Junjung Sirih, SuhaNews – Berawal dari adanya siswa yang didapatkan tidak menggunakan sepatu ke sekolah, kepala sekolah merasa terusik. Mengapa masih ada siswa yang melanggar tata tertib sekolah, memakai sandal ke sekolah.
Tidak ingin langsung memberikan tindakan dan sanksi, sang kepala sekolah justru berusaha menggali akar permasalahan pelanggaran disiplin itu.
Baca juga: Keluarga Korban Bencana Longsor Tambang Nagari Sungai Abu Terima Bantuan
“Di luar dugaan, ternyata siswa bersangkutan tidak memiliki sepatu yang akan dipakai ke sekolah,” ujar Kepala SMPN 1 Junjung Sirih, Vera Herlili.
Penasaran dengan pengakuan siswa, mantan guru SMPN 2 Gunung Talang ini, mencari informasi tambahan. Ia berusaha menelusuri kondisi riil siswanya.
“Siswa tersebut tidak sendiri, ada beberapa siswa yang ‘melanggar’ displin sekolah,” urai Lili.
Temuan adanya siswa yang melanggar tata tertib sekolah karena ketiadaan ini dibahas dalam rapat dewan guru. Guru pun bisa memahami dan mengetahui kondisi tersebut. Semua sepakat, semua peduli, semua berempati, siswa harus diselamatkan.
“Disiplin tetap ditegakkan, siswa perlu dibantu,” tambah Vera Herlili.
Berangkat dari sinilah, guru dan tenaga kependidikan yang ada memberikan sumbangan spontan. Sumbangan yang terkumpul diberikan kepada siswa yang membutuhkan. Siswa yang tidak memiliki sepatu, dibelikan sepatu. Siswa yang tidak memiliki peralatan sekolah, dibelikan peralatan sekolah.
“Setelah guru bergerak, kondisi ini disampaikan kepada pengurus komite dan para orang tua siswa,” jelas Lili.
Luar biasa. Para orangtua cepat tanggap. Disepakatilah untuk memberikan sumbangan alakadarnya melalui segenggam beras saat memasak. Saganggam Bareh (Segenggam beras) yang disisihkan ke dalam tabung yang terbuat dari bamboo ini merupakan budaya yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Namun akhir-akhir ini, tradisi ini mulai menghilang.
“Kami sepakat untuk menghidupkan Program Jumat Saganggam (Sebutir Akan Meringankan Gundah Gulana Mereka).
Program ini sederhana, kepada para orangtua diminta secara sukarela untuk menyisihkan segenggam beras sebelum memasak. Beras genggam ini dikumpulkan setiap hari Jumat oleh para siswa.
“Jumlahnya memang tidak sama, berapapun beras genggam yang dibawa siswa dikumpulkan, kemudian dijual. Hasilnya, sepenuhnya untuk membantu siswa yang membutuhkan untuk kelangsungan pendidikannya di SMPN 1 Junjung Sirih,” para Vera Herllili.

“Program Jumat Saganggam ini berangkat dari kepedulian terhadap siswa di sekolah ini,” ujar Vera Herlili.
Pada awalnya, jelas Herlili, ia melihat anak didiknya yang hanya memakai sandal ke sekolah, sementara kawannya yang lain memakai sepatu. Ketika ditanya, ternyata ia tidak memiliki sepatu karena sepatu sebelumnya sudah robek dan tidak bisa dipakai lagi.
“Saat ditelusuri, ternyata orang tua siswa bersangkutan memang belum mampu membeli sepatu baru untuk anaknya karena kondisi ekonomi,” jelas Vera Herlili.
Melihat hal itu, ia segera menyampaikan kepada majelis guru. Para guru memperlihatkan kepeduliannya, maka ada keinginan untuk mengumpulkan sumbangan sukarela.
“Berangkat dari sinilah muncul program Jumat Saganggam di SMPN 1 Junjung Sirih ini,” jelas Vera Herlili.
Program ini, papar Vera Herlili, juga sebagai wujud dari dimensi Profil Pelajar Pancasila yakni Beriman, bertaqwa dan Berakhlak Mulia dan Bergotong Royong.
“Beras segenggam ini kami kumpulkan setiap hari Jumat,” tambah Lili. Wewe
Baca juga: Pemkab Solsel Harapkan Bantuan Bisa Ringankan Ekonomi Masyarakat



Facebook Comments