Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Ada Truk Mogok Dikapal, Alika Terlambat Berlayar (bagian 2)

Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Ada Truk Mogok Dikapal, Alika Terlambat Berlayar (bagian 2)

Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Ada Truk Mogok Dikapal, Alika Terlambat Berlayar (bagian 2)

Penulis : Fendi Moentjak, perjalanan Jakarta – Solok (28-29 Januari 2021) dengan bus ANS

Trip report edisi kedua ini, akan bercerita perjalanan bus ANS aka Alika sejak memasuki pelabuhan Merak. Setelah sempat lama di pintu masuk, untuk memastikan kapal cepat sebagaimana yang biasa digunakan bus ANS, “Alika” masuk pelabuhan, namun menuju Dermaga VII.

Di dermaga VII telah berjejer puluhan truk hingga trailer untuk masuk kapal, ada juga bus dan kendaran pribadi. Melihat kondisi ini, In Combo yang memegang kemudi sempat memutar bus ke arah dermaga lain, namun dicegah oleh petugas ASDP dengan alasan ombak sedikit besar jadi tidak semua dermaga diaktifkan.

“Alika” pun bersanding dengan Putra Raflesia disamping kanannya. Bus tujuan Bengkulu ini berbalut bodi Skyliner dari karoseri Rahayu Sentosa. Di sebelah kiri berjejer pula dua unit trailer miliknya Gudang Garam dengan kepala Mercedes Benz.

Pak Kodim masuk ke kabin penumpang menyampaikan, bahwa bus baru berhenti makan nanti di rumah makan Gadang Jaya 3 di kota Bandar Jaya, untuk yang ingin makan siang disarankan membeli nasi bungkus. Diperkirakan sampai di rumah makan Gadang Jaya selepas Magrib.

Untuk menghindari ketinggalan kapal dan keamanan, penumpang dilarang naik kapal berjalan kaki, karena berbahaya, disarankan tetap didalam bus selama mengantri masuk kapal.

“Nan litak, nan alun makan, ado Ayam Balado, Gambolo Sarai bonusnyo gulai pucuak ubi,” pak Bakri pedagang nasi yang disampaikan Pak Kodim crew “Alika” naik bus ANS menawarkan dagangannya.

Dengan bahasa Minang yang fasih ia menawarkan dagangannya kepada para penumpang. Harga yang ditawarkan cukup bersahabat yakni 20-23 ribu perbungkus plus sambalnya, bahkan cukup “badunsanak” untuk area pelabuhan seperti Merak yang biasanya harga makanan asongan diatas rata-rata.

BACA JUGA  Pemkab Solsel Mediasi Persoalan Masyarakat dan Investor

“jo Ayam duo pulah ribu samo jo gambolo sarai, bonusnya gulai pucuak ubi,” begitu tawarnya kepada penumpang.

“Dendeng lambok, cancang alah habis, jo apo uda ka makan,” jawabnya ketika penulis menanya pilihan menu yang tersedia.

Rombongan kami memesan nasi dan sepakat makannya di atas kapal saja nanti. Pak Bakri adalah satu dari sedikit penjual nasi masakan Padang yang asongan. Biasanya penjual nasi Padang berbentuk warung hingga rumah makan dan restoran.

Pedagang nasi yang biasa disapa Pak Bakri, selain menjajakan nasinya dari bus ke bus juga mempromosikannya di grup media sosial PO BUS. Sehingga ia sudah dikenal oleh penumpang dan bismania, yang karena selain nasinya murah rasanya pun tidak kalah dari nasi Padang di rumah makan.

Selain penumpang bus, awak bus pun sudah menjadi langgannya. Ia terlihat akrab dengan para awak bus, terlihat dari pembicaraannya yang membahas beberapa bus dengan crew Alika. Kadang pak Bari berjualan berdua dengan anak gadisnya, atau bila bus banyak sekali masuk, mereka akan berbagi posisi.

Dalam lamanya menunggu antri masuk kapal, penumpang ANS aka Alika dimanjakan dengan sejuknya AC yang terpasang di body Patriot ini. Sehingga cuaca di sekitar pelabuhan Merak yang menjelang sore itu lumayan panas tidak terasa.

