Duski Samad : Konseling Religius Berbasis Nagari

Konseling Religius Berbasis Nagari

Oleh: Duski Samad. Refleksi Kuliah BKPI S2 UIN Mahmud Yunus, Sabtu, 10 Desember 2022.

Dalam Al Qur’an Surat Yunus ayat 57, Allah berfirman yang artinya, “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”

Ayat di atas dapat dijadikan sumber informasi. Inspirasi dan edukasi bagi pencapaian ilmu konseling religius dan penerapannya dalam menuntaskan problema keagaman anak-anak, remaja dan orang dewasa sekalipun.

Konseling religius adalah memberikan layanan konseling dengan mengunakan nilai, norma dan ajaran agama. Konseling religius menjadi penting dan strategis kedudukannya di Indonesia karena bangsa Indonesia berjagama.. Lebih lagi agama Islam sebagai penganut mayoritas bangsa Indonesia.

Konseling bentuk layanan individu, daan kelompok diperlukan bagi semua tingkat usia. Anak yang tugas perkembangan agamanya imitasi (peniruan) dapat diberikan konseling dengan konten mengemukakan kisah hetoik, pahlawan dan figur yang patut untuk ditirunya.

Kisah Nabi Yusuf as satu diantara konten konseling religius bagi anak-anak.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَـقَدْ كَا نَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۗ مَا كَا نَ حَدِيْثًا يُّفْتَـرٰى وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 111)

Tugas perkembangan remaja yang ragu-ragu dapat diberikan konseling individual berupa penguatan dengan nilai, norma dan fakta yang mudah diterima akal cerdas.
Memberi motivasi dengan kisah ashabul kahfi yang intinya setiap kesulitan pasti ada solusi,
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 10)

BACA JUGA  Mahyeldi: Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba akan Lebih Efektif Jika Dimulai dari Nagari

Sedangkan tugas perkembangan agama orang dewasa yang idealnya bermula daro kesadaran dan menjadikan agama sebagai kebutuhan maka konten konseling religiusnya bernuansa sufistik.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)

Psikologi Agama Orang Dewasa
Patut juga dimengerti bahwa psikologi orang dewasa besar pengaruh dari masa lalu, traumatis, lingkungan dan pengetahuan keagamaan, oleh karenanya agama dapat menjadi sumber kepuasan dan kebahagiaan hidupnya. Tasawuf menyodorkan latihan (riyadah) berupa dzikir, doa, muhasabah, muraqabah, wirid, suluk untuk dijadikan konten dalam konseling religius bagi orang dewasa.

Tugas perkembangan agama anak yang imitasi, remaja yang ragu-ragu dan orang dewasa berisi keyakinan, ainul yakin, sampai pada hakkul yaqin mesti dimengerti dalam memberikan layanan religius, dan layanan komperhensif.

Psikologi beragama pada dasarnya adalah motivasi, sikap, prilaku sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan
Motivasi beragama itu bagi orang dewasa adalah kebutuhan, yang implikasinya mendatang kepuasaan dan kebahagiaan.

Dalam realitasnya motivasi, sikap, prilaku dan kesadaran beragama orang dewasa tidak semua sesuai dengan tugas perkembangan psikologinya. Masalah semacam itu terjadi bila ada gap antara tugas perkembangan dengan kebutuhan beragama. Misalnya saja ada banyak orang dewasa yang beragama belum disertai dengan kesadaran beragama, ini masalah yang dapat dibantu oleh konseling religius.

Yang dimaksud dengan orang dewasa adalah dewasa bisa dari rentang umur atau fungsi. Terma dewasa juga harus dipahami sesuai psikologi agama, khususnya tugas perkembangan orang dewasa, dan kebutuhan lainnya.

BACA JUGA  Bus Yoanda Prima jadi Korban Pelemparan Batu di Sungai Dareh

Orang dewasa dalam beragama ciri-ciri sikap beragama dan menerima agama adalah logis, realistis, bertanghung jawab, luwes, terbuka. Orang dewasa yang tidak logis, cendrung dogmatis, mudah anarkis itu tengah tterjadi gangguan pada tugas perkembangan keagamaannya. Konselor relgius dapat memberikan layanan berbasis psikologi agama bagi penguatan kesadaran beragamanya.

Psikologi agsms dengan jelas menuntun orang dewasa untuk paham agama, ilmu agama dan beragama. Orang dewasa kehidupan agamanya cendrung nampak dalam kehidupan yang matang, menyeluruh, kaffah membawa kenyamanan dan kepuasaan hidupnya..

Konselirng Religius di Nagari
Dalam masyarakat beragama tak terkecuali bagi umat Islam konseling religius belum efektif dan dipahami normatif, akademis dan elitis. Mestinya tidak, justru konseling religius dibutuhkan dalam memantapkan tahapan tugas perkembangan agama anak-anak, remaja dan orang dewasa.

Tabglih akbar, Khutbah dan ceramah agama bersifat monolitik, redundent, tidak berbasis masalah, hanya sesuai mau penceramah, sejatinya tidak banyak membawa perubahan dan dapat menyelesaikan masalah.

Konselor dari BKPI dapat menginisiasi Konseling Religius berbasis Nagari untuk pemantapan motivasi, sikap, prilaku dan tugas perkembangan anak-anak, remaja dan orang dewasa di Nagari.

Program yang dapat ditawarkan layanan dasar konseling yang dimulai mapping. Penguatan motivasi, sikap, prilaku dalam menghadapi realitas. Ini dapat dilakukan dengan layanan responsif. Silakan ditindak lanjuti. 101222.

BErita Terkait :

Facebook Comments

Google News