Pekerja Migran Pertaruhkan Nyawa di Lautan demi Pulang Kampung

273
peker
Pekerja Migran
SuhaNew – Pekerja Migran Indonesia (PMI) memilih pulang kampung walau bertaruh nyawa daripada tetap bertahan di Malaysia selama masih menerapkan kebijakan lockdown saat pandemi Covid-19.

PMI merasakan jauh lebih berisiko bertahan di Malaysia daripada memilih balik ke kampung halaman saat menjelang Lebaran, walaupun lewat jalur ilegal dan bertaruh nyawa di laut.

Hal ini dikemukakan Muhammad Rizky (24) warga Kelurahan Kapuas Pulau Buaya, Kecamatan Teluk Nibung, Nur Ainun (25) warga Kepulauan Simardan, Kecamatan Pulau Simardan dan Muhammad Adha (25) warga Jalan Perjuangan, Kecamatan Teluk Nibung, Minggu (17/5/2020).

Menurut Muhammad Rizky, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang sudah dua tahun bekerja sebagai pegawai restoran di Malaysia, Pulau Sikincan merupakan titik berangkat favorit pekerja migran, baik itu yang legal maupun illegal, untuk balik ke kampung halaman.

“Peraturan di sana (Malaysia) sangat ketat. Masyarakat yang melanggar kebijakan lockdown akan didenda sekitar 1000 ringgit (Rp 3,4 juta), atau hukuman penjara selama enam bulan. Bandara, pelabuhan, stasiun, pusat perbelanjaan, toko maupun pasar, semua harus ditutup,” ujar Rizky.

Kondisi ini membuat pekerja migran kehilangan pekerjaan. Semua ini terjadi akibat penyebaran virus corona. Tidak ada alasan bagi pekerja migran untuk memilih bertahan di Malaysia. Apalagi pekerja ilegal seperti Rizky dan kawan-kawan. Memilih bertahan di sana justru berat.

“Beruntungnya, lokasi tempat kita bekerja tidak jauh dari kawasan perairan. Banyak tekong (nakhoda) di sana yang sudah terbiasa mengambil tumpangan pekerja illegal. Sama seperti di Tanjung Balai, Asahan dan Batubara, modusnya sebagai nelayan, yang melaut untuk menangkap ikan,” ungkapnya.

Pekerja migran lainnya, Nur Ainun menyampaikan, pemerintah Malaysia mengerahkan polisi dan militer ke jalan saat menerapkan lockdown. Aparat memantau warga di sana. Mereka bertindak tegas jika warga keluar rumah tanpa urusan yang bersifat sangat penting.

“Pengawasan mereka lemah saat lewat tengah malam. Ini dimanfaatkan oleh segelintir orang di sana membawa pekerja migran ke pesisir pantai, salah satunya Pulau Sikincan. Pulau ini daerah pesisir, yang merupakan kota kecil di Selangor. TKI tidak langsung diberangkatkan,” jelasnya.

Ditambahkan, pekerja migran diinapkan di rumah nelayan. Setelah itu, melalui pelabuhan tikus di sana, pekerja dibawa menggunakan perahu nelayan. Mereka kemudian dipindahkan lagi ke atas kapal saat berada di tengah lautan. Nelayan lain juga melakukan hal yang sama saat mengantar TKI.

“Mereka mematok harga tinggi untuk membawa TKI. Harganya pun bervariasi, kalau dirupiahkan sebesar Rp 3 juta – Rp 5 juta. Selain memanfaatkan kebijakan pemerintah yang melakukan lockdown, mereka menyadari pekerja migran mau mudik Lebaran. Makanya, tarif pun dibuat mahal,” imbuhnya.

Dia mengakui, perjalanan di lautan berisiko atas nyawa yang bisa terenggut. Namun, kapal pengangkut mempunyai alat komunikasi dengan nelayan lainnya selama di tengah lautan. Sehingga, kecil kemungkinan terjadi hal yang membahayakan. Itu bisa terjadi jika terjadi gelombang pasang.

Muhammad Adha, pekerja lainnya menyampaikan, seluruh penumpang dipindahkan lagi ke kapal tarik saat berada di tengah lautan. Proses pemindahan oleh nelayan Malaysia juga kembali dilakukan ke kapal nelayan Indonesia untuk dibawa ke Tanjung Balai, Asahan maupun Batubara.

“Perjalanan kami dari Malaysia memakan waktu selama tiga hari. Selama di tengah lautan, kami mengonsumsi bekal yang sudah disiapkan sesuai petunjuk nelayan di Malaysia. Bekal itu habis sebelum sampai. Untungnya, ada nelayan lain yang secara kebetulan berpapasan di lautan,” ujarnya.

Kapal nelayan lain memberikan bantuan makanan. Setelah berada di perairan Indonesia, orang yang mengangkut pekerja migran juga memantau patroli aparat. Mereka juga punya jaringan untuk memberikan informasi. Pembawa kapal terkadang menghentikan perjalanan saat di tengah lautan.

“Mereka juga memanfaatkan kelemahan aparat kita. Selain itu, mereka tidak mengantarkan pekerja migran sampai ke daratan. Mereka menurunkan kami di tengah hutan bakau di pinggiran pantai. Mereka langsung pergi karena takut ditangkap oleh petugas patroli,” ungkapnya.

Rizky, Ainun dan Adha mengaku bersyukur bisa sampai ke Tanjung Balai. Meski menjalani proses karantina, mereka menyebutkan petugas memberikan perhatian. Selain mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka juga diberikan makan. Pekerja migran sangat bahagia karena dikarantina hanya tiga hari.

peker“Kalau dihitung-hitung, kami memang rugi naik kapal nelayan. Tapi ini lebih baik ketimbang berada di Malaysia,” sebut Adha.

Ketiganya mempunyai rencana untuk kembali lagi ke Malaysia jika pandemi Covid-19 sudah berakhir. Ketiganya mengaku akan dihubungi oleh majikannya jika keadaan ekonomi di sana sudah berangsur membaik. Namun, ketiganya akan kembali ke Malaysia lewat jalur resmi yang diberlakukan pemerintah.

Kapolres Tanjung Balai, AKBP Putu Yudha Prawira menyampaikan, Satpol Air Polres Tanjung Balai di-back up oleh Polda Sumut, bekerja sama dengan Pangkalan Angkatan Laut dalam meningkatkan patroli di tengah lautan guna mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Banyak pelabuhan tikus di Tanjung Balai yang dimanfaatkan tekong kapal untuk mengantarkan TKI illegal. Pekerja migran itu ditelantarkan begitu saja. Petugas yang mengamankan TKI langsung memboyong, dan menyerahkannya kepada petugas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,” sebutnya.

Sumber; Beritasatu.com        Editor: Wewe

Baca Juga:

Facebook Comments

loading...