Kolom; Posisi Terbaik dalam Menghadapi Wabah

511
po
Yogi Imam Perdana. LC., MA

Posisi Terbaik dalam Menghadapi Wabah

Oleh : Yogi Imam Perdana, Lc, M.Ag.

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa sangat sulit menempatkan posisi ketika dihadapkan pada dua buah pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan. Silang pendapat yang terjadi akhir-akhir ini di tengah masyarakat akibat wabah covid 19, memang seperti itulah agaknya dinamika pola pikir yang terjadi sesungguhnya.

Kalau kita membuka sejarah, memang sejak zaman dahulu seperti itu juga dinamika yang terjadi. Kita lihat bagaimana peristiwa wabah tha’un di Amwas wilayah Syams (sekarang di barat Yerussalem Palestina), betapa para sahabat dahulu juga tidak satu kata dalam menyikapi wabah ini. Tercatat ada 3 tokoh sahabat yang diutus oleh Khalifah Umar waktu itu untuk menyelesaikan permasalahan wabah tha’un yang sangat menular dan berbahaya di wilayah tersebut.

Ketiga tokoh tersebut adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’az bin Jabbal dan Amru bin Ash. Sikap ketiga tokoh ini bisa menjadi acuan bagi kita terkait permasalahan covid 19 ini.

Ketika kita membaca kisah tha’un Amwas yang dinukil oleh Imam Muhammad al-Syaibani dalam kitabnya “Al-Atsar” ditemukan ada kalimat-kalimat berharga yang perlu juga kita renungi berkaitan dengan kondisi sekarang ini. Kalimat ini berasal dari gubernur yang ditugaskan menyelesaikan permasalahan Tha’un Amwas yang diamanahkan oleh Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah pada saat itu.

Abu Ubaidah bin Jarrah dan Mu’az bin Jabbal memiliki sikap yang hampir sama dalam menyikapi wabah ini. Ada kesan kedua sahabat ini menganggap wabah tersebut sebagai rahmat dan tidak perlu dijauhi.

Di dalam kitab tersebut beliau juga mengutip pernyataan Abu Ubaidah bin Jarrah. Beliau berkata :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجْعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَ إِنَّ أَبَا عُبَيْدةَ يَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَقْسِمَ لَهُ مِنْهُ حَظَّهُ

Artinya : “Wahai sekalian manusia sesungguhnya penyakit ini (wabah tha’un) adalah rahmat dari Tuhanmu dan dakwah dari Nabi kamu sekalian dan kematian orang-orang sholeh sebelum kalian, Sesungguhnya Abu Ubaidah meminta kepada Allah untuk memberikan jatah dari penyakit ini untuknya” (Imam Muhammad al-Syaibani, (jilid : 2), hal. 306).

Kemudian Abu Ubaidah pun ikut tertular wabah tha’un ini, sampai beliau gugur sebagai syahid karenanya. Dan setelah itu Khalifah Umar pun mengangkat sahabat mulia Mu’az bin Jabbal sebagai pengganti Abu Ubaidah.

Senada dengan apa yang diyakini Abu Ubaidah, Mu’az pun berkeyakinan yang sama, bahkan lebih ekstrem lagi, Beliau berkata :

وَإِنَّ مُعَاذ يَسْأَلُ اللهَ تعالى أَنْ يَقْسِمَ لَه لِآل مُعَاذ مِنْهُ حَظَّهُ

Artinya : “Dan sesungguhnya Mu’az meminta kepada Allah SWT agar menimpakan penyakit itu untuk keluarganya juga”.

Beliau pun akhirnya juga tertular, dan gugur sebagai syahid karenanya. Kedua gubernur ini lebih memilih untuk tawakkal menerima wabah ini dengan meminta agar mereka tertimpa oleh wabah itu karena mereka berkeyakinan itu adalah “mautu shalihin” (kematian yang akan mendapatkan pahala syahid).

