Nilai Tawar Petani Dalam Percaturan Politik
Oleh. MT. Radjo Batuah, SP.MP.
Pesta demokrasi serentak baru usai diselenggarakan dengan damai. Kita membaca dan melihat diberbagai daerah tengah melangsungkan agenda yang sangat menentukan dalam keberlangsungan pembangunan suatu wilayah dengan khusuk dan penuh harap.
Tak ketinggalan pula Kabupaten Solok sebagai salah satu daerah dengan potensi berbagai sumberdaya turut melaksanakan dengan penuh semangat, semangat untuk perubahan tentunya.
Kemenangan salah satu paslon bukan lah hal mutlak, karena siapapun yang terpilih itulah pemimpin baru kita. Mesipun disana sini adu argumen dan perang medsos menghiasi lembaran hari hari semasa kampanye, lumrah rasanya. Yang pada intinya masyarakat sudah semakin cerdas dan kritis dalam menentukan pilihan.
Belajar dari banyak pengalaman, tidak semua pimpinan terpilih mampu mewujudkan harapan, entah kurang menguasai potensi sumberdaya yang ada atau bahkan kurang memahami dimana sang pemimpin berada. Kebutuhan suatu daerah tergantung dari seberapa besar kearifan lokal yang mendominasi, misalnya areal kawasan kota, kawasan wisata, kawasan pertanian dan sebagainya, karena ini menentukan keberlanjutan sang pemimpin untuk mempertahankan posisinya.
Bila berbicara tentang sosok petani, tentunya sebagian ada yang memandang posisi lemah dan kurang memiliki nilai tawar. Tapi siapa sangka, justru dalam perpolitikan ini nilai tawar petani lebih berharga dibanding nilai produksi yang mereka hasilkan. Tentu saja kita tidak berbicara tentang keterbatasan mereka untuk berekspresi, tapi paku mereka mampu menaikkan, mempertahankan atau bahkan menjatuhkan nasib sang pemimpin itu sendiri.
Hal ini bukanlah tidak beralasan bila seorang pemimpin daerah tak mampu menangkap aspirasi mereka yang kadang tak terserap dengan baik, terutama pada daerah yang memiliki potensi pertanian yang sangat luas. ***
Tulisan MT. Radjo Batuah, SP.MP. lainnya :



Facebook Comments