Perkara yang Paling Dekat dan Jauh

paling

Perkara yang Paling Dekat dan Jauh

Oleh Hasanul Rizqa

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali merupakan seorang ulama besar dari abad ke-11. Tokoh yang berkebangsaan Persia itu dijuluki sebagai Hujjatul Islam, ‘sang pembela Islam’.

Sebab, kiprahnya di sepanjang hayat diakui luas telah membela akidah agama ini. Karya-karyanya pun begitu banyak dijadikan rujukan sehingga menginspirasi bagi generasi berikutnya.

Alim kelahiran 1058 itu mencapai puncak kariernya di Madrasah an-Nidzamiyah, Baghdad. Namun, ia sempat mengalami krisis sehingga memutuskan untuk pergi berkelana. Sang imam bermazhab Syafii itu kemudian memilih jalan sufi untuk mencapai ketenteraman hidup. Dalam masa inilah, begitu banyak petuah-petuah penuh hikmah yang dituliskannya.

Sebagai guru, ia kerap memberikan petuah melalui pengajuan pertanyaan. Seperti dikisahkan dalam kitab Khuluq al-Muslim. Suatu kali, Imam al-Ghazali bertanya kepada murid-muridnya mengenai perkara-perkara luar biasa, tetapi acap kali dianggap biasa oleh kebanyakan orang.

Dalam kesempatan ini, ia membahas dua pertanyaan, yakni sesuatu apakah yang paling dekat dengan diri manusia. Sebaliknya, apa pula yang paling jauh bagi manusia. Beberapa saat kemudian, para muridnya berupaya untuk menjawabnya.

Ada yang mengatakan, hal yang paling dekat dengan seorang manusia adalah kedua orang tuanya. Beberapa murid lainnya berpendapat, yang terdekat adalah guru, sahabat, atau karib kerabat.

Sang Imam menghargai semua jawaban itu meskipun tidak sesuai dengan harapannya. Kemudian, ia berkata, “Yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian.”

Sang Hujjatul Islam membacakan surah Ali Imran ayat 185. Artinya, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Maknanya, lanjut Imam al-Ghazali, “Sudah pasti kematian itu datangnya. Tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat.”

Ia juga mengutip surah Yunus ayat 49. “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.’ Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”

Kematian adalah sebuah keniscayaan yang begitu dekat. “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (QS an-Nisa: 78).

Lantas, apakah sesuatu yang paling jauh dari diri manusia? Beberapa muridnya menjawab, benda-benda langit. Ada pula yang berkata, Negeri Tiongkok. Namun, Imam al-Ghazali menyanggahnya, sembari menasihati, “Yang paling jauh adalah waktu yang telah berlalu.”

Sebab, dia mengatakan, waktu tidak pernah berhenti hingga akhir masanya, yakni hari kiamat kelak. Jika berlalu, waktu tak pernah kembali. Satu menit yang silam lebih jauh daripada seribu tahun yang akan datang. Ia menjelaskan, dalam Alquran sedikitnya ada 224 kali penyebutan tentang waktu. Bahkan, Allah SWT bersumpah atasnya.

Allah Ta’ala memerintahkan manusia agar menggunakan kesempatan hidup untuk beriman dan beramal saleh. Waktu adalah modal yang sangat berharga sehingga harus dimanfaatkan secara sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah-Nya.

Imam al-Ghazali menasihati, seorang Muslim yang baik akan mengoptimalkan waktu untuk beribadah dan meningkatkan ketakwaan. Bahkan, tanda optimalnya waktu adalah bagaimana setiap detik, menit, jam, dan hari dapat bernilai ibadah. Tidak harus di masjid, melainkan juga rumah atau tempat mencari nafkah. Siapa pun yang terlena melalaikan waktu maka baginya kelak adalah penyesalan tiada tara.

Ingatlah nasib Fir’aun yang mengejar-ngejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke Laut Merah. Sesaat sebelum napas terakhirnya, ketika air lautan sudah nyaris menenggelamkannya, raja Mesir itu akhirnya mengakui Keesaan Allah SWT.

Adegan ini diabadikan dalam surah Yunus ayat 90. Artinya, “Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, ia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri)’.”

Pada ayat berikutnya ditegaskan betapa sia-sianya pengakuan yang amat sangat terlambat itu. “Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”

Telah lama dan berkali-kali Fir’aun mendapatkan kesempatan untuk bertobat. Sudah banyak mukjizat ditunjukkan oleh Allah kepadanya melalui perantaraan Nabi Musa AS. Fir’aun justru menampakkan kesombongannya sehingga memburu utusan Allah itu bahkan hingga ke ujung daratan.

Relevan sekali kata-kata mutiara dari Syekh Ibnu Qoyyim berikut, “Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian. Sebab, kehilangan waktu membuatmu jauh dari Allah dan hari akhir.”

Ya, seorang Mukmin hendaknya memahami betapa pentingnya waktu, sebelum ia menjadi sesuatu yang paling jauh, yakni masa lalu. Hingga akhirnya, ia menjumpai yang selama ini begitu dekat, yaitu kematian.

Seorang Mukmin hendaknya memahami betapa pentingnya waktu, sebelum ia menjadi sesuatu yang paling jauh, yakni masa lalu. Hingga akhirnya, ia menjumpai yang selama ini begitu dekat, yaitu kematian.

Sumber: Republika.co.id

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...