Dan yang perlu digarisbawahi di sini bahwa ini merupakan ijtihad mereka dalam mengambil keputusan di tengah dua pilihan yang sulit. Mereka tentu juga memiliki pertimbangan lain dalam memutuskan, tidak bisa juga kita men-judge atau bahkan menyalahkan karena sahabat yang mulia ini sudah banyak mendengarkan hadis Nabi SAW, bahkan Abu Ubaidah merupakan salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga.

Kemudian ketika Umar bin Khattab menunjuk Amru bin Ash sebagai pengganti Mu’az, ternyata beliau tidak menempuh cara yang ditempuh oleh kedua pendahulunya ini, Beliau berkata :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجْعَ إِذَا وَقَعَ إِنَّمَا يَشْتَعِلُ اشْتِعَالَ النَّارُ فَتَحِيْلُوْا مِنْهُ فِي الْجِبَالِ

Artinya : “Sesungguhnya penyakit ini apabila terjadi maka dia akan berkobar menyala bagaikan kobaran api, maka berpencarlah kamu dengan naik ke perbukitan”.

Artinya selagi ada kayu bakar yang akan dimakannya maka dia akan terus berkobar dan menyala. Wabah ini akan senantiasa menyebar kalau tidak ada usaha untuk menghilangkannya. Jadi, manusia harus berpencar (melakukan physical distancing) untuk memutus mata rantai wabah ini, begitu analisa yang disampaikan oleh Amru bin Ash.

Akan tetapi, ungkapan beliau ini justru ditentang oleh sahabat yang lain bernama Abu Wasil al-Hazali, beliau berkata :

كَذَّبْتَ وَاللهِ ! لَقَدْ صَحِبْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَنْتَ شَرٌّ مِنْ حِمَارِيْ هَذَا ؟ قَالَ : وَاللهِ لَا أَرُدُّ عَلَيْكَ ، وَأَيَّمَ الله لَا نُقِيْمُ عَلَيْهِ ، ثُمَّ خَرَجَ وَخَرَجَ النَّاسُ مَعَهُ فَتَفَرَّقُوْا عَنْهُ وَرَفَعَهُ اللهُ عَنْهُمْ

Artinya : “Engkau pendusta, demi Allah saya telah menjadi sahabat Rasul SAW sedangkan pada saat itu engkau nilainya lebih buruk dibandingkan keledai saya ini, lalu dia menjawab : Demi Allah aku tidak mau meresponmu, demi Allah kami tidak akan membiarkannya terus menular, kemudian berpencarlah manusia dan mereka saling berpisah sampai akhirnya Allah angkat wabah tha’un itu dari mereka”.

Ternyata apa pun sikap yang kita ambil tentu akan ada respon dari orang di sekitar kita. Respon itu adakalanya dalam bentuk dukungan atau justru ada yang menjatuhkan. Meskipun keputusan yang kita ambil itu benar karena terbukti dalam waktu yang singkat wabah tha’un ini pun akhirnya hilang, tetapi tidak ada jaminan keputusan yang dipilih itu bebas dari kritikan orang lain.

Maka yang terpenting dari semua ini adalah kita harus tetap berikhtiar dan berusaha sepanjang apa yang kita yakini pilihan itu adalah benar. Karena sekecil apa pun usaha yang kita lakukan tidak akan pernah menjadi sia-sia dihadapan Allah SWT.

Akhirnya melalui tulisan ini penulis berharap agar kita semua bisa lebih luas dan terbuka dalam melihat permasalahan ini, jangan terpaku hanya kepada suatu sumber atau pendapat saja, perlu banyak membaca dan bertanya kepada yang ahli, sehingga dengan itu kita bisa lebih bijak dalam menentukan sikap dan menempatkan posisi. Karena kebodohan terhadap suatu permasalahan akan melahirkan suatu tindakan yang konyol dan kesia-siaan belaka, Wassalam.

Tulisan Yogi Imam Perdana. LC., MA Lainnya :

Facebook Comments

loading...