Berkumpul di Pintu 216, Jemaah Haji PDG 9 Mengenal Masjid Disekitar Masjid Nabawi

Madinah, SuhaNews | Memasuki hari kempat di Madinah, jemaah haji Kloter 9 PDG yang berasal dari Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan dan kota Padang Panjang diajak ziarah di sekitar Masjid Nabawi sekaligus mengenal lebih jauh tentang sejarah Masjid tersebut, Kamis (7/5).

Usai salat Subuh jemaah yang berkesempatan ikut diminta berkumpul di pintu pagar 216, pesan ini disampaikan oleh Ketua Kloter dan Pembimbing Ibadah melalui Ketua Regu dan Rombongan. Agenda yang direncanakan adalah berkunjung ke Masjid Ali, Masjid Gamamah, Masjid Abu Bakar dan Museum Rasulullah serta Makam Baqi.

00806 haji 2026 nabawi d
Pembimbing Ibadah Kloter 9, Zul Afendi memberikan penjelasan pada jemaah tentang situs yang dikunjungi disekitar Masjid Nabawi

Kepada jemaah, Pembimbing Ibadah Zul Afendi menceritakan sejarah singkat Masjid Nabawi yang mulai dibangun pada  622 Masehi, Rasulullah SAW tiba di Madinah dengan sambutan hangat dari penduduk setempat. Saat itu, seluruh penduduk Madinah menunggu kedatangan Rasulullah dengan antusias. Ketika beliau akhirnya tiba, unta tunggangannya berhenti di sebuah tempat yang merupakan sebidang tanah milik dua anak yatim dari Bani Najjar, yaitu Suhail dan Sahl. Keduanya berada dalam asuhan As’ad bin Zurarah, salah satu sahabat Rasulullah. Pada saat itu, tanah tersebut digunakan sebagai tempat untuk menjemur kurma.

Rasulullah kemudian bersabda, yang artinya : “Insya Allah, tempat ini (untuk) rumah.” (HR Bukhari). Pernyataan ini menunjukkan keteguhan hati Rasulullah dalam memilih tempat yang akan menjadi pusat kegiatan umat Islam di Madinah.

Namun, dalam proses ini, terdapat pelajaran penting tentang keadilan dan kesetaraan. Ketika kedua anak yatim, Suhail dan Sahl, menawarkan tanah tersebut secara cuma-cuma kepada Rasulullah sebagai bentuk penghormatan dan cinta mereka, Rasulullah menolak pemberian itu. Beliau lebih memilih untuk membelinya secara sah.

00806 haji 2026 nabawi b e1778206855707

Keengganan Nabi Muhammad untuk menerima tanah secara gratis menunjukkan betapa pentingnya menghargai hak orang lain, bahkan terhadap anak yatim. Rasulullah SAW ingin memberikan contoh yang baik dalam hal kepemilikan dan keadilan.

Setelah proses pembelian tanah selesai, pembangunan Masjid Nabawi pun dimulai. Pembangunan ini berlangsung selama dua belas hari dan melibatkan seluruh umat muslim yang baru saja hijrah dari Makkah serta penduduk Madinah. Semua bergotong-royong dalam pekerjaan ini, mencerminkan semangat persaudaraan dan kerja sama yang kuat di antara mereka. Rasulullah sendiri turut membantu dalam proses pembangunan, menunjukkan teladan kepemimpinan yang tidak memisahkan diri dari umatnya.

BACA JUGA  FKUB Bukittinggi Tinjau Persiapan Musala Al Mutaqin Kabun Pulasan Jadi Masjid

Rasulullah ikut mengangkat batu-bata, mengangkut tanah, dan membangun masjid bersama-sama dengan para sahabatnya. Bangunan masjid pada awalnya sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bata tanah liat, dan atapnya terdiri dari pelepah kurma yang memberikan perlindungan dari panasnya terik matahari.

Masjid ini tidak memiliki banyak hiasan atau ornamen, tetapi semangat keimanan dan persatuan umat Islam yang mengisi tempat ini menjadi hal yang lebih berharga dibandingkan segala kemewahan. Selain itu, di sekitar masjid, Rasulullah juga membangun kamar-kamar untuk para istri beliau. Kamar-kamar ini terbuat dari tanah, pelepah kurma, dan batu yang disusun. Rumah-rumah tersebut sangat sederhana, melambangkan kesederhanaan kehidupan Rasulullah dan keluarganya, meskipun beliau adalah pemimpin umat Islam.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Nabawi mengalami berbagai perubahan dan perluasan, tetapi semangat yang dibangun sejak awal tetap hidup hingga saat ini. Tempat yang sederhana ini menjadi jantung kehidupan masyarakat Muslim di Madinah, tempat di mana ajaran Islam berkembang pesat.

Masjid ini menjadi saksi dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam, di mana setiap aktivitasnya menunjukkan betapa berperannya masjid dalam membina umat. Berikut berbagai fungsi Masjid Nabawi, antara lain sarana ibadah utama, tempat menampung kaum muhajirin, pusat pembelajaran Islam, tempat perlindungan muslimah, pusat pengobatan dan tempat menerima delegasi diplomatik serta tempat rapat kaum muslimin.

00806 masjid ali foto antara
Masjid Ali Bin Abi Thalib. foto : Antara

Dari Masjid Nabawi, jemaah diajak berkunjung ke Masjid Ali bin Abi Thalib yang terletak sekitar sekitar 290 meter di sebelah barat Masjid Nabawi. Dibangun pada masa ke-khalifahan Umar bin Abdul Aziz. Kemudian, masjid tersebut mengalami renovasi pada tahun 881 H oleh Dhaigham Al-Manshuri yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Madinah. Setelah mengalami masa renovasi pertama, masjid tersebut kembali mengalami renovasi pada tahun 1269 H saat masa pemerintahan Sultan Abdul Majid.

