Dua Ahli Sastra Bedah “Syair Cinta tanpa Kopi” karya Mohammad Isa Gautama

Dua Ahli Sastra Bedah “Syair Cinta tanpa Kopi” karya Mohammad Isa Gautama
SuhaNews – Dua orang ahli sastra Indonesia, Dr Free Hearty dan Narudin Pituin, akan membedah buku puisi Syair Cinta tanpa Kopi karya Mohammad Isa Gautama, penyair Indonesia yang dosen sosiologi Universitas Negeri Padang. Bedah buku yang diinisiasi DPD SatuPena Sumatera Barat dan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat ini digelar via zoom, tanggal 11 Juli mendatang, pukul 10.00 WIB.

“Bedah buku ini merupakan salah satu kegiatan pra-International Minangkabau Literacy Festival (IMLF), yang puncaknya akan digelar 22-27 Februari 2023 di Kota Padang, Kota Padangpanjang, Kota Bukittingi, dan Kabupaten Agam. Kegiatan yang didukung Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan DPP SatuPena Indonesia ini, diikuti ratusan peserta dari 11 negara,” kata Ketua DPD SatuPena Sumatera Barat, Sastri Bakry, Jumat (8/7/2022) di Padang.

SatuPena adalah organisasi penulis Indonesia yang punya kepengurusan di pusat (Jakarta) dan di seluruh provinsi di Indonesia. DPD SatuPena Sumatera Barat sebelumnya sudah menggelar sejumlah kegiatan untuk membangun literasi di Sumatera Barat dan bertekad akan menjadikan Sumatera Barat sebagai Provinsi Literasi. Untuk menggerakkan semangat literasi di Minangkabau yang kaya penulis sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai sekarang ini, SatuPena Sumatera Barat sudah melantik Bundo Literasi Ny Harneli Bahar, istri Mahyeldi Ansyarullah, gubernur Sumatera Barat.

Sastri Bakry menjelaskan, SatuPena Sumatera Barat terbuka untuk penulis genre apa saja dan dengan latar belakang apa saja. Di wadah SatuPena kita bisa berbagi pengalaman dan ilmu kepenulisan. Kita saling membesarkan dan termasuk memperjuangkan buku-buku karya penulis Sumatera Barat untuk bisa mengisi perpustakaan daerah dan perpustakaan nagari. Penulis berkarya membangun daerah, membangun negara dan bangsa, sudah seharusnya hidup sejehatera dengan pemikiran dan karya-karyanya dalam bentuk buku.

BACA JUGA  Dekranasda Paluta, Provinsi Sumatera Utara Kunjungi Kota Pariaman

“Bedah buku salah satu kegiatan untuk memotivasi dan menginspirasi penulis agar tetap intens berkarya. Sekaligus untuk membangun dan lebih memasyarakatkan Gerakan Literasi Nasional untuk perkenalkan pemikiran penulis dan kekayaan budaya Minangkabau sebagai literasi yang luar biasa,” tambah Sastri yang juga penulis, sastrawan, dan mentor/widyaswara di Kementerian Dalam Negeri.

Dihubungi secara terpisah, penyair Mohammad Isa Gautama mengatakan, buku Syair Cinta tanpa Kopi berisikan 50 puisi bertajuk syair cinta, mengabarkan persoalan cinta. Namun cinta dalam buku ini bukan cinta bernuansa asmara.

“Saya sungguh tak berdaya memandang segala riak dan gelombang yang terjadi atas nama cinta, karena ia ada sejak manusia bernyawa dan tentunya akan terus ada sampai dunia tiada. Tinggal kita membaca hal-hal kecil sebagai apa dan bagaimana semua itu (sedikit banyak) mengubah kita menjadi lebih arif memaknainya,” katanya.

Bagi penyair yang juga dosen sosiologi UNP kelahiran Padang, 21 November 1976 ini, buku Syair Cinta tanpa Kopi adalah buku kumpulan puisi ketiga. Sebelumnya Jalan Menangis Menuju Surga (basabasi, 2018) dan Bunga yang Bersemi kala Aku Sunyi (Bitread, 2019).

Menurut penyair asal Bali Wayan Jengki Sunarta, puisi-puisi karya Isa Gautama menyajikan silang sengkarut persoalan umat manusia terkini. Bukan suatu kebetulan bahwa penyair ini juga seorang dosen sosiologi, sehingga ia begitu cermat mengamati fenomena sosial yang kemudian diolahnya menjadi puisi-puisi yang srat perenungan.

“Dalam puisi-puisi cinta ini, pembaca akan dihadapkan pada persoalan kontemporer umat manusia, tragedi pandemi, ketimpangan dan ketidakadilan sosial, narasi kaum urban, politik, keserakahan manusia, kehancuran lingkungan-alam, renungan spiritualitas, dan hal-hal yang menarik perhatian penyairnya,” kata Wayan.

Pemantik diskusi, moderator bedah buku ini, Yurnaldi mengatakan, dua pembedah buku kumpulan puisi Syair Cinta tanpa Kopi ini adalah ahli sastra yang menarik dicermati pemikirannya. Narudin adalah sasrtawan, penerjemah, dan kritikus sastra Indonesia. Narudin dikenal melalui karyanya berupa puisi, prosa, terjemahan, esai, teori sastra dan kritik sastra. Dia ahli Posemiotika, pengajar , pembedah buku, dan pembicara seminar bahasa dan sastra tingkat nasional dan internasional.

BACA JUGA  Semata jilid II, Keluarga Vera Tak Menyangka Dapat Bedah Rumah

Sedangkan Free Hearty, doktor bidang sastra dan budaya, selain dikenal sebagai sastrawan dan dosen, dulunya juga penari dan wartawati. Karya-karyanya sudah banyak terhimpun dalam bentuk buku kumpulan puisi, novel, dan Direktur Eksekutif Woman for Harmony Institute (WOHAI) dan Ketua II Wanita Penulis Indonesia Pusat (WPI) ini, juga sering diundang sebagai pembicara dan membacakan karya-karyanya di berbagai pertemuan sastra dan budaya nasional, regional, dan internasional.

Jika pembaca ingin ikut join zoom meeting, berikut linknya: https://telkomsel.zoom.us/j/6582193058?pwd=WnVGSpabllvWVdVbkhvOGpZZDQzZz09 dengan meeting ID: 658 219 3058 Passcode: Museum.

 

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakWalikota Deri Asta Ajak Pemprov dan Pusat Optimalkan Pengelolaan OCMHS
Artikulli tjetërCegah Penyebaran PMK, Pemprov Sumbar Bentuk Pos Pemeriksaan Ternak