA Talang Babungo pun memiliki usaha baru yakni Batik Tulis Tabek Talang Babungo. Ini bukanlah satu-satunya batik tulis yang tumbuh dan berkembang setelah dilatih oleh Yusrizal bersama tim kreatifnya. Sudah belasan usaha baru yang mengikuti jejaknya.
“Sanggar Batik Tulis Salingka Tabek memiliki banyak mitra, mereka bukan pesaing sama sekali,” ujar Yusrizal.

Bangkit bersama untuk Indonesia mengalir dalam jiwa Yusrizal. Bahkan sanggar batik tulis yang tumbuh dan berkembang tersebut ada juga yang dimintanya untuk bekerjasama memenuhi pesanan, yang sulit dipenuhinya karena dibatasi waktu.
“Sanggar Batik Tulis yang pernah kami bimbing, kami ajak bekerjasama dalam memenuhi permintaan konsumen,” jelas Yusrizal.
Yusrizal tidak menganggap sangar batik tulis yang baru tumbuh dan berkembang itu sebagai saingannya. Ia tidak cemas sama sekali akan kehilangan pelanggan karena masing-masing punya pangsa pasar tersendiri.
Kebangkitan KBA Talang Babungo
Ketika Covid-19 melandai, Nagari Talang Babungo pun memulai Tiga program utamanya, yakni one jorong one destinasi, one jorong one sanggar dan one jorong one rumah tahfiz.
“Kami ingin memajukan Talang Babungo dengan tiga program utama ini,” ujar ujar Hafizur Rahman, Wali Nagari Talang Babungo.
KBA Talang Babungo yang menjadi bagian dari program ini pun ikut bergerak. Jorong Tabek yang menjadi lokasi utama KBA Talang Babungo sudah dikenal sebagai daerah tujuan wisata tradisional sejak program KBA pada tahun 2016 dilaksanakan di jorong penghasil gula semut ini.
“KBA Talang Babungo memperkuat sektor wisata dengan memberikan kesempatan kepada 22 ibu-ibu tangguh untuk belajar membantik,” jelas Kasri, Ketua KBA Talang Babungo.
“Ibu-ibu ini belajar membatik dari dari Sanggar Batik Salingka Tabek, milik Yusrizal,” ujar Kasri.
Sanggar Batik Salingka Tabek, yang baru eksis enam tahun terakhir, bukan hanya dikenal di Sumatera Barat tetapi menggaung hingga ke mancanegara.
“Kita berbagi pengalaman dengan kaum ibu dari KBA Talang Babungo ini,” ujar Yusrizal, pemilik sekaligus instruktur batik ini.
Yusrizal meyakinkan jika masa depan batik sangat menjanjikan. Bahkan pada masa pandemi Covid-19 sekalipun, ia tidak merasakan dampaknya. Omsetnya justru meningkat.
“Pada 2021 ini, penjualan batik Salingka Tabek mencapai Rp200 juta lebih,” jelas Yusrizal.
“Para pembatik KBA Talang Babungo ini diharapkan bisa membantu untuk memenuhi pesanan atau mencari pasarna sendiri,” jelas Yusrizal, yang juga sudah bekerjasama dengan ASITA Riau dan beberapa biro travel.
Sejak membuka Sanggar, jelas Yusrizal, ia sama sekali tidak pelit berbagi. Ketika ia bisa tersenyum karena padatnya pesanan, ia pun ingin semua yang dibinanya bisa berbuat lebih baik lagi. Ia berharap bisa bangkit bersama.
“Mereka akan menjadi mitra, bukan pesaing bisnis,’ ujar Yusrizal.
“Kami sampai kehabisan stok karena padatnya pesanan batik,” jelas Yusrizal.
Ia tidak menduga sama sekali, Batik Tulis Salingka Tabek bisa mendunia dalam waktu singkat. Beberapa pembatik yang dibimbingnya pun sudah ada yang mandiri. Namun mereka tidak pernah melupakan Batik Salingka Tabek.
“Kadangkala, kita minta tolong kepada Sanggar Batik tersebut untuk menyelesaikan pesanan,” jelas Yusrizal.
Yang menggembirakan jelas, Yusrizal, mereka menjadi mitra. Sekalipun sanggar batik tersebut ada di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat, komunikasi tetap berjalan dengan baik.
“Kita bersyukur karena bisa berbagi kebahagiaan,” jelas Yusrizal.
Yusrizal optimis dari KBA Tabek Talang Babungo ini juga akan muncul pembatik professional. Jika ada yang dianggapnya mampu memenuhi standar Batik Salingka Tabek, maka ia segera memberinya kepercayaan untuk menyelesaikan pesanan.
Ketika Batik Salingka Tabek tersenyum bahagia karena padatnya pesanan, ia optimis dari KBA Tabek inipun akan terlihat senyum pembatik.
Membatik Dalam Sunyi
Yusrizal merupakan pembatik otodidak murni. Ia belajar dari NOL. Guru utamanya youtobe dan google. Berbekal ilmu komputer yang dimilikinya. Usai menonton youtobe, dipraktikkan sendiri. Gagal, coba lagi. Gagal kembali ke panduan.

