Arak Bako, Tradisi Yang Masih Lestari

Solok, SuhaNews. Sebelum pesta pernikahan dihelat biasanya ada semacam tradisi Arak Bako. Di Halaban kecamatan Kubung prosesi arak Bako dilangsungkan dikediaman keluarga besar Syafarwan Sutan Parmato dan Nurhalena Minggu siang (15/03).

Putra Syafarwan yakni IPDA Dolly Septian melepas masa lajang dengan mempersunting gadis manis dari malang IPDA Hilda Safira Ayu Rulitajati.

IPDA Dolly merupakan lulusan Akpol terbaik ditahun 2018 dengan meraih bintang adymakayasa yang merupakan penghargaan tertinggi di setiap Matra yang dilantik langsung oleh presiden Jokowi di istana negara.

Sehari Sebelum acara pedang Pora dihelat, ada Tradisi Arak Bako yaitu serangkaian acara penting dalam prosesi perkawinan adat Solok. Istilah Arak Bako terdiri dari dua kata, yaitu ”arak” dan ”bako”. Kata ”arak” dalam bahasa Minangkabau termasuk ke dalam jenis kata kerja yang berarti ”bawa”. Kata ”arak” ini jika ditambah dengan awalan ”ba” akan membentuk sebuah kata ”bararak” yang berarti ”pawai”, ”parade”. Satu kata lagi yaitu ”bako”. Kata ”bako” terkategori kedalam jenis kata benda. Bako berarti saudara perempuan dari pihak ayah keluarga garis ibu dari pihak ayah.

Orang-orang yang terlibat dalam tradisi Arak Bako adalah pihak bako dari anak Daro maupun marapulai, Pihak Bako ini meliputi induak bako paling dekat, hingga yang agak jauh, bahkan bisa juga hanya sebatas hubungan tetangga terdekat dari rumah si induak bako.

Induak bako terdekat maksudnya, kakak atau adik kandung yang perempuan dari bapak/ayah si anak daro, sedangkan yang agak jauh bisa berasal dari isteri para kakak atau adik kandung dari ayah si anak daro. Para perempuan tersebut diundang dan didaulat sebagai anggota rombongan yang menyertai pihak bako si anak daro melakukan tradisi Arak Bako.

Rombongan Arak Bako ini berjalan kaki sejauh 300 m mulai dari halaman masjid Babussalam Halaban sampai ke kediaman syafarwan dengan membentuk barisan satu banjar ke belakang. Semakin banyak jumlah anggota rombongan tradisi Arak Bako maka akan terlihat semakin panjang barisan Arak Bako ini. jumlah anggota rombongan Arak Bako bisa mencapai 200 orang bahkan lebih

Ada hal yang unik dan khas dalam tradisi Arak Bako ini. Para peserta rombongan Arak Bako yang telah ”dikatoan” (diundang) pihak si pangka ini, dapat saja menyambung barisan Arak Bako ini dari rumahnya atau tempat tertentu yang diinginkannya, yang mana pada tempat itu dilalui oleh rombongan barisan Arak Bako tersebut.

Jadi ”si alek” (dalam hal ini adalah para peserta rombongan) Arak Bako tidak mesti berkumpul dulu di rumah Bako si anak daro, walaupun itu memang memungkinkan untuk dilakukan. Selain itu, keunikan dan sekaligus keramaian juga tampak pada iring-iringan Arak Bako yang turut dimeriahkan oleh alat musik tradisional, biasanya talempong, Pupuik batang padi dan gendang.

Tradisi Arak Bako dilaksanakan sejak dari rumah induak bako hingga menuju rumah orang tua si anak daro. Perarakan dilakukan dengan cara berjalan kaki di pinggir jalan raya dalam sebuah barisan berbanjar satu ke belakang. Posisi paling depan ditempati oleh anak daro.

Pada posisi kedua setelah anak daro biasanya ditempati oleh Tuo Arak Bako. Orang yang dipilih sebagai Tuo Arak Bako adalah perempuan tertua, terbijaksana, dan memiliki sifat paling bertanggung jawab di lingkungan bako si anak daro.

Kriteria pemilihan yang demikian berlaku karena pada diri si Tuo Arak Bako inilah segala beban tanggung jawab, cacian, dan pujian akan bertumpu. Si Tuo Arak Bako ini juga bertugas mengatur posisi perempuan anggota rombongannya dalam barisan berbanjar satu itu, berdasarkan kualitas barang bawaan mereka yang terdapat dalam ketiding hitam yang mereka bawa.

Perempuan yang menempati posisi barisan agak ke depan biasanya mempunyai relasi kekerabatan yang lebih dekat dengan keluarga bako. Semakin dekat relasi kekerabatan dengan keluarga bako si mempelai, maka semakin tinggi dan mahal kualitas barang bawaannya dalam ketiding, maka semakin di depan posisinya dalam barisan berbanjar satu kebelakang itu.

Barang-barang yang dibawa bako meliputi Nasi kuning singgang ayam (sebagai makanan adat), Perangkat busana. Bisa berupa bahan pakaian atau baju yang telah dijahit, selimut dll, Perangkat perhiasan emas, Perangkat bahan mentah yang diperlukan di dapur untuk persiapan perhelatan, seperti beras, kelapa, binatang-binatang ternak yang hidup, seperti ayam, Perangkat makanan yang telah jadi, baik berupa lauk pauk maupun kue-kue besar atau kecil

Setelah sampai di rumah si mempelai, semua barang bawaan dalam ketiding hitam tersebut diterima oleh salah seorang perempuan di halaman rumah anak daro. Perempuan ini menyalin semua isi ketiding hitam yang dibawa rombongan Arak Bako.

Kemudian, si perempuan yang bertugas sebagai ”panjawek baban” (penerima beban) ini langsung mengisi lagi ketiding hitam tersebut dengan nasi, gulai nangka, dan nasi lamak sebagai imbalan atau pemberian balasan dari pihak si anak pisang (keluarga si anak daro). Proses serah terima ketiding hitam ini berlangsung di halaman rumah si mempelai.

Setelah proses serah terima ketiding ini berlangsung, setiap anggota rombongan Arak Bako dijamu makan nasi oleh pihak keluarga di dalam rumah. Usai jamuan makan nasi dengan aneka sambal dan lauk pauk, para anggota rombongan Arak Bako meninggalkan rumah sambil menyerahkan kembali si mempelai kepada orang tuanya.

Hingga pada tahap ini resmilah pihak bako telah mengantar anak pisangnya secara adat istiadat ke rumahnya kembali. Artinya, secara adat istiadat yang berlaku, pihak bako telah turut merestui hajat pernikahan dan perkawinan yang akan dilaksanakan oleh anak pisangnya.

Nilai yang terkandung didalamnya mempererat hubungan keluarga ayah dengan ponakannya, karena Minangkabau memiliki hubungan matrilineal yang dekat hubungan kekerabatan dengan ibu.

penulis : Dedi editor : Moentjak

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...