Air Wuduk di Masjid Tarok Tiba-Tiba Panas dan Berasap

Air Wuduk di Masjid Tarok Tiba-Tiba Panas dan Berasap
SuhaNews. Air sumur bor yang biasa digunakan untuk berwuduk jamaah Masjid Tarok Bukittinggi tiba-tiba panas dan mengeluarkan asap. Hal ini diketahui setelah pengurus memasang kran baru dan westafel cuci tangan sesuai SOP pencegahan Covid-19.

Dikutip dari Tagar.Id, Jhon Syukri pengurus Masjid Jamik Tarok Dipo membenarkan hal pada Sabtu (11/4).

“Saya rencananya mau cuci muka setelah membersihkan halaman masjid. Tidak tahan saya, airnya panas sekali dan berasap,” ujar Jhon memulai kisahnya di masjid Tarok Dipo.

“Biasanya air dialirkan ke tempat berwuduk wanita, karena tempat wudu direnovasi, sekaligus ada imbauan pemerintah untuk menyediakan tempat cuci tangan di tempat umum, maka sumber air dipakai untuk itu,” ujar Jhon Syukri menunjukkan empat wastafel di halaman masjid Tarok.

Jhon menambahkan, air tersebut ditemukan terasa panas pertama kali oleh satpam masjid dua hari lalu. Pengurus masjid yang bertugas membersihkan pekarangan masjid juga merasakan hal sama.

“Saya rencananya mau cuci muka setelah membersihkan halaman masjid. Tidak tahan saya, airnya panas sekali dan berasap,” katanya.

Masjid Jamik Tarok Bukittinggi ini memiliki beberapa sumber air. Ada dikhususkan untuk tempat wudu, ada juga dipakai untuk menyiram taman dan mencuci kaki di halaman masjid.

Satpam masjid, Kalek kemudian menunjukkan sumber air itu dengan menyalakan masing-masing kerannya. Benar saja, suhu air terasa berbeda-beda. Kalek menceritakan air cuci tangan di halaman masjid itu didapatinya panas saat berniat mencuci sepeda motor pada malam hari.

“Dua hari lalu, saya heran airnya mulai panas. Lalu saya biarkan dulu agak larut malam. Saya mencuci motor sekitar pukul 03.00 Wib menjelang subuh. Airnya masih terasa panas, enak dijadikan mencuci motor karena cuaca malamnya dingin,” katanya.

BACA JUGA  Gubernur Sumbar Tanggapi Imbauan Sterilisasi Masjid

Kalek menambahkan, saking panasnya air tersebut, hingga subuh tadi air bahkan mengeluarkan asap. Kalek sengaja mendiamkan informasi itu agar masyarakat tidak penasaran dan mencobanya secara ramai-ramai.

”Kalau saya viralkan pula nanti malah jadinya mengundang massa. Tadi subuh saja, tidak bisa dipakai cuci tangan. Kalau pun ada yang bisa, pasti tidak tahan lama-lama memegang airnya,” tegas Kalek.

Sayangnya, saat Tagar datang ke lokasi, air tersebut tidak lagi panas seperti yang diceritakan. Hal itu juga diakui salah satu pengurus masjid, Cokro. Menurutnya, panas air tersebut memang misterius dan menimbulkan banyak asumsi.

”Kalau kami memakai pemanas water heater, kami pengurus tidak mungkin mampu membayar tagihan listrik,” katanya.

Dikatakan karena cuaca panas, Cokro tidak pula sependapat. ”Lihat sekarang ini terik sekali matahari tapi tidak panas sama sekali. Pagi dan malam saja panasnya. Tadi sebelum Shalat Zuhur airnya normal lagi, padahal sekitar pukul 10.00 Wib masih terasa panas,” terangnya.

Jhon Syukri dan Cokro sepakat akan mempermanenkan sumber air itu untuk seluruh tempat wudhu. Mereka menilai air itu menjadi hikmah tersendiri agar jamaah yang datang rajin mencuci tangan.

“Karena panas, airnya jadi nyaman untuk mencuci tangan dengan sabun. Sangat cocok dengan himbauan pemerintah agar rajin cuci tangan,” kata Jhon diamini Cokro.

editor : Moentjak sumber : Tagar.id

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaKecelakaan Truk dan Pick Up di Kayu Tanam, 1 Meninggal Dunia
Artikel berikutnyaTerus Bertambah Sudah 43 Positif Covid-19 di Sumbar