Lisan Penghancur Amalan Ramadhan

86
lisa
Ramadhan sejatinya menjadi momentum istimewa bagi setiap Muslim. Pada bulan ini, kesempatan beribadah dan mendulang pahala terbuka dengan sangat luas untuk mereka. 

Allah SWT mewajibkan orang-orang Mukmin untuk berpuasa sebagai sarana untuk melatih diri.Namun, tidak jarang amalan yang dilakukan seorang Muslim selama Ramadhan justru menjadi rusak karena lisannya yang tidak terjaga. Kadang kala, kata-kata yang tidak bermanfaat masih saja suka terlontar dari mulutnya. Hujatan, celaan, gibah (bergunjing), dusta, sumpah serapah, dan ber bagai macam perkataan keji lain nya seakan-akan sudah lumrah diucapkan.

Ustaz Ahmad Susilo mengupas dengan cukup detail tentang bahaya lisan tersebut. Kepada para jamaah, dai lulusan Timur Tengah itu mengingatkan bahwa perkataan yang buruk dapat menjadi penghancur atau pembatal pahala dari amalan-amalan yang dilakukan seseorang di bulan suci.

Dia mengungkapkan, ibadah Ramadhan pada hakikatnya bukan sekadar menahan lapar dan haus. Namun, juga menahan lisan dari berbagai perkataan yang tidak berguna.

“Karenanya, jangan sampai ibadah puasa kita men jadi sia-sia hanya karena kata-kata buruk yang kita ucapkan, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak,” ujar dia dalam salah satu kajian keislaman di Jakarta sebelum adanya pandemi.

Ahmad menjelaskan, meninggalkan segala bentuk perkataan buruk adalah bagian dari sunah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pun mengingatkan kepada umatnya untuk menjauhi celaan dan kata-kata kotor karena dampak yang dapat ditimbulkannya terhadap iman. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW ber sabda,

“Tidaklah disebut mukmin orang yang suka mencela, yang gemar melaknat, yang suka ber kata-kata keji, dan yang berkata-kata kotor,” (HR at-Tirmidziy: 1977).

“Hadis di atas secara tegas menyatakan bahwa mereka yang kerjaannya suka mencela dan mengucapkan kata-kata kotor belum bisa disebut sebagai orangorang yang beriman. Karena, Mukmin itu sudah pasti mampu menjaga lisannya dengan baik,” ujar Ahmad.

Dia mengatakan, orang yang selama hidupnya di dunia suka mengucapkan kata-kata buruk dan keji, bakal kesulitan memperoleh syafaat dari Rasulullah SAW di akhirat kelak. Sebab, salah sa tu syarat seorang hamba bisa men dapatkan syafaat dari Nabi SAW adalah keridhaan Allah SWT terhadap ucapan-ucapannya.

Allah SWT berfirman, “Pada hari itu tidak berguna syafaat (pertolongan), kecuali orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Mahapengasih, dan yang telah Dia (Allah SWT) ridhai perka taannya.” (QS Taha [20]: 109).

Ayat tersebut menyiratkan kepada kita tentang pentingnya untuk menjaga mulut dari per kataan yang tidak berguna, dalam kondisi apa pun. Sebab, semua ucapan yang keluar dari lisan  akan dihisab oleh Allah SWT di akhirat nanti.

Selain perkataan-perkataan keji, ucapan yang berisi kebohongan juga dapat menjadi penghancur amalan seseorang pada bulan Ramadhan. Sayangnya, masih banyak orang yang masih suka mengucapkan kata-kata dusta di bulan suci ini, baik disadari atau tidak. Mereka begitu mudah berjanji tapi tidak mau menepati janjinya tersebut. Mereka suka memberikan keterangan palsu saat diminta memberikan kesaksian di depan hukum.

Orang-orang semacam ini mungkin saja bisa selamat di dunia ini karena kebohongan yang mereka lakukan. Namun, di akhirat kelak, mereka tidak akan bisa lari dari pengadilan Allah SWT. Allah sendiri telah meng ingatkan kita melalui firman- Nya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia ka ya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika ka mu memutarbalikkan (katakata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” (QS an-Nisa [135]: 69).

Ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk selalu berkata jujur karena Allah SWT, walau pun kejujuran itu tidak disenangi oleh orang-orang terdekat kita sekalipun. Bahkan, ketika salah sa tu anggota keluarga kita terjerat kasus hukum dan kita diminta untuk menjadi saksi yang memberatkannya, kita harus tetap berkata jujur.

Sumber: Republika.co.id

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...