Saat menunggu antri masuk kapal, terlihat belasan orang mendorong truk jenis Hino dijalur keluar kapal. Jadi inilah penyebab, proses bongkar muat kapal menjadi lama. Ada truk mogok dipintu keluar.

Tak dapat dibayangkan, berapa energi yang dibutuhkan untuk mendorong sebuah truk berkapasitas 10 ton tersebut. Apalagi truk dalam keadaan terisi muatan penuh. Selain petugas ASDP, terlihat pula beberapa pengemudi truk membantu mendorong.

BACA JUGA  Standar Zakat Fitrah di Kab. Pasaman Ditetapkan Rp. 32.500

Setelahnya, berurutan kendaraan lain keluar dari kapal. Diantaranya 4 unit bus ANS dari Sumbar yang hendak menuju Jabodetabek dan Bandung.

Begitu diberi kesempatan masuk kapal, kendaraan yang mengantri panjang terlihat berebutan, tak obahnya antri penerimaan bantuan. Jarak antar kendaraan juga sangat dekat, akibat sama-sama bergerak dengan jarak sangat dekat, beberapa penumpang terdengar histeris.

Namun berkat kepiawaian In Combo dibelakang kemudi, “ANS aka Alika” berjalan lancar masuk kapal. Setelah parkir sempurna penumpang disilahkan turun dan naik ke deck atas untuk menikmati pemandangan selat Sunda dari atas kapal ferry Jemla yang membawa “Alika”.

Dari pukul 14.15 WIB ANS aka Alika berada di pelabuhan Merak, baru pukul 15.20 WIB dapat giliran masuk. Kapal pun berlayar pukul 16.00 WIB.

Kapal ini terbilang mewah, dari deck mobil hingga ke ke deck tiga penumpang disediakan eskalator, sehingga tidak terlalu repot untuk naik.

Sampai dilantai tiga, rombongan penulis langsung mencari posisi untuk makan siang. Kami memilih ruang terbuka dilantai tiga, sambil makan bisa menikmati angin selat Sunda.

Saat menikmati secangkir kopi dari kantin kapal, Pak Kodim pilot “Alika” datang, ketika penulis mengajaknya berfoto dengan ramah ia mempersilahkan. Kami pun sempat berbincang singkat tentang bismania dan hobi foto bus.

Rupanya Pak Kodim memperhatikan penulis pula sejak awal yang selalu jeprat-jepret mencari momen, mulai dari Pulo Gebang, setiap kali singgah di beberapa terminal hingga ke kapal.

Perjalanan dengan kapal roro Jemla memakan waktu lumayan lama, butuh sekitar dua jam dari Merak hingga merapat ke Bakauheni. Beberapa kali kapal lain terlihat mendahului. Penyebarangan kali juga diwarnai ombak yang sedikit besar.

Pukul 18.10 WIB, “Alika” keluar kapal dan melanjutkan perjalanan dengan tol Trans Sumatera. Perbedaan mulai terasa, jika sebelum ada tol, keluar dari pelabuhan kendaraan akan menanjak mengikuti liku jalan antara Bakauheni hingga Kalianda yang berlanjut hingga ke Bandar Lampung.

BACA JUGA  Trip Report ANS 31 Royal Class aka Alika, Sejuknya AC dan Lembutnya Air Suspensi (bagian 3)

Kini, keluar tol langsung belok kanan mengarah masuk tol Trans Sumatera. ANS ambil kiri menuju kota Bandar Jaya, karena perhentian pertama di pulau Sumatera berada di Bandar Jaya.

Sepanjang jalan tol, disuguhi pemandangan area pertanian. Bus melaju lumayan kencang. Begitu juga kendaraan lain. Hingga tak terasa bus keluar di exit pukul 19.30, tak lama kemudian bus pun sampai di rumah makan Gadang Jaya 3 di kota Bandar Jaya.

Didepan rumah makan telah sampai lebih, ANS dengan nomor pintu 46 (nomornya pembalap MotoGP Valentino Rosi) telah beristrirahat. Penumpang bergegas turun.

Kisah selanjutnya tayang dalam episode berikutnya, mari tunggu kelanjutan perjalanan bersama Alika dan Pak Kodim

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...