SuhaNews. Sungguh berat dampak ekonomi yang dirasakan Perantau Minang ditengah Pandemi Covid-19 ini. Di perantauan gerak dibatasi, begitu juga dengan aktivitas “bakureh” sementara untuk pulang kampung tidak disarankan bahkan dilarang.
Edi (38) salah satu Perantau Minang yang tinggal di daerah Cengkareng Jakarta Barat menceritakan pengalamannya pada SuhaNews.
Ia bersama perantau lainnya yang sebagian besar berprofesi pedagang mengalami kesulitan ditengah pembatasan aktivitas ini. “Kami harus memutar otak agar dapur tetap berasap,” ujarnya dalam sambungan telpon.
Edi menyebut, perantau mati-matian mensiasati untuk bisa bertahan dengan kondisi sekarang supaya tetap bisa berkativitas dan ada pemasukan. Salah satunya “manuka galeh atau manambah galeh” seperti yang dilakukannya.

Biasanya Edi berjualan pakaian, sepatu, aksesoris hingga pakaian harian seperti celana pendek dan kaos kini ikutan berjualan masker.
“Batuka galeh dari Sarawa jo Masker kini Mak,” ujarnya.
“Alhamdulillah, walau tidak banyak menjual masker dapat juga penambah beli beras ditengah masa sulit ini,” imbuh Edi
Ia menyebutkan, sudah hampir dua bulan jualannya sepi. Sejak pemerintah mulai menghimbau untuk berdiam dirumah, sampai pengurangan aktivitas dan menjaga jarak dagangannya sepi. Bahkan grosir tempat ia biasa berbelanja juga sepi.
Selain itu, pedagang juga diwajibkan menyediakan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizier. Edi pun mematuhi himbauan ini. Didepan tokonya juga tersedia sebuah galon lengkap dengan sabun cuci tangan.

“Kita juga belum bagaimana kondisi setelah penerapan PSBB nanti, semoga semua menjadi lebih baik dan kondisi ini cepat berlalu,” tutupnya.
Seperti doa kita semua, Edi berharap Pandemi ini cepat berakhir dan aktvitas perekonomian kembali normal seperti biasa. Moentjak
Baca Juga :



Facebook Comments