Hati-hati yang Suka Bikin “Prank”

Hati-hati yang Suka Bikin “Prank”

Oleh : Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag.

Akhir-akhir ini sebuah fenomena yang lagi nge-trend di kalangan anak muda yaitu budaya “nge-prank”. Yaitu, sebuah tindakan yang dilakukan kepada seseorang atau kelompok lain dalam bentuk kelakar, canda, maupun olok-olok. Kemudian tindakan itu direkam dan di posting di media sosial berharap banyak yang terhibur dari tindakan tersebut.

hati

Pada dasarnya tindakan “prank” ini dilakukan untuk menciptakan sebuah humor atau unsur kelucuan. Namun, pada perkembangannya, tidak sedikit tindakan “prank” yang dianggap melewati batas kewajaran, bahkan sudah menyasar kepada unsur agama. Oleh karena itu, seiring waktu tindakan “prank” ini semakin mendapat opini negatif dari masyarakat terutama terhadap tindakan yang dianggap tidak lebih dari sekadar usil, tidak bermakna, atau bahkan mengganggu ketertiban masyarakat.

Ternyata tradisi nagatif ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW oleh kalangan para munafiqun ( sebutan untuk orang yang berpura-pura mengaku muslim tapi ada misi jahat di balik itu). Dan tokoh yang populer melakukan “prank” itu adalah Wadi’ah bin Tsabit.

Sampai-sampai akibat tindakan beliau ini menyebabkan turunnya surat at-Taubah ayat 65 :

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah SWT , ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. at-Taubah [9] : 65 )

Buya Hamka di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa perang Tabuk yang ketika di tengah perjalanan ke Tabuk ada beberapa orang munafiq yang saling berbisik-bisik : Ada yang berkata : “Apakah orang semacam dia ini hendak menaklukan istana-istana di Syam dan benteng-bentengnya ? Sekali-kali tidak !.
Ini merupakan suatu pelecehan besar dari orang munafiq kepada Rasulullah SAW. Mereka memandang enteng figur dan kekuatan tentara Rasulullah SAW, mereka justru mengagungkan kebesaran dan kekuatan orang Romawi.

BACA JUGA  Ribuan Santri MDTA Meriahkan Apel Akbar Didikan Subuh di Lubuk Sikaping

Kemudian tak beberapa lama berselang, turun wahyu dari Allah SWT kepada Rasul berkenaan tentang percakapan bisik-bisik itu, yang menurut penjelasan Ibnu Katsir diantara tokohnya itu bernama Wadi’ah bin Tsabit.

Rasulullah SAW memanggil mereka supaya menghadap beliau, lalu Rasul berkata kepada mereka : “Kamu telah bercakap begini, dan kamu telah bercakap begitu (yaitu : meremehkan kekuatan Rasulullah SAW bahwa tidak akan sanggup menaklukan istana-istana di Syam dan benteng-bentengnya itu). “

Tetapi apa jawab mereka ? Dengan mudah saja mereka menjawab : “Kami hanya bersenda-gurau, kami hanya bermain-main !”.

Maka turun firman Allah SWT :

قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Katakanlah: “Apakah dengan Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. at-Taubah : 65 )

Sekarang ini cukup banyak tipe Wadi’ah modern yang suka membuat candaan agama atau parodi agama. Dia suka melecehkan Allah SWT, suka melecehkan Rasul, suka melecehkan Ulama sehingga menjadi viral dan heboh di tengah masyarakat. Namun ketika ditangkap oleh pihak yang berwajib dia berdalih cuman bikin canda-candaan saja.

Barangkali sebagian dari mereka bisa meraup keuntungan duniawi dari tindakan ini, akan tetapi apakah mereka juga sadar bahwa kerugian yang akan mereka dapatkan nanti di akhirat tak ada apa-apanya dengan keuntungan tersebut.

Ini sebuah tindakan kurang ajar dan amoral yang dosanya luar biasa besar. Karena ini menyangkut tentang wibawa agama dan kemulian Islam itu sendiri. Rasulullah SAW tidak pernah diam kalau sudah menyangkut perkara agama yang dilecehkan, sampai pernah wajah beliau memerah karena marah bercampur murka ketika tindakan itu terjadi di depan muka Beliau.

Maka ini peringatan keras buat mereka yang suka dengan hal yang demikian. Kita tidak dilarang membuat sebuah kelucuan. Tapi perlu jeli dan hati-hati kalau sudah menyangkut perkara agama. Karena ini taruhannya adalah kita bisa digolongkan Allah SWT ke dalam golongan para munafiq. Yang kalau di neraka tempatnya jauh di dasar dan lebih parah dari orang kafir, wa Na’udzubillahi min zalik. ***

BACA JUGA  Hafal Qur'an, Gadis Talang Babungo Tampil di TVRI Sumbar

BACA JUGA :

Facebook Comments

Google News