Pertashop  dalam Balutan Pertamini dan Pertamina

pertashop
Pertashop  dalam Balutan Pertamini dan Pertamina
Oleh Waitlem
Pertashop ke-200 baru saja diresmikan di Sumatera Barat. Lokasinya di Bukit Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Ini merupakan bagian dari Energizing You, yang  berarti Pertamina selalu berusaha untuk melayani masyarakat dan memberikan energinya untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Sales Area Manager (SAM) Pertamina Retail Sumbar I Pertamina, Made Wira Pramarta mengatakan bahwa Pertashop resmi izin Pertamina. Berbeda dengan Pertamini yang merupakan dagang ketengan dengan ukuran serta harga yang berbeda. Pertamini bukan menjadi bagian dari Pertamina.

“Saat ini, sudah ada 200 Pertashop di Sumatera Barat. Semuanya untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari SPBU, sehingga semua dapat merasakan kesetaraan harga dengan ukuran yang jauh lebih akurat, dibandingkan ketengan, di mana banyak orang menyebut Pertamini. Padahal yang resmi Pertashop, sementara Pertamini bukan Produk Pertamina, melainkan hanya pedagang ketengan,” tegas Made Wira Pramarta (Singgalang, 27 Oktober 2021).

Baca juga: Andy F Noya Dorong Wisudawan Universitas Pertamina Siapkan Bekal Hadapi Tantangan Global

Pertashop tumbuh dan berkembang bak jamur di musim hujan. Dalam setahun terakhir Pertamina melalui moto Energizing You, seakan menjawab keinginan masyarakat untuk mendapatkan kesetaraan harga atau BBM satu harga. Kalau selama ini harga standar hanya bisa didapatkan di SPBU atau di daerah perkotaan, kini hingga ke pelosok desa dan nagari pun ada kesamaan harga jual BBM.

Pandemi Covid-19  yang melanda Indonesia, tidak menjadi kendala bagi Pertamina untuk memberikan pelayanan  maksimal. Pandemi ini justru dijadikan tantangan bagi Pertamina untuk lebih kreatif dan inovatif. Pertashop merupakan inovasi yang patut diacungi jempol karena membuka peluang usaha bagi masyarakat. Apalagi usaha ini bisa dikelola oleh UD, Koperasi, CV, PT atau badan usaha lainnya. Bisa juga dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Pertashop Vs Pertamini

Kehadiran Pertashop di pelosok desa dan/atau jauh dari SPBU justru  menjadi batu sandungan bagi pedagang ketengan, yang selama ini menguasai pangsa pasar di pedesaan. Selama bertahun-tahun, pedagang ketengan menjual BBM di atas harga normal. Karena tidak ada pilhan, tetap dibeli oleh pengguna kendaraan bermotor.

pertashopPertamini hadir lebih awal daripada Pertashop. Masyarakat berpikir Pertamini bagian dari Pertamina karena perangkat yang digunakan mirip Perangkat Pertashop (totem, tangki, dispenser berikut instalasinya) atau perangkat  yang ada di SPBU. Karena itulah, Pertashop berada di antara Pertamini dan Pertamina.

BACA JUGA  Sebanyak 20.574 Keluarga Terima Bantuan Program Sembako

Pertashop dipersiapkan secara matang, mulai dari Perangkat Pertashop, seperti totem, tangki, dispenser berikut instalasinya disiapkan oleh Pertamina. Kemudian petugas operator yang akan melayani konsumen diberi pelatihan.  Bahkan selama 1 minggu pertama dilakukan pendampingan. Mereka juga diberikan pelatihan magang di SPBU Pertamina terdekat.

Bukan ini saja, Pertamina juga memberikan pelatihan operator secara online dalam mengoperasikan SPBU dan penggunan alat pemadam sesuai SOP. Pertamina juga akan melakukan pembinaan secara periodik. Tidak salah jika masyarakat mengatakan Pertashop sebagai SPBU mini.

Pertamini pun seringkali dikatakan sebagai Pertamina Mini. Padahal seperti ditegaskan Sales Area Manager (SAM) Pertamina, Wira, Pertamini  bukan bagian dari Pertamina. Namun karena kehadirannya lebih awal, maka masyarakat pun menilai Pertamini juga bagian dari Pertamina. Jadilah Pertashop berada di antara Pertamini dan Pertamina.

