Menanamkan Budaya Positif Kedisiplinan Melalui Kesepakatan Kelas

Menanamkan Budaya Positif Kedisiplinan Melalui Kesepakatan Kelas

Menanamkan Budaya Positif Kedisiplinan Melalui Kesepakatan Kelas

Oleh : Andra Mairoza, S.Pd, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kabupaten Tanah Datar

Kebanyakan diantara kita mehubungkan disiplin dengan hukuman. Padangan disiplin positif dengan hukuman sangat berbeda. Disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, karena hukuman menurut padangan ini merupakan salah satu alternatif terakhir dan jika perlu tidak digunakan sama sekali.

Saat ini merdeka belajar merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonsesia. Merdeka belajar dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan. Filosofi merdeka belajar mengandung makna bahwa peserta didik merdeka memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati, dan jasad sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Budaya positif merupakan upaya menamkan karakter agar disiwa dapat disiplin. Budaya positif di sekolah merupakan nilai-nilai, keyakinan dan asumsi dasar yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut dan diyakini di sekolah.

Budaya positif tersebut berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dalam waktu yang lama dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada anak. Budaya positif berisi kebiasaan-kebiasaan yang sudah disepakati bersama dan dijalankan dengan memperhatikan kodrat anak dalam hal ini kodrat alam dan kodrat zaman serta keberpihakan pada anak.

Untuk mewujudakan budaya positif ini maka sebagai pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif perlu mengimplenmentasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid.

Dalam menciptakan budaya positif, guru perlu bekerjasama dengan warga sekolah seperti pengawas sekolah, kepala sekolah, rekan-rekan guru dan murid serta melibatkan orangtua dan masyarakat sekitar. Adanya kolaborasi antara pihak sekolah dengan masyarakat dalam menjalankan buadaya positif dapat menciptakan karakter atau budaya positif pada murid.

BACA JUGA  Walikota Solok Bahas Masalah Sumber Daya Air Bersama Kementerian PUPR

Langkah-langkah awal dilakukan seorang calon guru penggerak dalam mewujudkan budaya positif adalah dengan bekolaborasi dengan siapa saja serta melakukan pengimbasan dengan sosialisasi pendidikan yang berpihak kepada murid. Untuk melakukan sosialisasi tentang tentang pendidikan yang berpihak pada murid maka ppaya yang dilakukan calon guru penggerak adalah menyampaikan gagasan kepada kepala sekolah, menyampaikan rencana kegiatan dan membuat kesepakatan dengan rekan guru, menyampaikan rencana kegiatan kepada pengawas satuan pendidikan, serta menyampaikan kegiatan kepada orang tua siswa melalui komite sekolah.*

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaDinas Perdagangan dan Transmigrasi Pessel Tampung Hasil Produksi IKM
Artikel berikutnyaSawahlunto Ingin Hidupkan Kembali Jalur Kereta Api Sawahlunto-Muaro Kalaban