Imam Katik Diserang Buaya Saat Hendak Berwuduk di Sungai

5871
buaya
Ilustrasi
SuhaNews. Halni gelar Imam Katik (50) warga jorong Rantau Panjang, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kab. Pasaman Barat  diserang Buaya Muara saat hendak berwudu salat subuh di sungai.

Dilansir oleh Langgam.id, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Pasaman Ade Putra mengatakan, pihaknya mendapat laporan Senin (25/5) bahwa ada seorang warga diserang buaya.

“Saat itu korban sedang mencuci kaki dan terasa ada yang menariknya. Korban langsung bereaksi dengan mengangkat kakinya dan lari ke darat,” katanya, Sabtu (302/5/2020).

Kemudian korban melihat luka bekas gigitan pada kakinya. Selanjutnya ia melaporkan kepada kepala jorong setempat yang diteruskan kepada Camat Sasak Ranah Pasisia. Mendapatkan informasi tersebut, camat selanjutnya berkoordinasi dengan BKSDA pada hari Jumat (29/5).

BKSDA langsung menurunkan empat orang personil untuk melakukan tindakan penanganan di lokasi kejadian. Pada malam hari, tim berusaha melakukan penyisiran. Namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa dilindungi tersebut.

Penanganan dilanjutkan pada hari Sabtu dengan menyisiri kedua sisi sungai Batang Pasaman sampai dengan radius 7 kilometer. Tim hanya menemukan dua ekor individu satwa berukuran 1,5 meter dengan jarak 1 kilometer dari pemukiman warga.

“Mengingat pada saat itu air sungai batang Pasaman sedang naik , tim BKSDA menghentikan sementara penyisiran dan akan dilanjutkan keesokan harinya,” katanya.

Tim juga melakukan sosialisasi dan penyuluhan terhadap warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai Batang Pasaman di jorong Rantau Panjang. Sosialisasi itu dilakukan dengan mengenalkan prilaku satwa Buaya Muara.

Tujuannya  agar meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian warga ketika beraktivitas di dalam air sungai, mengingat sungai Batang Pasaman juga merupakan habitat utama Buaya Muara.

Pihaknya juga mengimbau kepada warga yang memanfaatkan sungai untuk MCK agar membuat pengamanan mandiri disekitar tempat MCK. Pengamanan dapat berupa pagar dari bambu yang banyak terdapat disekitar pemukiman.

“Bambu tersebut dimanfaatkan dengan diberi tanda bunyi-buyian berupa kaleng diatas tiang pagar. Sehingga ketika ada satwa mendekat maka akan menimbulkan bunyi suara sebagai peringatan bagi yang berakvitas MCK,” katanya.

Sementara untuk korban sendiri, saat ini sudah mendapatkan penanganan luka dari medis setempat, bahkan ia ikut dengan tim BKSDA melakukan penyisiran.

Saat ini BKSDA masih terus melakukan pemantauan dan identifikasi lapangan untuk memastikan penyebab terjadinya interaksi negatif satwa dengan warga.

Berdasarkan hasil penyisiran sementara tidak ditemukan sarang ataupun tempat main satwa buaya yang berada dekat disekitar pemukiman warga.

editor : Moentjak sumber : Langgam.id

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...