Sepaket Mpekmpek, Seribu Cerita
*Dari Laut Mentawai hingga Meja Makan Nusantara, 13 Tahun Mpekmpek Lamakbana Menghubungkan Rasa, Rindu, dan Harapan Bersama JNE
Oleh YURNALDI, Wartawan utama, Editorial Kompas (1995-2011), Pemimpin Redaksi SuhaNews
Senja saat langit merah tembaga, lima nelayan Pasia Nan Tigo, Kota Padang, dengan kapal bagan sudah bergerak ke perairan Samudera Hindia di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, daerah terluar dan terdepan Indonesia di pantai Barat Provinsi Sumatera Barat –sekira 120 km dari Padang. Ombak Samudera Hindia bergulung pelan.
Di tangan seorang nelayan, setiba di perairan Mentawai, seutas tali pancing sesekali menegang mengikuti tarikan kuat dari dalam laut.
Di ujung tali itu, harapan banyak orang sedang dipertaruhkan. Bukan emas. Bukan pula ikan biasa. Namanya Lemadang atau secara internasional dikenal sebagai mahi-mahi (Coryphaena hippurus). Ikan laut berukuran berat lima hingga lima belas kilogram per ekor itu menjadi buruan banyak pihak. Hotel-hotel di Sumatera Barat menyajikannya sebagai menu andalan; gulai (kapalo) ikan dan ikan goreng balado. Sebagian hasil tangkapannya dari Pelabuhan Telukbayur masuk ke pasar ekspor, terutama ke Jepang.
Namun sebagian lainnya memiliki tujuan berbeda: sebuah dapur sederhana di Perumahan Batang Kabung Asri, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di sanalah ikan Lemadang berubah menjadi Mpekmpek Lamakbana. Setelah diolah oleh owner Rozalina (57) mulai dari memelet, digiling dagingnya dan kemudian jadi mpekempek, memulai perjalanan panjang menuju berbagai kota di Sumatera Barat dan Indonesia.
Perjalanan yang selama 13 tahun terakhir tidak hanya mengirimkan makanan, tetapi makanan nomor tiga terenak di dunia itu juga mengantarkan rindu, kenangan, dan kebahagiaan sederhana kepada banyak pelanggan.
Bagi sebagian orang, mpekmpek hanyalah makanan. Namun bagi banyak perantau, pempek adalah pengingat rumah.
Ia menghadirkan kembali aroma dapur masa kecil, suara keluarga yang berkumpul di meja makan, dan kenangan kampung halaman yang kadang terasa begitu jauh.
Perasaan itulah yang menjadi fondasi lahirnya Mpekmpek Lamakbana sekitar 13 tahun lalu, atau tepatnya 2013. Ketika itu, berjualan makanan secara online masih dianggap sesuatu yang tidak biasa. Marketplace belum seramai sekarang. Media sosial masih dalam tahap awal pertumbuhan. Banyak orang bahkan ragu membeli makanan tanpa melihat barangnya secara langsung. Namun keyakinannya sederhana.
Jika surat dan dokumen bisa dikirim ke berbagai daerah, mengapa cita rasa kampung halaman tidak bisa melakukan perjalanan yang sama? Dari keyakinan itulah Mpekmpek Lamakbana mulai melayani pelanggan di luar Kota Padang. Awalnya hanya beberapa pesanan. Setelah berpromosi melalui media sosial dan media massa, kemudian bertambah menjadi puluhan. Lalu ratusan. Hingga akhirnya menjangkau berbagai provinsi di Indonesia.
Bahkan juga ada yang membawa langsung sebagai oleh-oleh untuk Duta Besar Indonesia di Afrika. “Mpekempek Lamakbana disukai dan dipujikan Pak Dubes. Enak banget, Lamaklama,” kata Sastri Bakry, yang pernah menduduki beberapa jabatan strategis di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Jabatan terakhir sebagai Widyaswara Ahli Utama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Regional Bukittinggi.
Mpekempek pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan laut (seafood) terenak nomor 3 di dunia oleh ensiklopedia kuliner TasteAtlas pada tahun 2024. Makanan khas Palembang ini mendapatkan skor 4,7 dari 5 dan berhasil menggungguli berbagai hidangan seafood lainnya dari seluruh dunia (Jakarta Globe, 3 Juli 2024).