“Saya nyaris berhenti belajar karena gagal mendapatkan hasil terbaik,” ujar Yusrizal.
Pada puncak keputusasaannya untuk mendapatkan hasil terbaik, batik hasil coba-cobanya itu dibagikan melalui facebook. Di luar dugaan, ternyata ada yang memesan dan membelinya seharga Rp150.000.
“Saya katakan, jika batik ini belum sempurna, tetapi konsumen tetap ingin mendapatkannya,” jelas Yusrizal.
Pesanan perdana ini membuat semangatnya kembali membara. Jika sudah ada satu pesanan, ia yakin, pesanan lain akan segera menyusul. Dugaannya tidak meleset, dalam pekan yang sama, datang permintaan dari konsumen lainnya.
“Saya berusaha memenuhi permintaan, sambil terus belajar untuk menyempurnakan batik buatan sendiri ini,” jelas Yusrizal.
Yusrizal harus melalui beragam rintangan, sebelum ia dikenal sebagai pengusaha batik. Pria asli Solok ini, kini dikenal sebagai pengusaha batik dan instruktur batik tulis. Bermodalkan belajar secara otodidak dari internet, Batik Salingka Tabek kini mendunia.
Yusrizal memulai usahanya dari sebuah rumah orangtuanya di Sawah Parik, Desa Bawah Duku, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Nama Salingka Tabek diambilnya dari kediamannya yang dikelilingi tabek (kolam ikan). Jadi Salingka (dekat, sekitar) Tabek (kolam). Batik Tulis Salingka Tabek, yang kini sudah go internasional, tetaplah usaha yang berpusat di nagari.
Seiring dengan meningkatnya permintaan, Yusrizal pun terus menambah motif batiknya. Beragam motif diperkenalkan kepada konsumen. Semua motif tetap berangkat dari budaya lokal.
“Saat ini, setidaknya ada 14 motif yang dikembangkan,” jelas Yusrizal.
Adapun 14 motif batik tulis salingka tabek tersebut yakni Ayam kukuak balenggek, Tari Piriang, Surau tuo, buruang kuwau, Sarang buruang tampuo dan kombinasi rumah gadang, Rumah gadang urang koto baru kombinasi bungo markisah, Bungo markisa, Rumah Gadang Usang, Burung Makan Padi, Salingka Nagari, Budaya Koto Baru, Nagari Kapujan, Masjid Tuo, dan Budaya Jawi-Jawi.
Batik Tulis KBA Tabek Talang Babungo
Yusrizal ingin bangkit dan maju bersama melalui batik tulis. Karena itulah, selain memberikan pelatihan membatik, ia memberikan kesempatan kepada siapapun yang dilatihnya untuk mengembangkan usahanya sendiri. Semakin banyak pembatik, ia malah lebih senang, apalagi belum banyak pengusaha batik seperti dirinya di Sumatera Barat.
“Yusrizal memberikan ilmunya secara utuh kepada kami,” ujar Wirdatil Husna, salah seorang peserta pelatihan batik tulis dari KBA Tabek Talang Babungo.
Sekalipun pelatihan hanya sekitar dua pekan, tetapi ia bersama ibu-ibu kreatuf dari KBA Talang Babungo sudah bisa memproduksi batik tulis sendiri.
“Sudah ada pesanan dari Universitas Negeri Padang dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok,” jelas Risa Ramadani, sebagai pengelola batik KBA Tabek.
Ini sebuah langkah maju bagi KBA Talang Babungo. Mengapa tidak, ketika banyak usaha UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) yang gulang tikar dan/atau mengurangi karyawannya karena pengaruh Covid-19, KBA Talang Babungo justru bisa bangkit bersama Bati Tulis Salingka Tabek. (Waitlem)
Baca juga: Tari Kreasi SMPN 7 Sijunjung Juara 1 Event Batik Biru se-Sumatera Barat



Facebook Comments