Gn. Malintang, SuhaNews – Setelah berlangsung lima hari berturut, Bakajang, Alek nagari Gunung Malintang kecamatan Pangkalan Koto Baru yang rutin diadakan setiap tahun akan ditutupp oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah didampingi Bupati Lima Puluh Kota, Sabtu (29/4).
Bakajang sendiri, event tahunan yang digelar oleh pemerintah nagari Gunung Malintang yang didukung oleh Ninik Mamak dan pernah metraih penghargaan nasional pada tahun 2021 lalu.
Dikutip dari situs Kominfo Limapuluh Kota, Bakajang diambil dari kata Kajang yang menurut bahasa Melayu Kuno berarti perahu atau sampan, merupakan alat transportasi di masa lalu yang digunakan oleh niniak mamak 4 suku dari Candi Muara Takus menuju Nagari Gunuang Malintang yang melintasi perairan sungai Batang Mahat.
Pelaksanaan “Alek Bakajang” yang dilaksanakan sampai sekarang merupakan warisan nenek moyang orang Gunuang Malintang, diawal pertama kali memasuki daerah ini kemenakan manjalang, manjanguak niniak mamak dengan sarana sampan kajang (perahu yang dihiasi) dari jorong yang satu ke jorong yang lain melalui sungai Batang Mahat dan membawa satu carano lengkap dengan isinya dimasa itu, karena dulu belum adanya jalan raya seperti sekarang ini dan sebagian besar wilayah ini baru hutan rimba. Sungai Batang Mahat inilah sarana untuk mempersatukan suatu suku, satu golongan, satu kemenakan dengan kemenakan lainnya.
Acara “Alek Bakajang” menampilkan 5 buah Kajang yang telah dihias oleh setiap anak nagari masing-masing jorong yang ada di Nagari Gunuang Malintang. Tiap-tiap jorong akan menjadi tuan rumah dari acara Bakajang secara bergantian.
Selain Kajang, surau yang menjadi tempat perkumpulan niniak mamak, bundo kanduang, dan cadiak pandai juga dihias yang biasanya disebut istano. Kelima Kajang yang sudah dihias, akan diperlombakan dan dinilai setiap harinya lalu pada hari terakhir akan diumumkan pemenangnya.
Peserta dan pelaku “Alek Bakajang” adalah pemuda, niniak mamak, alim ulama, pemerintahan nagari, tokoh masyarakat, PKK, bundo kanduang, perantau dan donatur serta masyarakat Nagari Gunuang Malintang. “Alek Bakajang” dilaksanakan pada hari keempat di bulan Syawal (hari raya ke-4) selama 5 hari berturut – turut, yang dilaksanakan pada Istano Dt. Bandaro di Jorong Koto Lamo, Istano Dt. Sati di Jorong Batu Balah, Istano Dt. Paduko Rajo di Jorong Baliak Bukik/Jorong Boncah Lumpur, Istano Dt. Gindo Simarajo di Jorong Koto Mesjid, Istano Pemerintahan Nagari, Alim Ulama dan Pemuda di Jorong Baliak Bukik/Jorong Boncah Lumpur.
Arif Fitri Arman tokoh masyarakat Gunuang Malintang yang akrsab disapa Ombak Ayib kepada media menyebutkan, untuk Bakajang tahun 2023 ini, dijadwalkan akan ditutup oleh Gubernur Sumbar dan Bupati Limapuluh Kota dan diperkirakan ribuan masyarakat akan datng menyaksikannya.
Masih dari Ombak Ayib sebagaimana dilansir Infowarga.co,konsep Bakajang tahun ini tidak jauh berbeda dengan penyelenggaran tahun sebelumnya. Tetapi yang berbeda hanya pada desain serta tampilan dari masing-masing miniatur kapal pesiar.
“Sekarang, persiapan Bakajang terus dimatangkan. Kapal-kapal pesiar sudah siap dan siap akan berlayar,” ujarnya Ombak Ayyib sekaligus Caleg Partai Garuda tersebut.
Miniatur kapal-kapal pesiar itu, ujarnya, dibuat secara gotong royong oleh masing jorong. Untuk pembuatan satu miniatur kapal pesiar tersebut menghabiskan setidak hingga 30 lembar papan triplek, puluhan batang kayu berbagai ukuran. Apabila ditafsir, pembuatan satu miniatur kapal pesiar menghabiskan biaya mencapai Rp 20 hingga Rp 25 juta. Biaya itu merupakan iuran seluruh pemuda, sumbaran perantau serta bantuan lainnya.
“Alhamdulillah, Bakajang tahun ini jauh lebih meriah. Selama empat hari ini selalu ramai. Mari datang ke Gunuang Malintang,” ajak Ombak Ayib. Daus



Facebook Comments