Sebelumnya, mpekempek juga sukses masuk jajaran 5 besar seafood terenak di dunia versi TasteAtlas pada tahun 2023 dengan menempati posisi keempat. (Kompas.com, 14 Maret 2023).
Namun perjalanan itu tidak selalu mudah. Banyak produsen mpekempek memilih berbagai jenis ikan yang mudah diperoleh, seperti ikan tenggiri, ikan gabus. Mpekmpek Lamakbana memilih jalan yang berbeda.
Karena diproduksi di Kota Padang, Sumatera Barat, sejak awal owner Mpekmpek Lamakbana memanfaatkan potensi lokal, dan berkualitas ekspor.
“Sebagai orang yang berpindah pindah sampai lima kali karena mengikuti suami bertugas sebagai wartawan harian Kompas ke Bandarlampung, Palembang, Padang, Jakarta (Jabodetabek), dan kembali ke Padang, saya telah mencicipi mpekempek yang diproduksi di kota-kota tersebut. Seperti belum menemukan sensasi rasa yang khas dan paling enak. Saat di Padang kami berkunjung ke sejumlah Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Gaung, Telukbayur, dan Pasia Nan Tigo, serta di Padangpariaman, kami mendapatkan jenis ikan kualitas ekspor yang dagingnya putih dan tebal. Setelah diolah jadi mpekempek, ternyata tekstur mpekmpek tetap lembut, enak sekali, dan lezat,” cerita Rozalina, saat ditemui Selasa (9/6/2026) di Padang.
Menurut dia, karena banyak komentar pelanggan menyatakan enak nian, enak sekali, sangat enak, maka dinamailah Mpekmpek Lamakbana. Lamakbana dalam bahasa Minangkabau artinya, enak sekali. Enak banget!

Sampai sekarang, 12 tahun berjalan, Rozalina yang juga sering dipanggil Ayuk Lina mempertahankan penggunaan ikan Lemadang sebagai bahan baku utama. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Lemadang bukan ikan yang selalu tersedia setiap hari. Ia ditangkap dengan cara dipancing, bukan dengan jaring besar (pukat). Hasil tangkapannya sangat bergantung pada musim dan kondisi laut. Ada masa-masa ketika pasokan melimpah. Ada pula masa paceklik ketika nelayan kesulitan mendapatkannya.
“Pada saat seperti itu, banyak pelanggan bertanya mengapa produksi berkurang. Jawabannya selalu sama; kami tidak ingin mengganti ikan,” jelas Rozalina, yang asli wong kito asal Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Bagi Mpekmpek Lamakbana, rasa yang selama ini dikenal pelanggan lahir dari karakter khas ikan Lemadang. Mengganti jenis ikan berarti mengubah identitas produk itu sendiri. Karena itulah pengusaha kecil Rozalina lebih memilih mengurangi produksi daripada mengorbankan kualitas. Hubungan panjang dengan para nelayan menjadi kunci keberlangsungan usaha tersebut.
“Pelanggan puas, dan mengaku merasakan mpekempek yang sebenarnya, adalah kepuasan hati dan kebahagiaan bagi saya,” tandas Rozalina, ibu tiga anak dan anak sulungnya –alumnis S1 dan S2 Universitas Indonesia, kini tengah sekolah doktor (S3) di Daegu University, atas beasiswa dari Pemerintah Korea Selatan.
Ketika perahu-perahu kembali dari laut perairan Mentawai, sebagian hasil tangkapan terbaik telah memiliki tujuan yang pasti. Bukan ke hotel. Bukan ke pasar ekspor. Melainkan ke dapur produksi MPEKEMPEK Lamakbana. Di sana, ikan segar itu segera diolah agar kualitasnya tetap terjaga.
Jika ikan adalah jiwa pempek, maka cuko adalah karakternya. Mpekmpek Lamakbana tidak hanya mengandalkan kualitas ikan. Mereka juga menjaga kualitas cuko (kuah) dengan menggunakan gula enau pilihan yang menghasilkan keseimbangan rasa manis, asam, gurih, dan pedas. Perpaduan keduanya menciptakan cita rasa yang menjadi pembeda.
