Pemikiran Ki Hajar Dewantara Dalam Konteks Budaya Lokal Minangkabau

Oleh: Andra Mairoza, S.Pd
Calon Guru Penggerak Angkatan 4, Kabupaten Tanah Datar
Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei diambil dari hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Melalui perjuangan Ki Hajar Dewantara rakyat bisa dapat memperoleh pendidikann di zaman penjajahan Belanda.

Semboyan Tut Wuri Hadayani yang terdapat pada logo pendidikan Indonesia berasal dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Semboyan Tut Wuri Handayani mengandung pesan agar setiap pendidik tidak memaksakan kehendak kepada anak didiknya.

Tut Wuri Handayani berarti mengikuti dari belakang dengan mempengaruhi. Pendidik jangan berusaha menarik anak didik dari depan. Anak-anak yang masih belajar sebaiknya dibiarkan mencari jalannya sendiri. Jika anak didik salah jalan, barulah pendidiknya boleh mengarahkan.

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa artinya di depan memberi contoh ditengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan prinsip ini berlaku untuk semua Pamong atau guru.

Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang humanis yang berlandaskan kemandirian, dan kebebasan lahir batin pendidikan yang dapat membentuk karakter peserta didik yang baik. pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya, yaitu manusia merdeka dan baik berkepribadian.

Sebelum mempelajari tentang modul pembelajaran tentang Pemikiran Ki Hajar Dewantara kadang saya bersikap ototoriter dalam pembelajaran. saya sedikit ego dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Melalui modul pemikiran Ki Hajar Dewantara yang saya pelajari saya diingatkan kembali bahwa pencapain standar kompetensi atau indikator yang telah disusun dalam pembelajaran tidak boleh dipaksakan untuk mencapai target yang ditetapkan. Tidak boleh otoriter dalam proses pembelajaran, yang mengakibatkan peserta didik tidak memiliki inisiatif serta kurang mandiri. Dalam pemberian tugas baik di kelas maupun di rumah tidak boleh ada unsur paksaan.

BACA JUGA  Kualifikasi Piala Dunia 2022: Indonesia vs Vietnam, Pertaruhan Pelatih Korea Selatan

Ini tidak hanya di ahami tapi perlu diwujudkan dengan aksi nyata dan percaya diri. Dalam melakukan pembelajaran perlu memperhatikan hubungan dan interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik akan merasa dihargai dan dicintai sehingga terjadi hubungan yang harmonis layaknya seorang anak dan orang tua.

Dalam kontek lokal budaya Minangkabau, saya akan menerapkan falsafah Anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung dipatenggangkan. Seorang lelaki Minangkabau harus bertanggung jawab dan peduli kepada kemenakannya anak dari saudara perempuannya, selain tanggung jawab terhadap anak sendiri, saya bertanggung jawab lebih besar kepada kemenakan yaitu peserta didik, dan tugas tanggung jawab kepada masyarakat.

Langkah konkrit yang akan saya lakukan dari pemikiran Ki Hajar Dewantara di dalam kelas saya yaitu memerdekakan jiwa peserta didik untuk bebas dari gangguan lahir dan batin.

Dalam melakukan pembelajaran tidak membebani anak didik dengan berbagai tugas yang diberikan. Tidak melakukan pemberian sanksi untuk menuntaskan tugas yang diberikan.

Diharapkan melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan peserta didik tidak merasa tertekan dan terbebani dalam mengikuti proses pembelajaran. Saya juga akan melakukan metode among di mana saya layaknya seorang pengasuh atau fasilitator dalam membimbing anak sesuai keinginan kemampuan peserta didik. Semua usaha tersebut agar peserta didik merdeka lahir batin.

Sebagai seorang pendidik, saya tidak menuntut peserta didik untuk berkembang di luar kodratnya. Peserta didik perlu dikembangkan sesuai potensinya. Tidak memaksa siswa untuk menguasai sesuatu yang bukan bakat atau minatnya.

Ibarat petani yang bercocok tanam. Petani memiliki banyak bibit seperti bibit jagung, bibit kedelai, bibit padi dan lainya. Jangan menanam padi berharap menjadi jagung. Tidak memelihara padi seperti memelihara jagung. Masing-masing itu dipelihara sesuai dengan kodratnya.

BACA JUGA  Syamsul Bahri Launching Buku History dan Dinamika PAUD Sijunjung

Itulah yang namanya keragaman yang dihadapi oleh para pendidik khususnya saya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Baca juga:

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaPeringati Sumpah Pemuda, MAN 2 Bukittinggi Gelar Perlombaan
Artikel berikutnyaKabag Umum Sekretariat DPRD Kabupaten Solok Kembali Diserahterimakan