17 Ramadan, Malam Mulia, Malam Turunnya Alquran

turun
Tanggal 17 Ramadhan adalah malam mulia bagi umat Islam. Pada malam itu diturunkan Alquran lewat perantaraan malaikat Jibril yang kemudian disebut nuzulul quran.

Dalam khazanah pesantren, defenisi Alquran sederhananya adalah kalam Allah yang berbahasa Arab diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW lewat perantaraan malaikat Jibril dimulai dengan basmalah diakhiri minal jinnati wannas. Alquran terdiri 30 juz, 114 surah dan 6666 ayat.

turunAlquran adalah isim masdar dari kata qaraa-yaqrau, qiraatan, qur’anan yang bermakna bacaan. Alquran sesungguhnya adalah ketersambungan dari wahyu-wahyu sebelumnya. Substansi Alquran tidaklah bertentangan dengan substansi kitab-kitab sebelumnya. Oleh karena itu, salah satu rukun iman di dalam Islam adalah tetap mempercayai kitab-kitab yang turun sebelum Alquran.

Pun demikian sejumlah ajaran-ajaran Islam juga sudah tercantum dalam kitab sebelumnya lalu diperkuat lagi oleh Alquran. Sebutlah puasa misalnya atau nilai-nilai universal lainnya seperti ‘adalah, keadilan/kejujuran, pengesaan kepada Tuhan, keimanan pada yang gaib seperti malaikat, hari kiamat, hidup sesudah mati.

Demikian pula membaca Alquran mendapatkan pahala yang berlipat ketimbang membaca bacaan lainnya. Satu huruf dilipatkan menjadi 10 pahala. Alquran adalah pedoman dan petunjuk di dalam bersikap. Makin terbaca Alquran oleh umatnya makin substansial nilai Alquran dalam pengamalan oleh pembacanya.

Iqra (bacalah) dengan dua bacaan. Iqra bilafdzihi wa iqra bikaunihi. Yang pertama bacaan lafadz yang didengungkan setiap saatnya, yang terukur pahalanya dengan 1 huruf bacaan dilipatkan menjadi 10. Bacaan yang tak terukur pahalanya, mengalir pahala sepanjang hayat adalah bacaan kaunihi (bacaan alam).

Sesungguhnya gambaran alam dibahasakan oleh lafadz Alquran sebagai wacana dan wacana itu adalah kenyataan, itulah yang disebut ayat-ayat kauniyya, ayat yang berkaitan dengan semesta beserta seluruh jagadnya. Inspirasi ilmu pengetahuan yang lahir dari bacaan alam sebagai pengejawantahan dari bacaan lafdziyahnya.

Benarkah seseorang yang makin membaca lafadz Alquran makin kuatlah paham kauniyyahnya, pengetahuan alamnya? Tentu tidak. Maka lafadz fisik Alquran harus menjadi referensi menemukan pengetahuan yang sesungguhnya. Alquran adalah bentangan teori yang teramat luas cakupannya, kavling-kavlingnya adalah kekhususan keilmuan yang dimiliki manusia.

Oleh karena itu, kehebatan ilmu manusia hanya terukur saja pada profesionalitasnya pada satu atau dua bidang. Tetapi jika satu kehebatan (profesionalitas itu) memberi dampak yang luas bagi kehidupan manusia maka itulah pahala yang tak dapat terukur, bernilai sepanjang hayat dan berpahala sepanjang hayat dan pasca kematian (ilmun yuntaf’u bihi).

Dalam literatur-literatur sejarah turunnya Alquran, para ulama menyebutkan bahwa Alquran turun secara berangsur-angsur dalam tempo 23 tahun. Ada juga yang menyebutkan Alquran turun selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Penamaan bagi kitab suci umat Islam ini tidak lebih karena ia adalah bacaan umat Islam yang benar-benar diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW.

Alquran paling tidak memiliki beberapa nama lain. Alquran dinamakan dengan Al Furqan, pembeda/yang membedakan antara yang hak dan yang batil. Pembeda antara yang halal dan haram, berisi ajakan melaksanakan kebajikan dan mencegah atau terhindar dari kemudharatan atau kemungkaran.

turunSikap umat atau para pembaca Alquran masih belum maksimal terwujudnya nilai-nilai Alquran dalam kehidupan mereka. Seakan bacaan Alquran yang dikumandangkan sekedar pelengkap seni yang kehilangan nilai.