Menurut riwayat, Rasulullah saw pernah menunaikan salat ied di masjid ini. Sedangkan riwayat lain menyebutkan bahwa masjid ini merupakan titik teras rumah Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pembangunan masjid bertujuan mengenang perjuangan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, sahabat juga menantu Nabi Muhammad SAW.

Masjid berikutnya dikunjungi adalah Masjid Ghamamah masih disekitar Masjid Nabawi.  Terletak di Kota Madinah, sekitar 300 meter di sebelah barat daya Masjid Nabawi, masjid ini kerap menarik perhatian para jemaah yang ingin mengetahui kisah-kisah penuh hikmah yang terjadi di tempat tersebut. Dalam sejarah Masjid Ghamamah, masjid ini menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah yang unik.

BACA JUGA  Wakil Gubernur: RPJMD Fokus untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Nagari

Nama “Ghamamah” sendiri dalam bahasa Arab (الغمامة) berarti “awan.” Kisah pemberian nama ini berasal dari peristiwa besar yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Kala itu, Madinah dilanda musim kekeringan yang begitu parah. Penduduk setempat sangat menderita, tanaman mereka layu, dan sumber air hampir mengering.

Dalam keadaan sulit tersebut, mereka meminta Nabi Muhammad saw. untuk memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan. Rasulullah pun mengajak mereka ke suatu lapangan terbuka di mana beliau memimpin salat Istisqa’ (صلاة الاستسقاء) dan memanjatkan doa dengan penuh khusyuk.  Tidak lama setelah itu, awan tebal berkumpul di atas langit Madinah, dan hujan yang dinantikan pun turun dengan derasnya, membawa berkah dan kegembiraan bagi seluruh penduduk.

00806 haji 2026 masjid ghamamah
Masjid Ghamamah

Karena peristiwa ajaib inilah, tempat tersebut diberi nama “Ghamamah,” merujuk pada awan yang membawa rahmat Allah Swt. Masjid ini juga dikenal sebagai lokasi pertama di mana Rasulullah SAW memimpin salat Id (صلاة العيد) bersama para sahabat dan masyarakat Madinah. Salat Id yang dilaksanakan di tempat ini menandai salah satu momen bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam.

Salat Id disunahkan untuk dilaksanakan di lapangan terbuka. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memilih tempat ini yang dulu merupakan tanah lapang, untuk melaksanakan salat Id setiap hari raya. Hal ini menjadi kebiasaan yang dihormati oleh generasi-generasi berikutnya. Sekarang, bangunan masjid ini menonjolkan keindahan dari batu basal hitam yang menyelimuti dinding-dindingnya.

Kubah putih besar menghiasi bagian tengah atap, menciptakan kontras yang anggun dengan latar belakang langit biru Madinah. Selain itu, pintu-pintu kayu berukir menambah sentuhan artistik yang tidak lekang oleh waktu. Bangunan masjid yang ada saat ini merupakan hasil peninggalan dari era pemerintahan Sultan Abdul Majid al-Utsmani.

00806 masjid abu bakar foto himpuh.or .id
Masjid Abu Bakar Madinah. foto : Himpuh.or.id

Selanjutnya jemaah berkunjung ke Masjid Abu Bakar,Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi sejarah yang mengingatkan umat Islam pada sosok sahabat paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA  29.109 Peserta Lulus Calon PPPK Kemenag, Masa Sanggah sampai 30 April 2023

Masjid ini dinamai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, sahabat setia Nabi sekaligus khalifah pertama dalam sejarah Islam. Lokasinya berada di bagian barat daya kawasan Masjid Nabawi, tepat di jantung area pusat kota Madinah yang selalu ramai dikunjungi jemaah.

Sepanjang perjalanan sejarah Islam, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq telah beberapa kali mengalami pemugaran dan renovasi. Upaya perawatan tersebut terus berlanjut hingga era pemerintahan Arab Saudi, yang memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian masjid-masjid bersejarah di Madinah.

00806 haji 2026 maqam baqi
Pembimbing Ibadah Kloter 9 PDg ZUl Afendi bersama Ketua Rombongan 9 H. Rifa’i

Sebagai salah satu landmark religius sekaligus historis, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol penghormatan kepada salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Islam.

Perjalanan berikutnya ke Baqi, sebuah komplek pemakaman di madinah. Berbeda dengan komplek pemakaman di Indonesia yang dilengkapi nisan hingga tembok berbagai bentuk dan bahan hingga ditambah berbagai ornamen, di Baqi makam sangat sederhana, hanya ada sebuah batu seagai penanda tanpa adanya identitas dan riwayat jenazah yang dimakamkan. Disini dimakamkan para pahlawan Islam sekelas Khalifah Ustman bin Affan dan para ahli bait dimakamkan tanpa nama di Pemakaman Baqi.

00806 haji 2026 nabawi c

Panasnya cuaca kota Madinah membuat perjalanan dan ziarah jemaah Haji Kloter 9 PDG ini harus berakhir, jemaah kembali ke hotel untuk berisitirahat sembari menjaga fisik agar tidak sakit sembari menjaga badan tidak sampai dehidrasi. Nova | Fendi

Berita terkait :

Facebook Comments

Google News