Kolom Penyuluh, Bulan Ramadhan Sarana Membangun Komunikasi dan Melatih  Kedisiplinan Diri

Kolom Penyuluh, Bulan Ramadhan Sarana Membangun Komunikasi dan Melatih  Kedisiplinan Diri

Bulan Ramadhan Sarana Membangun Komunikasi dan Melatih  Kedisiplinan Diri

oleh : Husnul Fikri, Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Hiliran Gumanti

Tanpa disadari dengan seksama pergantian hari menjadi minggu dari minggu menjadi bulan, bulan berganti menjadi tahun telah menghantarkan kita kembali berjumpa dengan salah satu bulan yang paling mulia dalam Islam yakni bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling dirindukan dan dinanti oleh umat Islam di penjuru dunia, begitupun dengan masyarakat muslim yang ada di Indonesia. Keberkahan dan kemuliaan yang terkandung dalam bulan Ramadhan menjadi salah satu daya tarik umat Islam untuk berlomba-lomba melaksanakan beragam kebaikan.

Lebih lanjut, bulan Ramadhan di istilahkan sebagai sebuah moment super khusus yang Allah sediakan bagi kaum muslimin. Hal ini disebabkan oleh keutamaan yang hanya dimiliki oleh bulan Ramadhan dan tidak dimiliki oleh bulan lainnya. beragam keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh Ramadhan, diantaranya Ramadhan merupakan syahrul qur’an (bulan Al-Qur’an), diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan, hal ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmannya :

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْتَشْكُرُونَ

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (Q.S Al-Baqarah: 185).

 Menilik lebih lanjut terkait keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan, ada ruang menarik yang semestinya diisi oleh kaum muslimin tetapi ruang tersebut sering terabaikan. Ruang tersebut tidak hanya terbatas dengan menahan lapar dan dahaga, namun berkaitan erat dengan amalan puasa Ramadhan lainnya seperti bersedekah, membaca Al-Qur’an, shalat tarawih dan witir serta yang tak kalah pentingnya ialah berusaha sekuat tenaga menghindari diri dari segala perbuatan, ucapan dan tingkah laku yang akan merusak nilai ibadah puasa. Lebih jauh bulan yang mulia ini hendaknya menjadi ajang muhasabah diri, hati, perbaikan moral dan peningkatan iman sehingga predikat taqwa yang dijanjikan Allah dalam Al-qur’an dapat diperoleh.

BACA JUGA  Kota Sawahlunto Menuju Smart City 2023 Indonesia

Di sisi lain, yang tak kalah penting ialah memanfaatkan Ramadhan sebagai sarana membangun komunikasi. Komunikasi dalam lingkup apa yang dapat dibangun? Diantaranya komunikasi dalam lingkup anggota keluarga, sanak famili, kerabat dan yang paling utama ialah membangun komunikasi dengan Allah dengan memperkuat hubungan dengan Allah melalui implementasi amal kebaikan. Komunikasi dengan anggota keluarga dapat dibangun dengan adanya pelaksanaan buka bersama, duduk bersama dan berdialog bersama, sehingga beragam persoalan yang ada di dalam keluarga dapat dibicarakan melalui momentum buka bersama. Begitu juga dengan adanya buka bersama dengan sanak famili misalnya mengundang mamak  (paman) untuk berbuka bersama, dapat meningkatkan hubungan dan memperkenalkan mamak dengan kemenakan begitupun sebaliknya.

Momentum bulan Ramadhan dapat juga menjadi sarana membangun komunikasi antar sesama yang urgensinya meningkatkan kepedulian kepada sesama, kepedulian tersebut dapat diimplementasikan dengan adanya pemberian takjil berbuka puasa di masjid secara gratis, tadarusan bersama, termasuk dengan melaksanakan shalat sunnah tarawih bersama dan juga mengikuti kajian rohani secara bersama.

Lebih lanjut, bulan Ramadhan seharusnya dijadikan sebagai ajang melatih dan meningkatkan kedisiplinan, lebih khusus ialah disiplin waktu. Dalam disiplin waktu dapat kita jumpai dalam praktik makan sahur dan berbuka puasa, yang mana sahur dan berbuka puasa harus sesuai dengan waktu yang ditentukan. Begitu juga hendaknya dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mampu menempatkan sesuatu pada tempat dan waktunya, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

Dengan demikian, momentum Ramadhan sebaiknya bukan hanya sekedar ajang masjid menjadi ramai oleh khalayak rami. Yang biasanya Masjid yang sebelas bulan sebelumnya hanya berisi ketika shalat Jum’at saja. Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar tumpahnya penjual Takjil dan makanan pelengkap berbuka puasa, mulai dari yang panas sampai yang dingin, mulai dari yang digulai, direbus hingga yang digoreng. Mulai dari makanan utama sampai makanan penutup.

BACA JUGA  Hadirkan Penyuluh Agama, DWP Kemenag 50 Kota Bahas Parenting

Esensi Ramadhan bukan hanya tayangan televisi yang semata-mata berubah haluan. Presenter acara gosip yang berkerudung walau nanggung. Iklan produk yang dihubungkan dengan sajian sahur dan buka, sinetron yang menambah embel-embel Islam. Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar bersolek menyambut Idul Fitri. Toko-toko pakaian yang mulai memasang diskon menarik, bukan hanya semata kegiatan bersih-bersih rumah yang nantinya banyak di kunjungi sanak saudara dan kerabat, tidak terfokus hanya pada tataran makanan khas lebaran yang sudah siap semenjak awal Ramadhan.  Begitu juga esensi Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus. Yang lebih utama ialah mengisi Ramadhan dengan segala amal kebaikan dan menjadikan momentum Ramadhan sebagai ajang perubahan diri, baik dari sisi kedisiplinan diri, komunikasi, moral, hati dan prilaku.

Jangan sampai ibadah puasa yang dilaksanakan hanya sebatas menahan makan dan minum saja, hal ini senada dengan perkataan sebagian ulama salaf yang mengutarakan bahwa puasa yang kurang baik adalah jika saat puasa hanya meninggalkan minum dan makan saja. Alangkah indahnya melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan apa yang diungkapkan Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, yang mengutarakan bahwa Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan perkara yang diharamkan, jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu, juga bersikap tenanglah di hari puasamu dan jangan jadikan puasamu seperti hari-hari biasa.

Pada akhirnya, catatan penting yang harus senantiasa dijadikan renungan ialah jadikanlah momentum Ramadhan sebagai ajang perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga ibadah yang dilaksanakan memberikan dampak signifikan terhadap diri. Nilai-nilai positif yang dibiasakan selama Ramadhan hendaknya tetap dipertahankan diluar ramadhan. Kun Rabbaniyyan wala takun Ramadhaniyyan, jadilah insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan hanya beribadah di bulan Ramadhan saja, karena sesungguhnya Allah itu Tuhan di seluruh waktu. **

BACA JUGA  Wabup Solok, Jon Firman Pandu Resmikan TK Nagari Sungai Janiah

Artikel ini terbit atas kerjasama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok dengan SuhaNews.co.id

Baca Juga :

penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh penyuluh 

Facebook Comments

loading...
Artikulli paraprakHari Kedua Puasa, Damkar Kab.Solok Berjibaku dengan Kebakaran Lahan di Aripan
Artikulli tjetërKomite I DPD RI Dorong Lahirnya UU terkait Penegakan Hukum Restorative Justice