Mabit di Muzdalifah, 100 Jemaah Kloter 9 PDG Murur dari Arafah

Makkah, SuhaNews | Setelah menyelesaikan Wukuf di Arafah, jemaah haji Solok Raya yang tergabung dalam Kloter 9 PDG bergerak ke Muzdalifah untuk melaksanakan mabit. Seratus orang jemaah yang masuk kategori lansia, resti dan gangguan kesehatan memilih murur yang difasilitasi oleh PPIH. Untuk jemaah yang megikuti murur diberikan gelang / tanda khusus oleh PPIH.

“Murur diperuntukan bagi jemaah lansia, resiko tinggi dan disabilitas beserta pendampingnya. Prosesnya, dari Arafah, jemaah akan menaiki bus kemudian melintas di di Muzdalifah setelah tengah malam, langsung menuju Mina, hal ini berujuan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan di tengah padatnya situasi. Kebijakan ini bertujuan menghindari penumpukan jemaah, dengan jemaah tetap berada di bus dari Arafah,” terang ustadz Zul Apendi, Pembimbing Ibadah Kloter 9 PDG.

Rombongan Kloter 9 PDG sampai di Muzdalifah pukul 00.40 Arab Saudi, atau disebut tengah malam di Indonesia. Jemaah memungut dan mengambil kerikil yang akan digunakan untuk melontar esok hari. Setelah dapat dan cukup, disuruh berisitrahat sebelum bergerak ke Mina persiapan melontar.

Jarak antara Arafah ke Muzdalifah tidak terlalu jauh, lebih kurang 6 km, namun padatnya jemaah haji dengan agenda yang sama membuat jarak ityu menjadi jauh dan lama. Di beberapa situs berita menyebutkan keterangan resmi Pemerintah Arab Sadui menyebut angka 1,7 juta jemaah haji tahun ini, jauh lebih banyak dari tahun 2025 lalu.

Duduk bersitirahat dibawah langit, menikmati temaran cahaya bulan dan kerlip lampu di Muzdalifah bersama ribuan jemaah dari seluruh dunia, kembali mengajarkan betapa kita terlalu kecil di dunia. mabit mabit mabit mabit

Beragam pemandangan kondisi jemaah disini, dalam lelahnya masih banyak yang menyempatkan diri bertafakur, berdoa dan ibadah lainnya. Tak sedikit pula yang menitikan air mata, membaur haru, lelah dan capek. Membayangkan apa yang terjadi saat Nabi Muhammad mengerjakan ibadah haji, tanpa tenda yang pakai AC, tanpa bus nyaman dengan AC yang dingin, atau sekedar payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari hingga kasur busa yang empuk untuk dapat merebahkan diri melepas penat.

BACA JUGA  1 Wafat, Keharuan Warnai Keberangkatan Jemaah Haji Padangpanjang Menuju Madinah

“Ini salah satu makna yang dapat kita resapi dalam diri, dari perjalanan ibadah haji ini, tak ada fasilitas yang berbeda, semua dapat perlakuan sama, dibawah langit kita rasakan diri kita kecil tak ada apa-apanya,” ujar satu jemaah yang enggan ditulis namanya seraya mengajak jemaah lain untuk memperbanyak bersyukur, karena perjalanan ibadah haji, bukan cuma kesempatan yang diberikan Allah, tetapi juga ada pesan untuk introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Mabit di Muzdalifah adalah satu tahaoan wajib dalam rangkaian ibadah haji, sehingga jika ditinggalkan tanpa uzur syar’i, jemaah harus membayar denda (dam). Waktu pelaksanaannya mulai setelah matahari terbenam (Maghrib) pada 9 Zulhijjah hingga terbit fajar pada 10 Zulhijjah.

Mabit tidak harus dilakukan semalam penuh. Jemaah sudah dianggap sah melaksanakan mabit jika berada atau melewati (murur) Muzdalifah lewat dari pertengahan malam hingga fajar, atau singgah sejenak meskipun hanya sesaat. Setibanya di Muzdalifah, jemaah melakukan shalat Maghrib dan Isya dengan cara dijamak (dikumpulkan) dan diqashar (diringkas menjadi 2 rakaat).

Jemaah disunnahkan mengumpulkan batu kerikil secukupnya di Muzdalifah untuk persiapan melontar jumrah di Mina (mulai 10 Zulhijjah dan hari-hari Tasyrik). Mengisi malam dengan beristirahat sambil memperbanyak doa, istighfar, dan talbiyah di bawah langit terbuka. Nova | Fendi

Berita Terkait :

Facebook Comments

Google News