RM. Kayu Aro, Legenda yang Berakhir Akibat Galodo 2026

Arosuka, SuhaNews | Kayu Aro balapan nasi, penggalan bait lagu karya almarhum Agus Taher yang menggambarkan bagaimana melegendanya rumah makan yang sudah ada sejak tahun 70an, saat perjalanan Solok – Padang masih ditempuh lebih dari enam jam bahkan hampir seharian.

Salah satu rest area saat itu Rumah Makan Kayu Aro yang terletak di pinggir batang Baliang yang melintas di jalan Solok menuju Padang. Bangunan dengan halaman luas ini menjadi tempat istirahat bus dan mobil kala itu untuk mendinginkan mesin, semnarar sopir melepas penat dan penumpang beristirahat.

Sejuknya udara Kayu Aro karena hembusan angin dari gunung Talang menjadikan Rumah Makan Kayu Aro tak hanya tempat istirahat, tetapi juga manuka salero dengan berbagai menu spesifiknya diantaranya Dendeng dan Dadar Panas yang disajikan dengaan nasi hangat berkawan kerupuk jangek disiram kuah kalio.

Sahutan minta tambuah nasi, sorakan minta tambah minum berbaur dengan deru mesin bus dan mobil yang tengah menunggu di di area parkir, ini berlangsung selama 24 jam.

Memasuki tahun delapan puluhan saat jalan Solok menuju Padang semakin bagus dan arus lalu lintas semakin lancar menjadikan jarak temluh semakin pendek. Meski pengunjung rumah makan berkurang karena bus tak lagi berhenti secara rutin, rumah makan ini tetap bertahan dengan ciri khasnya. Tak sedikit pula pengunjung yang sengaja datang untuk bernostalgia atau sekedar menikmati menu spesifiknya yang melegenda.

Kondisi tersebut terus bertahan sepanjang tahun sembilan puluhan, rumah makan ini tetap melayani penugunjung selain pengendara dari kendaraan yang melintas di jalan Solok Padang, juga wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Solok terutama Alahan Panjang dan sekitarnya yang sengaja menjadikan rumah makan Kayu Aro sebagai salah satu destinasi untuk istirahat dan makan.

BACA JUGA  75 Relawan Tanah Datar Langsung Berjibaku Bersihkan Sisa Galodo Arosuka

Apalagi di depannya ada masjid yang juga berhawa sejuk dengan air pegunungan nan dingin saat digunakan untuk mandi dan berwudhuk.

Rumah makan ini bangkit saat Sukarami dan Kayu Aro menjadi ibukota Kabupaten Solok pada tahun 2002 lalu. Kehadiran Kantor Bupati, DPRD dan kantor-kantor lainnya membuat ekonomi di kawasan yang kemudian dikenal dengan Arosuka ini tumbuh dan hidup, termasuk rumah makan Kayu Aro.

Legenda yang melekat dengan julukan lapau nasi ini terus bangkit seiring pertumbuhan Arosuka, yang tidak hanya perkantoran, tetapi juga rumah sakit, sekolah hingga perumahan serta industri.

Namun semua berakhir saat galodo / banjir bandang yang terjadi pada Senin (21/9) saat jemaah di masjid Ar Rahman Kayu Aro masih melaksanakan solat Isya. Tak hanya jemaah dari masyarakat jorong Kayu nagari Batang Barus di sekitar masjid. Tetapi juga musafir yang tengah melintas dan solat di masjid yang letaknya di seberang rumah makan Kayu Aro ini.

Batu-batu besar bercampur kayu dan lumpur menghantam kawasan Arosuka dan mengalir deras di sungai Batang Baliang, persis disamping rumah makan Kayu Aro.

Meski bangunan rumah makan yang bagonjong ini tetap berdiri, namun ruangannya dipenuhi lumpur dan batu. Begitu juga halaman yang selama ini dijadikan area parkir kendaraan pengunjung dipenuhi material yang terbawa galido hingga melimpah ke jembatan dan jalan raya Solok – Padang.

Duka keluarga pemilik rumah makan legendaris ini bertambah dalam, saat ada anggota keluarga yang turut menjadi korban musibah galodo selain kerugian materil rudsaknya temoat usaha dan rumah kediaman keluarga mereka.

01503 rumah makan kayu aro b
foto udara rumah makan Kayu Aro, sehari pasca Galodo

Saat proses recovery penanganan bencana berlangusang dalam pekan pertama tanggap darurat, tim penolong dan relawan sempat digemparkan dengan penemuan potongon tubuh di area rumah makan, semual dikira itu potongan tubuh manusia. Setelah identifikasi oleh tim DVI dan dokter RSUD Arosuka, ternyata itu potongan tubuh hewan sejenis kera / Siamang.

BACA JUGA  Penanganan Galodo, Bupati Solok Tinjau Perumahan Nuansa Griya

Tiga pekan setelah bencana galodo, saat pemerintah menetapkan Arosuka memasuki masa pemulihan. Belum banyak berubah dari rumah makan legenda ini. Meski gonjongnya tetap berdiri tegar, belum ada aktivitas usaha dan halamannya masih dihuni beberapa batu yang terbawa galodo.

Semoga semua cepat pulih dan bangkit.

Baca Juga :

Facebook Comments

Google News