Era Birokrasi Modern, Otak Dan Hati
PenulisĀ : M. Yusuf Aunur Sabri
Harapan Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, sudah menjadi keharusan dalam hal promosi jabatan di era birokrasi modern, tidak lagi didasarkan pada kedekatan personal dan ‘isi tas’, melainkan murni pada kompetensi dan prestasi.
Sang Menag menegaskan, sudah saatnya promosi jabatan diukur dari apa yang ada di otak dan hati (kompetensi dan integritas), bukan dari seberapa tebal isi tas atau seberapa dekat jarak personal dengan atasan. (Kutipan pandangan Menteri Agama RI KH. Nasaruddin Umar).
Kenapa harus demikian? Menurut opini penulis, ini setidaknya bisa meningkatkan kualitas kinerja. Ketika promosi diberikan berdasarkan kompetensi (keahlian, pengalaman, rekam jejak) dan prestasi kerja yang terukur, individu yang menempati posisi baru adalah yang paling kapabel. Hal ini secara langsung akan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Selain itu, membangun integritas. Promosi yang diwarnai praktik kolusi, nepotisme, atau transaksional (uang/gratifikasi) justru membuka pintu masuk utama korupsi dan runtuhnya integritas. Sebaliknya, sistem berbasis meritokrasi menutup celah-celah tersebut dan menumbuhkan budaya kerja yang jujur.
Dan dapat mewujudkan keadilan. Keadilan dimaksud dalam promosi, memberikan motivasi yang sehat bagi seluruh pegawai untuk berlomba-lomba meningkatkan diri dan berkarya, bukan untuk mencari muka atau koneksi. Ini adalah bentuk pengakuan sejati terhadap jerih payah dan dedikasi.
Dampak Buruk Pola ‘Kedekatan’ dan ‘Isi Tas’
Sebaliknya, praktik promosi yang hanya didorong oleh hubungan personal tanpa ada kompetensi diri yang bisa diandalkan atau gratifikasi memiliki dampak destruktif yang luas terhadap birokrasi dan pelayanan publik.
1. Kemerosotan Kinerja Organisasi (Inkompetensi): Menempatkan orang yang tidak kompeten (karena ia ‘orang dekat’ atau mampu membayar) di posisi strategis atau teknis akan menghasilkan keputusan yang salah, proyek yang gagal, dan lambatnya respons terhadap tantangan. Hal ini secara langsung merugikan masyarakat sebagai penerima layanan.
2. Runtuhnya Moral dan Motivasi Pegawai:
Pegawai yang berprestasi dan berdedikasi akan merasa frustrasi dan sia-sia melihat koleganya yang kurang kompeten namun memiliki koneksi atau uang dapat naik jabatan. Dampaknya adalah penurunan etos kerja, apatis, bahkan eksodus talenta terbaik.
3. Krisis Kepercayaan Publik:
Promosi yang terindikasi transaksional atau nepotisme menciptakan persepsi bahwa lembaga tersebut tidak dikelola secara profesional. Hal ini menghancurkan kepercayaan publik terhadap integritas dan objektivitas pemerintah atau institusi terkait.
4. Siklus Budaya Korupsi:
Pola ini memperkuat pandangan bahwa jalur tercepat menuju sukses adalah melalui cara-cara yang tidak etis, bukan melalui kompetensi. Ini menciptakan siklus yang abadi dan meracuni budaya organisasi.
Tantangan dan Solusi
Memang diakui, masa kini masih menggunakan pola-pola lama. Seolah telah mengakar dan menjadi budaya yang legal. Menjadi kebiasaan yang dinyatakan āTidak Bisa Diubah”. Toh, memang realnya seperti itu.
Inilah yang menjadi tantangan menurut lensa bidik penulis, seharusnya perlu pembenahan dan evaluasi bersama. Mengingat firman Allah “Afalaa Ta’qiluun”. Dan Allah SWT serta Rasulullah SAW juga telah MENGINGATKAN akan akhlak, ilmu dan iman.
Maka, pada era digital, birokrasi modern dan keterbukaan informasi ini, sistem penilaian berbasis meritokrasi harus diperkuat. Penilaian kompetensi harus dilakukan secara transparan, melibatkan asesmen independen, serta menggunakan indikator kinerja utama (KPI) yang jelas dan terukur. birokrasi birokrasi birokrasi
Rekam jejak sudah harus menjadi “Hudan” dalam setiap proses promosi.
Sebagai penutup opini ini, penulis mencoba menggarisbawahi, bahwa promosi jabatan adalah investasi sumber daya manusia terbaik bagi negara.
Berita terkait :
- 3 Pilar Pelayan Umat: Kewajiban, Hak, dan Integritas PPPK Kemenag
- Yusuf, Humas Kemenag Harus Faham Regulasi
- M. Yusuf Aunur Sabri ; Public Speaking
- Sebar Pesan, Perhatikan 3 Hal Ini
- Yuk ! Kenali 7 Teknik Komunikasi Persuasif
- Prahum Kemenag Pasaman Berbagi Ilmu dengan Peserta LKDT MTsN 1 Pasaman



Facebook Comments