Bukittinggi, SuhaNews – Jajaran Kantor Kemeng Kota Bukittinggi bersama Tim BHR Kota Bukittinggi, 27 san 28 Mei 2023 lalu pukul 16.18 WIB bersama tokoh agama dan masyarakat menggelar Rasydul Kiblat di beberapa titik di tiap kecamatan Kota Bukittinggi.
Pertama Rashdul Kiblat dilaksanakan di Kecamatan Mandiangin Koto Selayan dengan titik Masjid Muslimin Pintu Kabun, kedua di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Nurul Yaqin Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang dan ketiga di Masjid Jami’ Aur Kuning Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh.
Di Kecamatan Guguk Panjang kegiatan ini di hadiri Kepala KUA, Yuridarsan, Tim BHR, Zulfikar dan Syamsul Bahri, Ketua Himpunan Da’i dan Muballigh (HDM) Kota Bukittinggi, Yasril Ramadian. Ketua MUI Kecamatan, Buya Idrus Asit, beserta para alim ulama, dan sejumlah tokoh masyarakat bersama Pengurus Masjid Masjid Nurul Yaqin Kel. Bukit Cangang Kayu Ramang.
Rashdul Kiblat ini merupakan cara mengukur arah kiblat dengan mengunakan bayangan benda yang mengarah ke Ka’bah. Rashdul Kiblat bisa dilakukan pada tanggal 27 dan 28 Juli 2023 pada pukul 16.18 WIB dengan melihat bayangan cahaya matahari dibantu tonggak istiwa’ , waterpas, penggaris dan spidol.
Pengecekan kembali arah kiblat perlu dilakukan, karena pada tanggal yang bertepatan dengan 7 dan 8 Zulkaidah 1444 Hijriah tersebut, tepatnya pada pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA matahari akan melintas tepat di atas Ka’bah.
Oleh karena itu, arah kiblat pun akan searah dengan matahari, ditandai dengan bayang-bayang benda tegak lurus yang akan membelakangi arah kiblat. Hal itu didasarkan atas tinjauan astronomi/ilmu falak.
“Rashdul Kiblat itu sendiri adalah momen ketika Matahari persis berada di atas Ka’bah, yang mana ketika itu posisi Matahari senilai lintang Kakbah, yaitu 21º 25’. Dalam kondisi ini, setiap benda tegak lurus, bayangan yang dihasilkan adalah arah kiblat di lokasi itu. Cara dan metode ini sangat efektif digunakan untuk mengakurasi arah kiblat di berbagai tempat,” terang H. Syamsul Bahri JFU Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi.
Selanjutnya kata H. Syamsul Bahri ini saat yang tepat untuk penentuan sekaligus pengecekan kembali arah kiblat dengan cara sederhana yaitu sesuaikan arah kiblat dengan arah bayang-bayang benda, pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus, bisa gunakan bandul sebagai alat bantu, pastikan permukaan dasar datar dan rata, sehingga bayang-bayang benda tidak bergelombang dan jam pengukur harus disesuaikan dengan BMKG.
Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, H. Zulfikar, Senin (29/05) mengatakan bahwa akurasi arah kiblat ini sangat penting, karena menyangkut keabsahan ibadah shalat kaum muslimin.
“Bumi berputar mengelilingi matahari. Bahkan semua planet beredar sesuai garis edarnya. Fenomena astronomi bisa saja merubah posisi. Satu derajat saja arah kiblat itu berubah, akan jauh menyimpang arah yang dituju. Sementara satu diantara syarat sah shalat adalah menghadap ke arah kiblat. Karena Allah menuntun “fawalli wajhaka syatral masjidil Haram”, artinya Arahkanlah wajahmu ke masjidil Haram (ketika shalat). Dalam kondisi normal, perlu teodolit, bantuan GPS menentukan titik koordinat dan rumus ephimeris untuk mengukur arah kiblat. Khusus 2 kali setahun rasydul kiblat lebih sederhana cara penentuan akurasinya,” terang H. Zulfikar
Selanjutnya kata Kasi Bimas Islam ini, Rasydul Kiblat dilakukan oleh Kemenag bersama masyarakat membuktikan bahwa Pemerintah hadir untuk berbagai upaya peningkatan kualitas ketaatan umat dalam menjalankan agama. Dengan rasydul kiblat ini diharapkan dapat me dorong peningkatan kualitas kehidupan beragama. (Syafrial)
Berita Terkait :



Facebook Comments