100 Hari Pasca Galodo di Lembah Anai, Jalur Yang Jadi Kenangan

100 Hari Pasca Galodo di Lembah Anai, Jalur Yang Jadi Kenangan

oleh  : Supriadi (Pranata Humas Kantor Kemenag Kota Pariaman)

Ketika akhir pekan tiga bulan yang lalu, kita dikejutkan dengan berita bencana galodo di Lembah Anai Kabupaten Tanah Datar pada 11 Mei 2024.

Galodo atau Banjir bandang ini, tidak hanya sekali terjadi. Namun pengulangan dari kejadian sebelumnya.

Kawasan lembah Anai memang indah dan mempesona. Siapapun yang melalui rute Kayu Tanam Padang Pariaman menuju Kota Padang Panjang yang berjulukan Serambi Mekah, akan takjup menyaksikan pemandangannya. galodo galodo galodo galodo galodo galodo

01901 lembah anai b

Telah terjadinya musibah / bencana alam banjir dan longsor di berbagai daerah di Provinsi Sumatera Barat, menyebabkan terputusnya akses jalan pada beberapa titik lokasi, termasuk di Lembah Anai, maka kami dengan beberapa orang Aparatur Sipil Negara ( ASN ) Kankemenag Kota Padang Panjang yang berdomisili diluar Kota Serambi Mekah tidak dapat hadir dengan semestinya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang waktu itu H. Alizar Datuak Sindo Nan Tungga memberi izin / dispensasi kepada ASN yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas dari rumah sampai situasi memungkinkan.

Adapun terkait tugas pokok dan fungsi ( Tupoksi ) masing-masing ASN, tetap dilaporkan pelaksanaannya kepada atasan langsung ( TMT 13 Mei 2024 ).

Dulu, Lembah Anai adalah pintu penghubung antara Pantai Barat Pesisir Sumatra ( Daerah Rantau ) menuju ke pedalaman Minangkabau. Bahkan, kawasan ini menjadi pintu gerbang masuk penyebaran Islam, paham ( ideologi ), modernisasi, serta distribusi barang dan jasa menuju ke pedalaman pelosok kampung nagari, dan sebaliknya.

Tempo dulu, akses ke Lembah Anai masih berupa jalan setapak yang hanya dilalui pejalan kaki, kuda bendi, ataupun pedati kerbau. Mereka yang berprofesi pedagang, membawa hasil bumi menuju Pantai Barat Sumatra.

Pasca kekalahan dalam Perang Paderi, Pemerintahan Kolonial Belanda membangun akses jalan yang lebih baik, tentunya berdampak pada arus lalu lintas manusia dan barang ke pedalaman Minangkabau.

BACA JUGA  Setahun Pasca Galodo Tanah Datar : Dari Luka Menjadi Kekuatan Bersama

Sejak ditemukannya endapan batubara di Batang Ombilin Sawahlunto, berdirilah perusahaan Landsbedrijf de Oembilin Steenkolenontginning ( 1890 ) atau dalam literatur sejarah dikenal dengan nama Ombilin Mijnen.

Pemerintah waktu itu membangun pelabuhan yang lebih besar di Gemeente Padang, diberi nama Emmahaven ( Teluk Bayur sekarang ).

Sulitnya mendistribusikan batubara dari mulut tambang menuju ke Emmahaven, ditanggulangi oleh perusahaan kereta api negara, Sumatra Staats Spoorwagen ( SSS ). Untuk menembus rintangan kondisi alam di Lembah Anai yang berupa bukit karang, batu cadas curam dan terjal, digunakan kereta api dengan rel bergigi.

Panjang lintasan rel yang dibangun SSS adalah enam kilometer, dikelilingi oleh tebing-tebing yang miring. Jalur kereta api melewati jalan pos yang sangat teratur dan menelan investasi yang sangat mahal, juga mengorbankan ratusan buruh paksa ( kerja rodi ) yang didatangkan dari Jawa dan sebagian kecil dari Sumatra ( Algemeen de Handelsblad, 6 Februari 1904 ).

Kesulitan besar yang harus dialami buruh paksa adalah menerobos tanah longsor yang berbahaya dan badai hujan tropis yang terkadang mencapai 225 mm dalam delapan jam ( Algemeen Handelsblad, 30 Juni 1926 ).

Pada 1892, curah hujan ditambah dengan galodo gunung Marapi telah memporak-porandakan Lembah Anai. Tidak hanya tanah longsor, pohon dan berjatuhannya batu yang berukuran besar, turut menghancurkan jalur kereta api, dinding penahan, jembatan kereta api, serta penyangga, lokasi disekitarnya.

Akibat bencana yang terjadi pada Desember 1892 itu, komunikasi terputus selama berbulan-bulan. Dan biaya perbaikan untuk infrastruktur modal transportasi kereta api, menjadi semakin sangat besar. Mencapai lebih dari setengah juta gulden ( mata uang Belanda ).

