Kreativitas Pelaku Usaha Dalam Menyongsong Tahun 2021

Kreativitas Pelaku Usaha Dalam Menyongsong Tahun 2021

Kreativitas Pelaku Usaha Dalam Menyongsong Tahun 2021

oleh : Dedi Hermanto,  Reporter SuhaNews

Pandemi Covid-19 yang merebak di Tanah Air sejak Maret lalu telah menimbulkan dampak luas di berbagai sektor usaha. Hampir semua jenis usaha menukik bebas.

Penutupan akses (lockdown) yang diberlakukan negara-negara eksportir menyebabkan rantai pasok (supply chain) global terganggu. Alhasil, selain terkendala bahan baku, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, kesulitan memasarkan produknya.

Apalagi setelah pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah untuk meredam penyebaran virus corona.

Dunia usaha makin terjepit setelah daya beli masyarakat tergerus. Para pengusaha dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit, yakni melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk mem-PHK karyawan agar roda bisnis bisa tetap berputar dan bertahan atau menutup perusahaannya.

Kondisi yang serba sulit di masa pandemi ini telah memaksa para pengusaha mengubah strategi pemasarannya. Bahkan, tak sedikit pengusaha yang mengubah model bisnisnya.

Di bidang pemasaran, para pengusaha umumnya beralih ke layanan online, baik lewat e-commerce maupun marketplace. Sebagian pengusaha memilih perpaduan antara online dan offline (omnichannel).

Penjualan secara online terbukti lebih efektif pada era pandemi, terutama selama PSBB diterapkan secara ketat. Soalnya, penjual dan pembeli tidak perlu bertemu secara fisik.

Intinya ada pada kreativitas. Kreativitas adalah cara terbaik bagi pelaku ekonomi untuk bertahan dan selalu eksis di masa sulit seperti ini.

Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang tengah dijalankan pemerintah merupakan salah satu bukti nyata agar bisa membantu dunia usaha agar tetap bertahan ditengah pandemi ini.masyarakat sangat berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah melanjutkan program program relaksasi serta stimulus kepada dunia usaha agar masyarakat merasakan kemanfaatan nya.

BACA JUGA  SPPT PBB-P2, Kecamatan Salimpaung Tertinggi, Lima Kaum Terbesar

Selain itu penulis mengusulkan kepada pemerintah perlu adanya sebuah skema baru bagi pelaku UMKM yang dapat diakses secara mudah dan cepat serta perlu memberikan konsultansi dan pembinaan kepada para pelaku UMKM agar mereka bisa bertahan dan cepat pulih.

Apabila pemerintah tidak membantu dunia usaha untuk bangkit, pemulihan ekonomi nasional akan berjalan sangat lambat dan tentunya akan berefek pula pada pemulihan ekonomi nasional

kondisi saat ini berbeda jauh dengan krisis moneter 1997-1998. Pada 1997-1998, UMKM justru tampil sebagai penyelamat ekonomi nasional. Sebaliknya, sekarang UMKM lebih rentan kolaps akibat turunnya daya beli masyarakat dan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Jadi, UMKM sekarang memang sangat menderita. Maka selain perlunya dana darurat bagi UMKM, pemerintah pusat dan daerah harus melibatkan UMKM secara masif dalam belanja rutin pemerintah.

kue besar yang selama ini hanya dinikmati kelompok perusahaan besar dan BUMN mesti dibagi menjadi paket kecil-kecil yang dapat diakses para pelaku UMKM. Jika ini diterapkan, saya yakin ekosistem dunia usaha akan segera pulih

pentingnya penegakan hukum (law enforcement) dalam menjalankan PSBB agar masyarakat lebih disiplin melaksanakan protokol kesehatan harus menjadi perhatian serius. Jika protokol kesehatan tidak dijalankan secara ketat, pandemi akan sulit diakhiri, sehingga pemulihan ekonomi pun bakal memakan waktu lebih lama.

Sebagai negara besar, Indonesia memiliki daya tarik bagi investor, baik lokal maupun asing. Investasi bisa menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang dapat mengeluarkan Indonesia dari jurang resesi. Sejumlah lembaga internasional pun memprediksi Indonesia bisa mengalami pertumbuhan positif pada kuartal I-2021.

Untuk itu, pemerintah harus benar-benar fokus memperbaiki ekosistem dunia usaha. Jika dunia usaha pulih, ekonomi kita akan kembali ke level sebelum Covid-19.

BACA JUGA  Kolom; Bangun Kreativitas Dosen Dalam Mengajar di Masa Covid-19

Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dalam outlook terbarunya yang dirilis pada September-Desember 2020 memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran minus 3,3%. Setelah terpuruk pada 2020, ekonomi Indonesia pada 2021 diperkirakan bisa kembali ke level 5,3%.

Sementara itu, dalam proyeksi pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2020 masuk fase resesi dengan perkiraan minus 2,9% hingga minus 1,1%. Secara keseluruhan, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini minus 1,7% hingga minus 0,6%.

kita sepakat bahwa untuk mendorong ekonomi, daya beli masyarakat harus dipulihkan. Daya beli yang meningkat akan menumbuhkan permintaan (demand), sehingga dunia usaha bisa bangkit lagi. Kuncinya, daya beli masyarakat yang naik secara otomatis akan memicu pertumbuhan ekonomi.

selama pandemi, para pengusaha harus berbenah dan melakukan konsolidasi. kita optimistis masa-masa berat saat ini dapat dilalui dengan baik.

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...