Keunggulan tersebut bahkan mendapat pengakuan dari Assoc. Prof. Dr. Nurul Huda, pakar teknologi pangan dan pengolahan hasil perikanan Faculty of Agriculture University Sabah Kinibalu, Malaysia yang pernah melakukan penelitian tentang mpekempek di Palembang. Prof. Dr. Nurul Huda sekarang mengajar di Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.

Setelah mencicipi Mpekmpek Lamakbana, ia memberikan penilaian yang membanggakan.
“Saya pernah meneliti mpekempek di Palembang. Mpekmpek Lamakbana memiliki karakter rasa yang berbeda karena penggunaan ikan yang lebih segar dan cuko yang sangat seimbang dari bahan gula enau yang berkualitas terbaik,” kata Nurul Huda yang pernah mendatangi Rumah Mpekmpek Lamakbana di Padang, Sumatera Barat.
Menurutnya, kesegaran ikan merupakan faktor utama pembentuk cita rasa pada produk olahan perikanan. Ikan Lemadang yang menjadi bahan baku adalah ikan yang sangat enak dan lewat. Dagingnya memiliki tekstur yang padat namun tetap lembut saat dikunyak. Serta tidak mudah hancur ketika dimasak.
“Dari perspektif teknologi pangan, kesegaran ikan merupakan faktor utama pembentuk cita rasa. Itu yang saya rasakan pada Mpekmpek Lamakbana,” jelasnya.
Bagi usaha yang lahir dari dapur sederhana di Padang, pengakuan tersebut menjadi energi untuk terus menjaga kualitas. Kualitas bukan hanya soal rasa. Ia juga menyangkut kepercayaan. Karena itu, MPEKEMPEK Lamakbana memilih untuk tidak menggunakan penyedap rasa maupun bahan kimia tambahan yang dapat mengubah karakter alami produk.
Prinsip tersebut mendapat apresiasi dari beberapa pelanggan yang berprofesi sebagai dokter. Setelah bertahun-tahun menjadi pelanggan, ia mengaku merasakan perbedaan dibanding produk sejenis yang pernah dicicipinya.
“Rasanya lebih alami. Tidak berlebihan. Sebagai dokter, saya menyukai produk yang mengandalkan kualitas bahan baku dibanding ketergantungan pada penyedap dan bahan tambahan lainnya,” ujar sang dokter yang tinggal di Lubuk Minturun, Kota Padang.
Hal senada juga dikemukakan pelanggan Dokter Rahmi Salbi Ikhwan, Direktris Medical Tunas Holding Compani dari Dumai, Provinsi Riau. “Mpekempek Lamakbana, memang benar-benar enak karena diproses dari ikan berkualitas ekspor dan ramah kesehataan. Cita rasanya tanpa bahan penyedap,” katanya.

Komitmen terhadap kualitas juga diperkuat dengan diperolehnya Sertifikat Halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Indonesia, Juni 2023. Sertifikasi itu bukan sekadar dokumen administratif.
“Ia merupakan bentuk tanggung jawab kepada pelanggan yang mempercayakan konsumsi keluarganya pada produk Mpekmpek Lamakbana yang kami produksi,” jelas Rozalina.
Namun membuat mpekempek yang enak hanyalah separuh perjalanan. Separuh lainnya adalah memastikan pempek itu tiba dalam kondisi baik di tangan pelanggan yang berada ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Makanan bukan produk biasa. Ia memiliki batas waktu. Ia membutuhkan penanganan yang baik. Ia menuntut ketepatan. Karena itu, sejak awal berkembangnya usaha, kehadiran jasa pengiriman yang andal menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan. Selama belasan tahun, JNE menjadi bagian dari perjalanan Mpekmpek Lamakbana tersebut.

“Pada awal-awal usaha pernah kecewa sekali dengan jasa pengriman lain, dan saya klaim. Ternyata hari Minggu petugas libur, seharusnya 24 jam sampai, apalagi alamat yang dituju masih di Sumatera Barat, hanya sekira enam jam perjalanan darat. Karena itu, akhirnya pindah ke JNE sampai sekarang,” jelas Owner Mpekmpek Lamakbana, Rozalina.
Dari Padang, paket-paket Mpekmpek Lamakbana bergerak menuju berbagai kota. Jakarta. Banten, Bandung. Batam, Pekanbaru, Dumai, Palembang, Bandarlampung, Kediri, dan kota-kota lainnya. Setiap paket membawa tujuan yang berbeda. Tetapi hampir semuanya membawa cerita yang sama: kerinduan.
