Pemanfaatan Agen Hayati untuk Mengendalikan Hama Tanaman

agen

Pemanfaatan  Agen Hayati untuk Mengendalikan Hama Tanaman

Penulis: Wilka Ramadhia, Mahasiswa Pasca Sarjana Biologi (S2) FMIPA Universitas Andalas, Padang

Hama merupakan organisme yang dapat merusak dan menurunkan produksi tanaman. Sebagian besar jenis hama yang banyak ditemui adalah dari kelompok serangga. Umumnya masyarakat menggunakan pestisida sintetik untuk membasmi hama.

Akan tetapi pestisida sintetik dapat menyebabkan resistensi pada hama dan cukup banyak menghabiskan biaya. Selain itu penggunakan pestisida dapat memberikan efek negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Baca juga: Mengatasi Resistensi Hama Melalui Pengendalian Hayati

Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan pestida sintetik adalah memanfaatkan musuh alami. Musuh alami adalah organisme yang secara alami dapat menyebabkan kematian atupun menurunkan jumlah organisme lain. Penggunakan musuh alami dapat memberikan keuntungan yaitu tidak menyebabkan resistensi pada hama, relatif murah dan tidak merusak lingkungan.

Secara garis besar terdapat 3 kelompok agen pengendali biologi yaitu berupa patogen, parasitoid dan predator. Patogen adalah kelompok musuh alami berupa mikroorganisme yang dapat menginfeksi dan mematikan hama.

Parasitiod adalah jenis organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya sebagai parasit didalam atau dipermukaan tubuh hama. Adapun predator adalah jenis organisme yang memangsa organisme lainnya dan biasanya berukuran lebih besar dari  organisme yang dimangsa.

Agen pengendali dari kelompok patogen contohnya adalah Beuvuria bassiana. B bassiana merupakan jamur Ascomycota yang bersifat entomopatogen pada hama. Jamur ini berbentuk benang-benang halus (hifa) yang berkoloni membentuk miselia.

B bassiana telah dilaporkan dapat menginfeksi berbagai jenis hama serangga diantaranya hama penggulung daun, ulat grayak dan walang sangit pada tanaman padi, hama penghisap buah pada tanaman coklat serta agen antagonis terhadap bakteri R solani yang meyebabkan penyakit sawar pada padi dan jenis hama serannga lainnya.

BACA JUGA  Mengatasi Resistensi Hama Melalui Pengendalian Hayati

Cara jamur B bassiana   menginfeksi tubuh inang yaitu spora jamur   B bassiana   masuk ke tubuh serangga melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel atau lubang lainnya. Kemudian spora akan berkecambah dalam 1-2 hari, kemudian berkembang biak didalam tubuh serangga.

Jamur entomopatogen B. bassiana memproduksi Beauvericin yang mengakibatkan disfungsi hemolimfa dan inti sel serangga inang. Kemudian menyerang seluruh jaringan tubuh sehingga serangga mati. 3-5 hari kemudian miselia jamur akan menembus keluar tubuh dan menutupi seluruh tubuh inang dengan warna putih.

Karena cara kerjanya yang cukup efektif dan cepat, B. bassiana berpotensi besar menjadi agen hayati pembasmi hama untuk alternatif pengganti pestisida sintetik. Di Indonesia, pemanfaatan B. bassiana dalam pengendalian hama belum banyak dilakukan karena pestisida kimia masih menjadi andalan dalam pengendalian,

Sebagaimana entomopatogen lainnya, spora B. bassiana juga mudah diinaktifkan oleh paparan sinar ultraviolet sinar matahari. Oleh karena itu, sore hari merupakan pilihan waktu terbaik untuk aplikasi di lapangan.

Jamur B. bassiana sudah banyak dijual dengan kemasan lebih praktis dengan berbagai nama dagang di pasaran. Namun demikian, pengembangan pemanfaatan jamur B. bassiana masih membutuhkan beberapa perbaikan, termasuk penelitian untuk meningkatkan patogenisitas, mendapatkan teknik perbanyakan massal yang efisien, bentuk formulasi yang mudah diaplikasikan, dan mencari isolat-isolat yang lebih virulen dibanding yang sudah ada.

Baca juga: Pemanfaataan Teknologi Nano Partikel Untuk Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Facebook Comments

loading...