Alquran juga bermakna al Zikru yang bermakna peringatan. Alquran menjadi pengingat di kala umat dalam keadaan lalai, khilaf, dan lupa. Alquran mengingatkan untuk tidak memburu duniawi semata sementara melupakan akhirat. Alquran mengarahkan agar setiap orang tidak lupa daratan, tidak mabuk dan eforia kemewahan hidup. Alquran mengajarkan agar hidup penuh makna tidak berkarakter tamak dan rakus, pengingat untuk berinfaq, bersedekah, dan berzakat.

Penamaan Alquran sebagai kitab sebagai gambaran bahwa pedoman kehidupan ini telah tertera secara tulisan dalam kaedah-kaedah alam. Bukankah alam ini menjadi pelajaran tertulis bagi umat manusia.

Tuhan telah meletakkan banyak perumpamaan dalam kehidupan umat manusia dimulai dari proses penciptaan 7 susun langit dan bumi sampai penciptaan manusia dalam bentuk saripati atau hingga pelajaran berharga dari kerusakan alam akibat tangan-tangan jahil manusia. Semuanya sudah dimaktubkan dalam bahasa alam lalu dituliskan dengan bahasa tinta (makna dulunya) oleh sahabat pada masa Rasulullah SAW dalam bentuk tulisan di atas kulit-kulit binatang, pelepah korma dan lainnya.

Mushaf yang kita baca saat ini sesungguhnya jasa besar Usman bin Affan ketika diangkat sebagai khalifah ketiga. Pada masa itu, muncul banyak keresahan bahwa kalau tidak dituliskan Alquran , maka akan hilang ditelan oleh masa.

Sesungguhnya pengumpulannya sudah terjadi pada 2 masa kekhalifahan sebelumnya, Abubakar Ashshiddiq dan Umar bin Khattab. Upaya penulisan diusahakan oleh Usman bin Affan dengan membentuk tim penulis yang diketuai Said bin Tsabit. Tim inilah yang kemudian menuliskan sebanyak 6 kitab dan dikirimkan ke negeri-negeri muslim.

Alquran pada masa awalnya belum berharakat sebagaimana hari ini. Upaya memberikan harakat dan mencetak yang lebih banyak dan lebih baik dilangsungkan pada pemerintahan Dinasti Umaiyyah sekitar 30 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Peletakan surah-surah dan susunan ayatnya sebagaimana hari ini dengan 114 surah dari Al Fatihah hingga surah Annas sebelumnya sudah seringkali disampaikan oleh Rasulullah SAW dan didengarkan oleh banyak sahabat.

Alquran juga bermakna Al Huda, petunjuk. Menunjukkan kepada pembacanya bahwa Alquran adalah kumpulan petunjuk, perintah dan larangan, janji dan ancaman, perumpamaan-perumpamaan (imtitsal), sejarah kehidupan umat-umat terdahulu dan prinsip-prinsip kehidupan di masa depan.

Kesemuanya agar menjadi pedoman hidup bagi umat manusia. Nabi melangsir bahwa telah kutinggalkan 2 pusaka bagi kalian dan barang siapa yang berpegang pada keduanya, maka akan selamatlah dia. Dua pusaka itu adalah kitaballah wasunnata rasuulihi (Alquran dan hadits nabi Muhammad SAW).

Alquran bukanlah undang-undang yang bermakna monumen dan setelahnya ditinggalkan karena tidak sesuai kondisi. Perkembangan apapun dalam kehidupan ini, Alquran datang mensemangati dengan nilai-nilai luhur, etika, norma dan akhlak kemanusiaan.

Tanpa undang-undang buatan manusia sekalipun dalam Negara yang bagaimana pun majunya, Alquran telah lebih dari cukup untuk mengurai petunjuk-petunjuknya di dalam mengelola alam beserta isinya. Wallahu a’lam bishshawab. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamtithtoriq.

Nuzulul QuranOleh: Basnang Said

(Wakil Sekretaris PP ISNU 2018-2023/Kepala Subdit Pendidikan Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI)

Sumber: okezone.com

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...