Bahkan, pernah wartawan senior Antara Zeynita Gibbons, minta dikirimkan ke London, Inggris, tempat dia bertugas 20 tahun. Karena alasan teknis, Mpekmpek Lamakbana tak bisa dikirimkan. Akhirnya, ketika pulang ke Padang, dari Bandara Internasional Minangkabau, dia langsung ke rumah Mpekmpek Lamakbana di Batang Kabung Asri, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Suatu hari, seorang mahasiswa asal Sumatera Barat yang sedang menempuh pendidikan S3 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Lilik Zurmailis, memesan beberapa paket mpekmpek. Waktu itu sudah hitungan tahun ia tidak pulang kampung ke Padang. Kesibukan kuliah dan keterbatasan biaya membuatnya harus menahan rindu. Beberapa hari setelah paket diterima, sebuah pesan masuk. Singkat. Namun membekas.
“Waktu makan pempek ini saya jadi ingat rumah. Ingat Padang”. Kalimat itu sederhana. Tetapi mengingatkan bahwa yang dikirim bukan sekadar makanan. Yang sampai ke tangan pelanggan adalah kenangan.
Cerita lain datang dari Klaten. Seorang pelanggan memesan beberapa paket untuk ibunya yang telah lanjut usia. Sang ibu pernah tinggal cukup lama di Sumatera dan menyukai makanan berbahan ikan. Setelah paket diterima, pelanggan itu kembali menghubungi. Ibunya menyukai pempek tersebut dan meminta agar dikirimkan lagi. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah transaksi biasa.
Namun bagi Mpekmpek Lamakbana, kebahagiaan seorang ibu yang menerima kiriman dari anaknya adalah makna yang jauh lebih besar daripada sekadar angka penjualan. paket paket paket paket paket paket paket
Ada pula pelanggan yang tinggal di Jakarta. Setiap menjelang hari raya, ia hampir selalu memesan dalam jumlah besar. Sebagian untuk keluarga. Sebagian untuk sahabat. Sebagian lagi untuk kolega. Karena tidak selalu bisa pulang ke kampung halaman, ia memilih mengirimkan rasa yang mengingatkannya pada rumah.

Dalam situasi seperti itu, pempek menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi penghubung. Dan JNE menjadi jembatan yang memungkinkan hubungan itu tetap terjaga.
Tiga belas tahun perjalanan Mpekmpek Lamakbana mengajarkan satu hal penting. Sebuah usaha tidak pernah tumbuh sendirian. Di balik setiap paket yang sampai ke pelanggan terdapat banyak tangan yang bekerja bersama. Ada nelayan yang berangkat melaut sebelum matahari tenggelam dan kembali di pagi hari. Ada pemasok yang menjaga ketersediaan bahan baku. Ada pekerja yang mengolah ikan menjadi mpekempek. Ada pelanggan yang terus memberikan kepercayaan. Dan ada jaringan pengiriman yang memastikan seluruh rantai itu tetap terhubung. Masing-masing memiliki cerita berbeda. Tetapi semuanya bergerak menuju tujuan yang sama.
Hari ini, ketika sebuah paket Mpekmpek Lamakbana meninggalkan Padang, perjalanan panjang itu kembali dimulai. Perjalanan yang sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya. Di laut Mentawai. Di tangan nelayan yang memancing ikan Lemadang. Di dapur tempat adonan dibentuk. Di ruang pengemasan. Di loket pengiriman. Lalu melintasi kota demi kota hingga tiba di rumah pelanggan. paket paket paket paket paket
Mungkin isinya hanya beberapa puluhan potong pempek. Namun bagi sebagian orang, paket itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar. Ia membawa kenangan. Membawa identitas. Membawa rasa kampung halaman. Membawa kebahagiaan sederhana yang tidak bisa diukur dengan angka. Karena selama tiga belas tahun terakhir, Mpekmpek Lamakbana tidak sekadar mengirimkan makanan ke berbagai penjuru Indonesia. Ia mengirimkan cerita. Dan setiap cerita selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke hati orang yang menerimanya.**




Facebook Comments