Perlahan masyarakat mulai menyadari Pertamini bukanlah bagian dari Pertamina. Kesadaran ini mulai tumbuh setahun terakhir, ketika Pertashop mulai tumbuh dan berkembang dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Pertashop yang menyediakan Pertamax dan Dexlite memiliki harga sama dengan SPBU, sementara Pertamini memiliki harga jual BBM lebih tinggi daripada harga SPBU karena memang termasuk kategori pedagang ketengan yang menggunakan tangki dan dispenser yang mirip SPBU.

Serbuan Jeriken

Tingginya harga BBM selama ini karena nyaris semua SPBU diserbu pedagang ketengan atau pedagang eceran. SPBU seperti tidak berdaya dalam menghadapi serbuan jeriken. Spanduk larangan pembelian BBM dengan jeriken terpampang di beberapa SPBU, tetapi nyatanya jeriken pedagang eceran itu tetap terisi. Mereka tetap saja mendapatkan BBM, sesuai dengan kebutuhan dagangnya.

Baca juga: Inovasi Metode Pengembangan Obat Kanker Payudara karya Mahasiswa Universitas Pertamina

Pertashop yang hadir untuk mengatasi kelangkaan BBM dan kesetaraan harga, tidak luput dari serbuan jeriken. Masyarakat tidak mengetahui, apakah boleh pedagang eceran membeli pertamax dengan jeriken dalam jumlah banyak di Pertashop atau tidak. Karena tidak ada spanduk, brosur maupun papan pengumuman di sekitar Pertashop tersebut, yang mengatur hal ini.

Seorang pedagang ketengan mengatakan bahwa ia berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk mendapatkan BBM. Tidak menggunakan jeriken, juga tidak menggunakan tangki modivikasi, tetapi membeli BBM dengan memenuhi tangki mobilnya, kemudian  dipindahkan ke jeriken dan kembali ke SPBU untuk mengisi tangki mobilnya.

“Biasanya, saya dua atau tiga kali sehari mengisi penuh tangk mobil ini,” ujarnya, saat bertemu di sebuah SPBU.

BACA JUGA  Pertamina Lubricants dan Universitas Pertamina Sinergi Riset Inovasi Industri

Sekalipun sejak terjadi kelangkaan BBM dan antrian panjang kendaraan di SPBU, operator SPBU mencatat nomor polisi kendaraan dan nomor ponsel, tetapi hingga sekarang tidak ada penjelasan detail untuk apa semua itu dilakukan. Di samping itu, pertukaran shif petugas SPBU menjadi peluang untuk mengisi BBM dengan kendaraan yang sama.

Pertashop yang belum lama hadir pun sudah diserbu oleh jeriken pedagang eceran. Namun tidak ada pencatatan nomor polisi kendaraan dan nomor ponsel saat mengisi BBM di Pertashop., termasuk saat mengisi jeriken.

Kiranya Pertamina perlu mengawasi dan melakukan razia atau sidak (inspeksi mendadak) ke sejumlah SPBU dan Pertashop ini. Ini memang menjadi dilema. Di depan SPBU sekalipun kita akan melihat pedagang eceran ini memajang BBM dalam jumlah banyak. Sementara di SPBU terlihat antrian kendaraan bermotor mengular, hingga memacetkan lalu lintas.

Ketika tidak ada antrian, berarti ada papan pengumuman kecil yang mengatakan ‘BBM dalam perjalanan’.

Satu dua pengemudi truk dan kendaraan pribadi, terpaksa membeli ke pedagang eceran, sekalipun dengan harga yang lebih tinggi. Apalagi bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan, antri berjam-jam akan membuat rencana perjalanan mereka akan berantakan.

Energizing You

Pertamina baru saja meluncurkan moto Energizing You pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 tahun, 10 Desember 2020 lalu. Energizing You diberi makna Pertamina selalu berusaha untuk melayani masyarakat dan memberikan energinya untuk kepentingan bangsa Indonesia (https://www.pertamina.com).

Melalui program Pertamina Berkolaborasi /Tumbuh Bersama, perusahaan BUMN ini kian memperkuat inovasi bisnis atau membangun kolaborasi baik di lingkungan internal maupun eksternal, sebagai lokomotif perekonomian dan industri nasional.

