Rahmah El-Yunusiyyah dan Keteladanan Guru

Rahmah El-Yunusiyyah dan Keteladanan Guru
Masyarakat Indonesia tentu tak asing lagi dengan sosok perempuan bernama Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969). Kapasitas beliau diakui Universitas Al-Azhar dengan menganugerahkan gelar Syekhah. Gelar sepadan Doctor Honoris Causa, bahkan profesor atau guru besar (Azyumardi Azra, 2014) dari universitas terkemuka itu hanya didapatkan Rahmah El-Yunusiyyah, perempuan satu-satunya di dunia.

Tentu, penganugerahan itu bukan sembarangan diberikan. Sejak mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 1923, Rahmah El-Yunusiyyah sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk mendidik perempuan. Tak hanya perempuan di Sumatera Barat, tetapi menjangkau juga Indonesia dan Tanah Malaya.

Hal yang luput dibicarakan selama ini adalah pemikiran Rahmah El-Yunusiyyah terkait pendidikan. Tulisan ini hendak memfokuskan pada tema keteladanan dalam dunia pendidikan.

Rahmah El-Yunusiyyah sebagai Ibu Pendidikan Indonesia ini puluhan tahun silam pernah berkata, “Anda sebagai guru-guru adalah teladan perangai bagi murid-murid.” Dengan kata lain, guru sebagai pengajar dan pendidik sudah selayaknya menyadari pentingnya keteladanan dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Dari sisi pendidikan karakter, faktor keteladanan tak dimungkiri memiliki dampak signifikan. Tamrin (dalam Karso, 2019: 387) menyebut bahwa keteladanan dalam pendidikan merupakan metode efektif paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk peserta didik yang berkarakter. Lantas, apa keteladanan yang mesti diterapkan oleh guru?

Banyak keteladanan bisa dicontohkan guru kepada murid-muridnya di sekolah. Menurut Jamal (dalam Karso, 2019: 388), keteladanan itu bisa meliputi keteladanan berbuat jujur, keteladanan menunjukkan kecerdasannya, keteladanan disiplin, keteladanan akhlak mulia, dan keteguhan memegang prinsip.

Tak sedikit guru di sekolah menyuruh murid-muridnya rajin belajar, namun guru lupa untuk meningkatkan kapasitasnya. Setiap saat mendorong murid untuk membaca, tetapi guru tak suka membaca. Guru tetap puas dengan keilmuan dan kapasitas yang dimilikinya, padahal ilmu dan teknologi terus berkembang.

BACA JUGA  Covid-19 Kabupaten Solok: Bertambah 6 Warga Terkonfirmasi

Dari paparan Jamal di atas, menunjukkan kecerdasan juga bagian dari keteladanan. Secara langsung maupun tidak langsung, setiap murid terangsang untuk bisa cerdas seperti gurunya. Guru pun bisa menjelaskan bahwa kecerdasan didapatkan dengan tekun belajar.

Sesungguhnya, keteladanan yang dipertunjukkan guru memang lebih bermakna ketimbang kata-kata. Sebagaimana ditegaskan Rahmah El-Yunusiyyah, “Guru harus menyadari bahwa dalam memberikan pendidikan, murid-murid lebih banyak menerima dari teladan-teladan perbuatan guru-gurunya itu daripada hanya menerima dari kata-kata saja.” Tak mungkin sekolah menghimbau murid-muridnya menjaga kebersihan jika guru di sekolah suka membuang sampah sembarangan. Betapa ironinya jika murid terlambat masuk kelas kena hukuman, tetapi guru kerap masuk kelas terlambat.

Soal keteladanan akhlak mulia, Rahmah El-Yunusiyyah jauh-jauh hari juga menegaskan bahwa guru perlu memiliki akhlak yang luhur mulia dan hendaklah diperlihatkan dalam tindak sikapnya sehari-hari di hadapan murid-murid. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20/2003 Bab III Pasal 4 (4) secara benderang menyebut salah satunya adalah pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan.

Jika guru merasa tidak bisa konsisten memberikan keteladanan, guru tetaplah perlu terus-menerus belajar memperbaiki sikap dan perilaku, serta memperlihatkan unjuk kerja yang positif. Marilah setiap guru menyambut seruan Ibu Pendidikan Indonesia Rahmah El-Yunusiyyah untuk menegakkan keteladanan. Wallahu a’lam.
(Hendra Sugiantoro, penyusun buku “Rahmah El-Yunusiyyah, Kepada Para Guru” bersama Yesi Sunalfia Dewi Z).

Artikel Terkait :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaRaih Prestasi, Kafilah MTQ Sawahlunto Terima Bonus
Artikel berikutnyaKawasan Kota Tua Padang Dipercantik Dulux