Lockdown Disarankan PAPDI Sumbar Untuk Putus Mata Rantai Covid-19

Lockdown Disarankan PAPDI Sumbar Untuk Putus Mata Rantai Covid-19
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatra Barat Akmal Mukriady Hanif menyarankan diberlakukannya lockdwon
SuhaNews. Lockdwon menjadi pilihan untuk memutus mata rantai Covid-19 di Sumbar, hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatra Barat Akmal Mukriady.
Sebagaimana dilansir Langgam.id, Ia menilai, penerapan herd immunity atau kekebalan kelompok untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia tidak tepat. Tidak akan memutus rantai penularan virus secara maksimal, maka lockdown menjadi pilihan berikutnya.

Kata dia, Inggris sebagai negara yang pecaya dengan herd immunity telah merubah keputusannya. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memutuskan negaranya lockdown.

“Dan ini akan menjadi blunder terbesar dalam sejarah bangsa ini, jika tidak dilakukan intervensi seperti lockdown,” ujar Akmal Mukriady Hanif yang akrab disapa Edy Hanif, Minggu (29/03/2020).

ia mengatakan, Covid-19 ini virus baru. Mutasi akhirnya belum diketahui. Normalnya, herd immunity bisa tercapai bila populasi terinfeksi sekitar 70 persen.

Artinya, kata Edy, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta dikalikan 70 persen, hasilnya adalah 189 juta orang. Jika Case Fatality Rate (CFR) 3 persen saja rata-rata dunia, maka yang meninggal dunia karena Covid-19 sebanyak 5,67 juta jiwa.

“Apakah mau mengorbankan segitu banyak nyawa?. Itu kalau pakai CFR 3 persen. Saat ini CFR kita 8 hingga 10 persen. Coba kita hitung ada berapa yang akan meninggal karena Covid-19,” ujarnya.

Apalagi, menurutnya, Indonesia negara kepulauan. Sulit memprediksinya karena mobilitas udara dan laut yang masih sangat tinggi.

Edy mengatakan, untuk Sumbar per 29 Maret 2020,  jumlah orang dalam pemantauan (ODP) 1.883 orang. Sebanyak 1.552 orang di antaranya masih dalam pemantauan.

Sedangkan yang PDP berjumlah 49 orang. Sebanyak 28 orang di antaranya atau 57,1 persen masih dirawat. Dari 49 PDP itu, yang positif Covid-19, 8 orang atau 16 persen dan meninggal 1 orang dengan CFR 12,5 persen.

BACA JUGA  Sestama BNPB Apresiasi Penanganan Covid-19 di Padang Panjang

“Walau kasus positif di Padang baru 1 orang yang meninggal dengan kasus berat, yang memerlukan ventilator dan tidak tertolong, tetapi sebentar lagi akan banyak kasus kasus Covid-19 ini, dengan gagal nafas yang memerlukan ventilator,” ujarnya.

“Sudah siapkah rumah sakit rujukan dengan ventilator dan dokter-dokter intensive carenya?. Kalau tidak dari awal kita lakukan intervensi di hulunya, maka angka kematian Covid-19 di Sumbar akan lebih dari 10 persen . Mari kita lihat saja nanti,” sebutnya.

Edy mengatakan, banyaknya perantau yang pulang kampung akan menyebabkan jumlah ODP meningkat. Kemungkinan kasus positif Covid-19 juga akan meningkat.

“Ini yang sangat kita khawatirkan bila tidak melakukan intervensi, maka kita semua tenaga medis atau paramedis pasti akan kewalahan bila terjadi outbreak,” ujarnya. Red

Lockdown Disarankan PAPDI Sumbar Untuk Putus Mata Rantai Covid-19

Sumber : Langgam.id

Baca Juga : 

 

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaKunjungi Posko Covid-19, Ketua DPRD Perhatikan APD Paramedis
Artikel berikutnyaSetelah ASN Dirumahkan, Kemenag Kab. Solok Bentuk Satgas Covid – 19