Belum rampungnya rehabilitasi kereta api, kembali Lembah Anai diterjang banjir besar. Pada awal Januari 1904, karena curah hujan yang tinggi kembali meluluhlantakkan Lembah Anai. Kereta api No. 11 dari Padang menuju Padang Panjang, baru saja melewati jembatan besar di Bukit Tambun Tulang ( Malibo Anai sekarang ), tiba-tiba harus berhenti, karena penyangga di sisi Padang-Panjang telah ambruk, dihantam aliran deras Batang Anai.

BACA JUGA  Jalur Lembah Anai Buka 24 Jam, Roda 6 Tetap Via Singkarak - Sitinjau Lauik

Baca Juga : Galodo, Jalan Padang Bukittinggi via Lembah Anai Ditutup Total

Jembatan dengan konstruksi setengah parabola itu pun ambruk. “orang dapat melihat beberapa sisa-sisa banjir, terangkat dan patah, seolah-olah itu adalah seperti mainan anak-anak.” Demikian Het Vaderland memberitakannya pada 6 Februari 1904.

Tak hanya jembatan tersebut, jembatan di atas Batang Anai dekat Air Putih dan sekitarnya juga luluh lantak. Kereta api tidak dapat bergerak maju ataupun mundur. Dan para penumpang kereta, diantaranya beberapa orang perempuan, serta regent Padang, terpaksa bermalam di gedung halte Kampung Tengah.

Keesokan harinya, para penumpang diwajibkan untuk melanjutkan perjalanan menuju Padang Panjang dengan berjalan kaki, karena tidak ada pilihan untuk menggunakan kereta api.

Komunikasi telegraf waktu itu dengan daerah pedalaman dan Pantai Timur Sumatera telah terputus. Pada jarak yang jauh, kabel-kabel telegraf tergeletak di tanah dan tiang-tiang besinya telah hancur oleh pohon-pohon besar yang tumbang.

Jalan pos utama Kandang Ampek Kayu Tanam ( Padang Pariaman sekarang ) juga dalam kondisi yang memprihatinkan.

Di dekat Air Mancur, sungai telah menciptakan jalur baru, sehingga hanya sedikit yang tersisa dari jalur ini. Orang-orang pun hampir tidak bisa melewatinya dengan berjalan kaki. Puluhan pohon tumbang berada di seberang jalan, sementara massa tanah yang besar pun menghalangi jalan.

Bila pun ada yang tetap nekat berjalan kaki, mereka harus menempuh medan berat dan melewati 10 pos menuju ke Padang. Kepala teknisi SSS yang pergi ke Padang Panjang ternyata telah mengetahui adanya bencana. Ia memperkirakan kerusakan akibat banjir waktu itu, sama dengan tahun 1892, yakni 500.000 gulden.

Alat Komunikasi telegraf akan segera dipulihkan secepatnya, untuk menghubungi pemerintah di Batavia ( Jakarta sekarang ). Di tengah keputus asaannya, pemerintah kembali mengerahkan buruh paksa untuk memperbaiki bagian Kandang Ampat sampai ke Air Putih, sehingga kereta api dari Padang Panjang dapat melewati jembatan Tambun Tulang, juga untuk membawa penumpang dan barang-barang akomodasi lainnya ke Padang Panjang.

BACA JUGA  Penataan Lembah Anai Harus Ditindaklanjuti demi Keselamatan Masyarakat

Pengangkutan barang dilakukan, dengan jasa kuli-kuli di sepanjang jalan pos utama. Sementara pengangkutan surat dan paket akan dilakukan oleh buruh paksa yang dipimpin oleh dua orang veldpolitie. Pengangkutan batu bara ke Emmahaven telah ditangguhkan. Sekitar 11.000 ton batubara Ombilin masih tersimpan di Emmahaven, dan harus segera diekspor keluar negeri.

Tersumbatnya lalu lintas kereta api segera dicabut, rehabilitasi jalur kereta api dipulihkan ( de Locomotief, 18 Januari 1904 ).

01901 lembah anai a

Ketika tulisan ini ditulis, perbaikan jalan darat Nasional di Lembah Anai masih dalam pengerjaan. Walaupun telah dizinkan untuk dilalui secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat semenjak 21 Juli 2024, namun pengerjaan proyek tetap berlanjut.

Hari ini tepat 100 Hari Pasca Banjir Bandang di Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Senin 19 Agustus 2024.

Dan Perjuangan untuk melaksanakan tugas sebagai Pranata Humas di Kantor Kementerian Agama Kota Padang Panjang pun telah selesai, dengan diterbitkannya Surat Keputusan Mutasi ASN Nomor : B-525/Kw.03/1-b/KP.07.5/05/2024, oleh Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat.

Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Juni 2024 dipindahkan menjadi Pranata Humas Ahli Pertama pada Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman. (Adi)

Berita Terkait :

Facebook Comments

Google News