Pengaruh Digitalisasi, Bisnis Cuci Cetak Foto Hilang Ditelan Zaman

Solok, SuhaNews | Pengaruh digitalisasi dan teknologi, bisnis cuci cetak foto yang biasanya ramai saat akhir tahun ajaran hingga jelang tahun ajaran baru, di komplek usaha reklame di belakang pertokoan Bundo Kanduang Kota Solok, kini berganti usaha bordir nama pakaian seragam.

Bangunan semi permanen yang terbagi dalam belasan petak kios yang sebagian besar dihuni oleh usaha reklame ini, dulu juga digabung dengan usaha cuci cetak foto hitam putih. Setiap kios dilengkapi dengan kamar gelap untuk cuci cetak foto, yang setelah selesai sebelum diserahkan ke konsumen akan dikipas-kipskan dulku atau dijemur sekitar 5 menit.

Namun seiring perkembangan teknologi, satu persatu usaha cuci cetak foto ini hilang meski usaha reklame masih bertahan meski tidak lagi semeriah dulu dengan banyaknya order dan pesanan yang kini digantikan oleh percetakan digital dan berbagai mesin yang menghasilkan produk lebih variatif dan menarik.

“Diperkirakan sejak tahun 2005-2007, bisnis cuci cetak foto hilang secara perlahan digantikan oleh foto digital. Bukan hanya cuci cetak yang dikerjakan secara manual memakai peralatan sederhana yang hilang, studio foto dan mesin cetak foto modern juga digantikan oleh foto digital yang bisa dicetak dengan printer berwarna,” ujar Aan, salah satu pelaku usaha reklame di belakang pertokoan Bundo Kanduang kota Solok ini.

Ia menceritakan, dulu mulai menjelang ujian akhir sekolah sampai awal tahun ajaran baru adalah masa-masa indah bagi pelaku usaha reklame. Karena saat itu banyak pesanan mulai dari cetak foto, membuat sampul rapor dan ijazah, membuat spanduk acara sekolah sampai membuat sablon nama untuk baju seragam siswa.

“Kalau sekarang untuk baju seragam siswa tidak lagi memakai sablon manual seperti dulu, tetapi memakai bordir menggunakan mesin bordir mini yang bisa digunakan untuk membuat nama maupun logo,” ulas Aan.

BACA JUGA  Operasi Lancar, Jarum Berhasil Dikeluarkan dari Tenggorokan Siswi MTsS PSA Sulit Air

Sedangkan untuk spanduk dan plank merk sudah digantikan oleh digital printing, yang bagi pelaku usaha reklame di komplek ini lebih bersifat menerima order dan cetakannya dikirim ke beberpa usaha yang memiliki mesin cetak digital di kota Solok.

“Namun sekarang konsumen juga sudah langsung ke percetakan yang memliki mesin tersebut, sehingga produk dan konsumen makin berkurang,” ulas Aan.

Begitu juga untuk plakat yang menjadi cendera mata, sudah digantikan oleh plakat yanbg terbuat dari Acrylic yang dipotong sesuai design menggunakan mesin cutting laser. Beda dengan plakat zaman dahulu yang dibuat menggunakan acrylic yang disablon.

“Dahulu sebagian besar produk usaha disini dikerjakan secara manual dengan insting seni yang tinggi, mulai dari stempel hingga spanduk dan plang merk, sekarang setiap kios sudah memiliki laptop atau komputer sebagai penggerak utama usaha baik untuk stempel hingga spanduk dan printer warna, meski beberapa output mengndalkan dukungan percetakan yang memiliki mesin digital. Alhamdulillah masih bisa bertahan meski tidak ramai dan kami mengenag serta merindukan masa-masa seperti jelang tahun 2000an dulu,” tutup Aan disela mengerjakan pesanan nama seragam sekolah. Moentjak

Berita Terkait : 

Facebook Comments

Google News