Kehadiran Pertashop tidak terlepas dari Pertamina Berkolaborasi dan sejalan dengan moto Energizing You, Pertamina memberi kemudahan kepada pengusaha atau badan usaha untuk membuka Pertashop dengan persyaratan ringan.

Pertamina menawarkan tiga jenis skema dan spesifikasi dalam membuka Pertashop. (https://money.kompas.com). Ketiga skema tersebut yakni:

Skema Gold yang membutuhkan modal Rp 250 juta,  yang mencakup biaya Pertashop dan pengiriman. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp20 jt (Rp8.150 x 2.000 – liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 850/liter (untuk sales 1-1.000 liter/hari), Estimasi pendapatan/hari: minimal 400 liter/hari Estimasi pengembalian modal maksimal 5 Tahun (tergantung pendapatan penjualan).

Skema Platinum membutuhkan modal Rp400 juta yang mencakup biaya Pertashop dan instalasinya. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.400 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 600/liter (untuk sales min 1.001- 3.000 liter/hari) Estimasi pendapatan/hari: minimal 1.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 4 tahun (tergantung pendapatan penjualan).  Dimungkinkan menjual LPG Bright Gas dan Pelumas Pertamina.

BACA JUGA  Dinas PMDPPKB Tanah Datar Sosialisasikan Program Pertashop untuk Nagari

Skema Diamond, modal yang diperlukan untuk skema ini Rp500 juta yang meliputi biaya Pertashop dan instalasinya. Rinciannya: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.565 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 435/liter (untuk sales > 3.000 liter/hari) Estimasi pendapatan/hari: minimal 3.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 3 Tahun (tergantung pendapatan penjualan).

Pertamina tidak berhenti sampai di sana. Sebagaimana dijelaskan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah sekaligus Menteri BUMN, Erick Thohir saat meresmikan Pertashop untuk Pondok Pesantren di Desa Surusunda, Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap pada hari ini, Minggu 11 April 2021 mengatakan bahwa Pertashop merupakan sarana kemitraan dari Pertamina yang bertujuan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pertashop ini bagian dari BUMN dalam penguatan ekonomi masyarakat, seperti salah satunya di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Karangpetir ini,” kata Erick Thohir dalam keterangan tertulis, Ahad, 11 April 2021 (http://www.tempo.co).

Kerja sama antara Pertashop dengan Pondok Pesantren Nurul Qur’an Karang Petir ini, jelas Erick Thohir, sudah sesuai dengan 4 Pilar dalam Masyarakat Ekonomi Syariah yang berfokus pada pengembangan pasar industri halal di dalam dan luar negeri, pengembangan industri keuangan syariah nasional, investasi bersahabat yang melibatkan pengusaha di daerah dan pengembangan ekonomi syariah dari pedesaan dan pesantren secara berkelanjutan.

Program kemitraan Pertashop dari Pertamina dengan Pondok Pesantren ini merupakan inovasi baru dan termasuk proyek percontohan, untuk menuju 1000 pesantren dengan 1000 bisnis. Sehingga pesantren dapat mandiri secara finansial dan menguatkan ekonomi umat dan masyarakat.

Bukan tidak mungkin, Pondok Pesantren lain membuka usaha yang sama, membangun Pertashop di lingkungan pondok pesantren atau di lokasi lain, yang dikelola oleh Pondok Pesantren. Bukankah Pertamina sudah memberikan jalan mudah untuk membangun Pertashop.

Usaha Dagang, Koperasi, CV, PT atau badan usaha lainnya diberi peluang untuk membuka usaha Pertashop. Selain pondok pesantren, peluang ini bisa dimanfaatkan oleh sekolah yang memiliki koperasi untuk membuka usaha Pertashop.

Bukankah Pertamina ingin Berkolaborasi dan Tumbuh Bersama dan selalu berusaha untuk melayani masyarakat dan memberikan energinya untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Ingat, Energizing You.

Baca juga: Ini Solusi Mahasiswa Universitas Pertamina Optimalkan Distribusi Vaksin

 

Facebook Comments

loading...
Artikel sebelumyaWakil Gubernur Sumbar Resmikan Surau Kayu Al Iqra Green House Lezatta
Artikel berikutnyaWakil Kepala Daerah se-Sumatera Barat Gelar Pertemuan di Tanah Datar