“Karayia Paja” Tradisi Yang Masih Lestari di Nagari Gauang

"Karayia Paja" tradisi turun mandi yang masih lestari di nagari Gauang.
Gauang, sebuah nagari kecil di kaki Bukit Barisan masuk dalam administratif kecamatan Kubung masih menyimpan dan melestarikan kekayaan tradisi Minang, salah satunya Turun Mandi. Karayia Paja masih dilestarikan oleh nagari yang masuk kecamatan Kubung Kab. Solok ini.

Turun Mandi, bisa juga disebut sebagai pengenalan budaya dan silaturrahmi kekerabatan kepada sang Bayi. Karena saat turun mandi keluarga dari ayah (Bako) akan datang dan mempersembahkan “alek” buat anak yang baru lahir.

Di nagarai Gauang, turun mandi juga dikenal dengan sebutan “Karayia Paja”.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga dari pasangan Sastra HArianto, S.Pd dan Hamizah, A.Md.Keb ada Selasa (31/120 yang lalu.

Turun mandi dalam bahasa Gauangnya karayia paja adalah suatu upacara/prosesi adat /tradisi membawa bayi yang yang setelah dilahirkan beberapa waktu untuk dimandikan pertama kali diluar rumah.

Makna upacara turun mandi ini sejalan dengan tujuannya antara lain adalah untuk mensyukuri dan memberitahukan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari suatu suku/keluarga pada suatu kaum.

Prosesi ini dilaksanakan sesuai dengan aturan turun mandi di Minangkabau umumnya dan beberapa aturan khusus yang berlaku dinagari Gauang.

Aturan umum seperti untuk menuju kepemandian bayi digendong oleh orang yang berjasa membantu persalinan, memandikan bayi dipemandian umum.

Ada hidangan untuk si bayi dalam talam tradisional yang disebut dengan dulang yang berisi Batuah atau beras yang digongseng, isi kelapa yang hanya dicongkel dengan kuah santan.

Sekapur sirih lengkap dengan isisnya menjadi pelengkap seremonial adat “Karayia Paja”.

Sedangkan Untuk penerangan perjalanan memakai obor dari kain. Masing-masingnya mengandung makna filosofi yang tinggi dan berbeda-beda.

Pertama, untuk mengundang masyarakat dilakukan oleh pihak Bako. Undangan untuk perempuan dilaksanakan oleh nenek, atau saudara perempuan atau perempuan kaum suku pihak ayah sibayi. Undangan untuk laki-laki dilaksanakan oleh saudara laki-laki atau laki-laki kaum suku dari pihak ayah sibayi.

BACA JUGA  Ditemukan Selamat, Rosmaniar Berada Dihutan Sendirian

Kedua, segala sesuatu yang ditimbulkan oleh upacara karayia paja ini ditanggung oleh Bako. Mulai dari bahan mentah masakan tertentu yang akan dihidangkan seperti beras, ketan kelapa dan sebagainya. Atau secara umum dikatakan semua biaya ditanggung oleh pihak Bako.

Rumah siibu yang ditinggali sibayi hanya sebagai tempat pelaksanaan saja.

Ketiga, perempuan yang menggendong sibayi kepamandian adalah neneknya/ibu dari ayah si bayi atau saudara perempuan kandung atau sesuku/sekaum dengan ayah sibayi.

Perempuan menggendong ini biasanya tidak memakai baju, dalam arti kata tidak pakai baju biasa tetapi pakaian yang ditutupi dengan kain panjang sehingga tetap tertutup aurat dengan bagian kepala ditutup melambangkan minangkabau.

Kelima, pada acara malam pada hari sibayi dimandikan kepemandian, maka para undangannya khusus laki-laki. Yang jadi “janang” atau sipenghidang adalah ayah sibayi langsung.Karena ramainya undangan dibantu oleh saudara laki-laki atau kaum/suku ayah sibayi.

“Alhamdulillah dan terimakasih pada semua yang berkesempatan hadir malam ini, yang telah mendoakan ananda menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan agama tentunya,” ujar Sastra selaku tuan rumah.

“Mudah-mudahan menjadi awal yang baik supaya ananda Azzam Abrisam Sahar menjadi orang yang berguna dimasa depan,” tutup Satra.

penulis : Risna Delfita, S.Pd

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaBekap Tottenham, Liverpool Makin Berjaya di Puncak
Artikel berikutnyaIndonesia Tanpa Wakil di Babak Final Malaysia Masters