Positif Covid-19 di Sumbar Capai 510 Kasus, 39 dari Perantau

227
covid
Irwan Prayitno
SuhaNews – Sumatera Barat sudah melakukan pembatasan selektif itu, sejak 31 Maret dengan penjagaan ketat oleh TNI dan Polri di sembilan titik pintu masuk.
“Karena belum ada payung hukum baik PSBB dan Permenhub 25, hanya dilakukan pengecekan dan pencatatan nama-nama yang datang kemudian disuruh mereka isolasi mandiri,” ujar Gubernur Sumbar, dalam jumpa pers bersama Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, Selasa (26/5).

Hingga 22 April 2020, jelas Irwan Prayitno, tercatat 109.204 perantau yang datang.

“Saat itu, memang belum ada pembatasan, hanya pengecekan, tapi sudah ada sosialisasi, bahkan juga sudah dibicarakan dengan komunitas perantau Minang, hingga dikirimkan surat. Itu juga cukup efektif, walaupun tidak terlalu berpengaruh besar,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari Langgam.Id.

Sekalipun sudah dilakukan pembatasan selektif sejak awal, Angka positif Coronavirus Disease (Covid-19) di Sumatra Barat (Sumbar) tetap bertambah.

Hingga Selasa (26/5/2020) ini positif covid-19 mencapai 510 kasus,  39 diantaranya berasal dari luar Sumbar atau dari perantau yang pulang kampung.

“Penambahan kasus positif yang berasal dari perantau atau diistilahkan dengan imported case, tidak terlalu banyak di Sumbar, tercatat hanya 39 kasus,” jelas Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.

Jumpa pers yang dipandu dr Lula Kamal dengan tema “Sapa Daerah: Sudah Mudik, Tidak Perlu Balik,” itu selain menghadirkan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, juga mendatangkan Abidin Siregar, Pengurus Kerukunan Masyarakat Sumatra Utara (KSMU).

Dalam dialog itu, Irwan juga terlihat menyampaikan terkait penanganan Covid-19 di Sumbar, termasuk pengawasan terhadap para perantau yang telah terlanjur pulang kampung saat pembatasan selektif diberlakukan dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan.

Namun, kata Irwan, setelah PSBB, ada pengaruh besar terhadap perantau Minang yang pulang kampung, bahkan angka penurunan perantau yang pulang kampung mencapai 30 persen, dan perantau yang pulang pun juga diklaim tidak sampai 4.000 orang.

“Sejak adanya aturan dilarang mudik, juga masih ada yang nyelonong masuk ketika petugas ganti shif untuk sahur, mereka melaju dengan kencang di area posko perbatasan, jumlahnya mencapai 10 atau 20 mobil, itu tidak bisa disetop. Bahkan, 24 Mei, juga ada sekitar 300 kendaraan yang masuk,” jelasnya.

Namun, meskipun demikian, ditegaskan Irwan, perantau yang pulang tetap diawasi secara ketat. Pemerintah provinsi juga menyediakan lokasi karantina di setiap kabupaten dan kota bagi yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Mereka itu masuk ke karantina ODP. Itu gratis makan semuanya. Karena kita ada kekuatan laboratorium dari FK Unand untuk swab PCR, itu hari pertama paling lama diperiksa hari ketiga hasil keluar, kalau negatif mereka pulang. Kalau positif ringan kami juga ada tempat karantina, kalau berat ada rumah sakit khusus Covid-19,” beber Gubernur Sumbar.

Editor: Wewe    Sumber: Langgam.Id

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...