Kopi Robusta Pabasko MTL Wanginya Bertahan Hingga Kini

Kopi Robusta Pabasko MTL Wanginya Bertahan Hingga Kini
SuhaNews. Direktur Sarana Transportasi Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Ir. Mohamad Risal Wasal, A.TD, MM, IPM adalah seorang pecinta kopi. Hatinya senang tatkala menerima bingkisan Kopi Robusta Pabasko MTL dari Wakil Walikota, Drs. Asrul. Dia yakin kopi ini, pasti punya rasa berbeda disbanding kopi lain yang pernah dicobanya.

Tahu bahwa kopi itu diproduksi di Padang Panjang, Kominfo coba mencari tahu bagaimana kopi ini diproduksi, langsung dari pabriknya yang ada di Kacang Kayu, Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur (PPT).

Kala Kominfo tiba, aroma wangi kopi menguar memenuhi ruangan berdinding beton berukuran 3,5 x 6 itu. Setelah satu jam disangrai (roasting) menggunakan mesin, 50 kg biji kopi robusta itu kemudian dihaluskan menggunakan grinder.

“Mesin roasting ini menampung 50 kg biji kopi, setelah itu dilanjutkan dengan penggilingan halus per 30 kg dengan grinder,” ungkap Farhan (25) generasi ketiga usaha penggilingan Kopi Robusta Pabasko MTL (Mitra Talang).

Usaha kopi ini satu lokasi dengan heler beras milik Farhan dan saudaranya di Kacang Kayu. Farhan bercerita, usaha kopi tersebut sudah ada sejak tahun 1967 silam, dirintis kakeknya, Basri atau lebih dikenal dengan Mak Ciri.

“Awalnya, usaha kopi dulu di Kelurahan Tanah Hitam, Kecamatan Padang Panjang Barat (PPB). Lalu pindah ke Sago, Kelurahan Ngalau (PPT) tahun 2009. Kemudian pindah ke Kacang Kayu di tahun 2014 hingga kini. Di sini lebih leluasa,” jelasnya.

Biji Kopi Robusta tersebut, lanjut Farhan, merupakan biji pilihan yang berasal dari Pincuran Tujuah, Gunung Rajo, Kabupaten Tanah Datar. Pengolahan kopi dilakukan dua sampai tiga kali dalam seminggu. “Kopi yang kami olah murni tanpa campuran, ada sekitar 2 ton dalam sebulan yang diproduksi,” katanya.

BACA JUGA  Pedagang Kuliner di Kawasan Wisata Pantai Talao Pauh Ikuti Pelatihan

Setiap hari Senin dan Jumat kopi dijual di Pasar Pusat Padang Panjang. “Dulu setiap hari pasar, kami jual di Gang Kecap, sekarang pindah ke tempat yang direlokasi Pemko di samping gedung pasar. Rata-rata kalau Jumat, lebih kurang 250 kg terjual. kalau Senin 150 kg. 1 kg kita jual 60 ribu rupiah,” lanjutnya.

Usaha Kopi yang dirintis Mak Ciri ini ternyata menjadi perhatian oleh Pemko melalui Dinas Koperasi Perdagagan dan UKM. Sebanyak 1.000 kemasan modern netto 230 gram diberikan, dengan brand nama yang tertera. Kopi itu bahkan dijadikan cendera mata sejumlah OPD yang berkunjung ke sejumlah daerah. Seperti yang dilakukan Wakil Walikota Asrul baru-baru ini.

Farhan berharap, usaha kopinya bisa terus berkembang. Tidak hanya di Padang Panjang, tapi mampu menembus pasar luar daerah. “Harapannya, produksi naik, tenaga kerja bertambah,” pungkas Farhan. (*)

Baca juga :

Facebook Comments

loading...