Tradisi Manampuang, Cara Unik Pembagian Daging Kurban di Sitingkai

tradisi
SuhaNews – Masyarakat Jorong Sitingkai, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam memiliki cara tersendiri dalam membagikan daging kurban.

“Kami memiliki tradisi Manampuang dalam pembagian daging kurban,” ujar Afriadil, panitia kurban Jorong Sitingkai, Selasa (20/7).

Tradisi Manampuang (menampung) ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, dan tetap bertahan hingga sekarang.

Baca juga: Pagadih Gelar Festival Budaya Tanam Padi, Wabup Agam: Pertahankan Tradisi Ini

Ba’da Dzuhur, masyarakat berjejer di sepanjang jalan Jorong Sitingkai. yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Mereka membaur jadi satu.

Di hadapan mereka, ada kantong kosong yang disiapkan setiap warga. Panitia akan mengisi kantong tersebut dengan daging kurban.

Tradisi manampuang ini merupakan aktifitas pengambilan daging kurban yang sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat setempat.

“Manampuang merupakan kearifian lokal kami di sini, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama,” Afriadil.

Pembagian daging kurban di Jorong Sitingkai ini tanpa menggunakan kupon. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat setempat mendatangi lokasi pembagian daging kurban.

“Tanpa kupon, masyarakat akan datang ke lokasi pembagian daging kurban. Ini sekaligus menjadi ajang silaturrahmi masyarakat dalam suasana Idul Adha ini,” jelas Afriadil.

Tidak hanya perwakilan, melalui Manampuang ini, anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua hadir di lokasi, Bukan saja untuk mengambil hewan kurban, juga untuk bersilaturrahmi.

Manampuang, jelasnya lagi, merupakan sistem pembagian daging yang dilakukan dengan cara dibagikan oleh panitia. Masyarakat menerimanya dengan cara menampungkan kantong masing-masing.

Di lokasi yang telah disepakati, masyarakat berdiri berjejer di dua sisi jalan. Mereka mempersiapkan kantong masing-masing, lalu panitia berjalan di tengah untuk memasukan daging ke kantong kosong itu.

tradisi“Masyarakat tidak pernah protes dengan daging yang didapat. Tidak pernah ada kericuhan saat pembagian daging kurban, sebab semua yang datang dapat jatah daging kurban sama banyak,” jelas Afriadil.

BACA JUGA  Pasar Nagari Batu Basa, Padang Pariaman Ikuti Lomba Pasar Rakyat Tingkat Sumbar

Tradisi Manampuang ini, tambah Afriadil,, dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Selain itu, juga untuk menyemarakkan perayaan Idul Adha dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

Terkadang masyarakat tidak sempat jalang manjalang (bertamu, red) ke rumah masing-masing, jadi melalui tradisi manampuang  ini, masyarakat bisa saling bertemu, bertamu dan mempererat tali silaturahmi. (*)

Baca juga: Sapi Fauzal Dt Palindih, Warga Gadut, Agam Dipilih Menjadi Hewan Kurban Presiden Jokowi

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaBKSDA Evakuasi Harimau Sumatra dari Perkebunan Kelapa Sawit di Pasaman Barat
Artikel berikutnyaMeningkat, 6 Ekor Sapi Kurban Disembelih di Kantor Kemenag Kab.Solok