Krisis Kepercayaan kepada Ulama
Penulis: Yogi Imam Perdana, Lc,. M.Ag
Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada fenomena krisis kepercayaan terhadap Ulama hanya karena fatwa yang dikeluarkan (baca: Fatwa peniadaan sholat berjama’ah di mesjid) tidak begitu populer di telinga masyarakat awam.
Betapa tidak, Ulama yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengkaji kitab dari satu madrasah ke madrasah yang lain, dari satu guru ke guru yang lain tanpa peduli waktu dan kesenangannya dihabiskan hanya demi memahamkan kepada umat dan memikirkan bagaimana mereka tetap berjalan pada jalan yang benar dalam mengamalkan Agama ini.

Tak mudah memang mengkaji suatu dalil untuk melahirkan sebuah hukum syar’i. Butuh kajian bertahun-tahun, analisis terhadap dalil yang detail serta pemahaman terhadap situasi dan kondisi yang tepat. Karena bisa saja ijtihad yang dikeluarkan oleh Ulama di suatu tempat berbeda dengan Ulama di tempat yang lain.
Akal dan hati dikerahkan sedemikain rupa di waktu yang bersamaan untuk mencari hakikat dari perintah Allah SWT di dalam nash. Akal digunakan untuk mengurai berbagai dalil yang begitu rumit sehingga menjadi mudah dipahami umat, sedangkan hati pun juga digunakan apakah ijtihad yang dikeluarkan itu kira-kira diridhai oleh Allah atau tidak sehingga perlu kehati-hatian yang sangat.
Memang sebuah pekerjaan yang luar biasa menguras jiwa dan raga. Apa boleh buat semua itu dilakukan hanya demi umat ini bagaimana selalu berada di jalan yang benar.
Namun akhir-akhir ini wibawa para Ulama yang agung itu mulai terasa pudar akibat ulah beberapa oknum yang merasa sudah begitu paham dengan dalil, merasa sudah begitu paham dengan kondisi namun tanpa dia sadari yang dia kemukakan bukanlah ilmu melainkan hanya ilusi saja yang dalam istilah Agama dikenal dengan “wahm” (persangkaan yang lemah). Karena iman yang sesungguhnya itu akan seiring sejalan dengan ilmu, semakin meningkat ilmu seseorang maka akan semakin tinggi pula lah imannya.
Bagaimana iman itu akan bisa tegak berdiri kalau tanpa berlandaskan pada ilmu yang hakiki. Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu. (QS. Muhammad [47]: 19)
Agama kita mengajarkan bahwa sebelum kita melaksanakan perintah Allah SWT kita juga harus mengilmui terkait apa yang diperintahkan. Karena beragama bukan dengan rasa, bukan pula dengan ilusi serta persangkaan yang lemah tapi beragama itu musti dengan landasan ilmu.
Begitu sulit memang menjadi seorang Ulama. Beban yang dipikulnya amatlah berat. Karena beratnya tugas yang diembannya ini maka wajar rasanya bilamana Allah SWT memuliakan mereka di dalam al-Qur’an :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ…
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Kenapan Allah begitu memuliakan dan mengangkat derajat Ulama ? Ternyata kehadiran Ulama bagi umat itu amatlah penting. Coba kita renungi sebuah hadis dari baginda Rasulullah SAW yang termaktub dalam kitab “Lubabul Hadis” karya Imam Suyuti :
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ ( رواه ابن ماجه )
“Satu orang faqih itu lebih keras bagi syaithan dari pada seribu ahli ibadah.” (HR. Ibnu Majah, no : 218)
Syeikh Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya yang berjudul “Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts” menjelaskan tentang hadis ini bahwa bagi syaithan menggoda seorang yang faqih (memiliki pemahaman mendalam tentang ilmu agama) dan wara’ (menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang syari’at) jauh lebih berat dari pada menaklukkan seribu ahli ibadah yang rajin namun mengabaikn sifat wara’.
Hal itu kerena setiap kali syaithan membuka pintu hawa nafsu dan menjadiknnya indah di hati manusia, seorang yang faqih akan menyadari bahwa hal itu adalah tipu daya syaithan, lalu ia menutupnya dan membuat syaithan terpuruk dalam kegagalan, berbeda halnya dengan apa yang terjadi terhadap ahli ibadah (Nawawi al-Bantani : hal.18).
Maka hari ini kita lihat banyak orang yang dengan kemudahan teknologi menuliskan sesuatu tentang perkara Agama dengan persangkaannya. Mereka kemudian berani berkomentar tentang masalah Agama ini hanya dengan persangkaan semata bahkan yang lebih parahnya dia berani menyalahkan Ulama, na’udzubillah.
Maka perlu kita ukur bayang-bayang sepanjang badan. Sejauh mana kita pantas untuk berkata tentang masalah Agama ini, sehingga apa yang kita tuliskan dan katakan ini bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT kelak.
Akhir-akhir ini kita sudah terlalu jauh menyia-nyiakan jasa para Ulama, umat ini sudah terlalu disibukkan dengan debat kusir yang tak tentu arah. Saatnya Ulama betul-betul kita jadikan panutan untuk menjadikan kita selamat di dunia dan akhirat.
Pada situasi yang sulit seperti sekarang ini yang sangat dibutuhkan adalah kepatuhan kita kepada Ulama dan pemimpin. Tidak perlu kita memperpanjang debat yang justru mempersulit keadaan. Kita semua pasti menginginkan bagaimana agar wabah corona ini berakhir. Namun itu akan terwujud kalau kita bersama-sama tetap dalam satu komando.
Hari ini perkembangan wabah ini terus saja bertambah dari hari ke hari dan tidak berkurang jumlahnya. Semoga dengan taatnya kita terhadap komando Ulama dan pemimpin insya Allah badai virus corona ini akan segera berakhir, Amin.
Tulisan Yogi Imam Perdana. LC., MA Lainnya :



Facebook Comments