Tips Menumbuhkan Semangat Belajar pada Anak

Tips Menumbuhkan Semangat Belajar pada Anak

Tips Menumbuhkan Semangat Belajar pada Anak

Oleh : Nofrika Yanti, S.Pd, Guru SDN 09 Sumpur

Pada dasarnya manusia adalah seorang pembelajar. Belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan ,dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Pada waktu bayi,seorang bayi menguasai keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol susu dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Belajar dimulai dari hal sederhana ketika anak masih kecil seperti ketika dia belajar merasakan benda, berjalan, dan berbicara.

Ketika menginjak masa anak-anak dan remaja, sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan berinteraksi sosial dicapai sebagai kompetensi. Pada saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu dan keterampilan-keterampilan fungsional lainnya, seperti : mengendarai mobil, berwiraswasta, menjalin kerja sama dengan orang lain.

Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Belajar mempunyai keuntungan, baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Bagi individu, kemampuan untuk belajar terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat, belajar mempunyai peran penting dalam mentransmisikan budaya dari generasi ke generasi ( Bell – Gredler,1986 ).

Belajar sebagai karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan sepanjang hayat manusia, bahkan tiada hari tanpa belajar. Dengan demikian, belajar tidak hanya dipahami sebagai aktivitas yang dilakukan oleh pelajar saja. Baik mereka yang sedang belajar di tingkat sekolah dasar, sekolah tingkat pertama, sekolah tingkat atas, perguruan tinggi, maupun mereka yang sedang mengikuti kursus, pelatihan, dan kegiatan pendidikan lainnya.

Lebih dari itu, pengertian belajar itu sangat luas dan tidak hanya sebagai kegiatan di bangku sekolah saja. Kita sebagai orang tua atau guru bagi putra-putri tercinta kita juga harus terus menerus belajar sepanjang hayat.

Tetapi masalahnya kita sebagai orang tua atau guru bagi putra-putri kita secara tak sadar, masih belum mengerti bahwa bagaimana cara kita menyikapi proses pembelajaran anak pada waktu kecil sangat berarti untuk pembelajaran dikemudian hari.

BACA JUGA  Kafilah MTQ: Mempelajari Alquran Merupakan Panggilan

Pada awal perkembangannya bayi belajar hanya dengan cara meniru orangtuanya, atau orang-orang di dekatnya. Ketika dewasa, ketika perkembangan manusia semakin kompleks, meniru juga masih tetap menjadi salah satu cara manusia untuk belajar. Tokoh yang ditiru bukan hanya orang tua atau orang-orang terdekat, melainkan juga orang yang tidak dikenalnya secara langsung. Seperti : tokoh-tokoh , ulama, atau orang-orang yang mempunyai pengaruh besar yang dikenal lewat buku, media massa, maupun media elektronik.

Kita sebagai orang tua sering memberikan perlakuan tak menyenangkan ketika anak belajar atau mungkin kita sewaktu kecil pernah atau sering mendapat stimulasi yang tidak menyenangkan.

Contohnya saat anak kecil berumur sekitar setahun, mereka biasanya ingin memasukkan semua barang ke dalam mulutnya. Yang sering terjadi adalah orang tua melarang si anak secara verbal sambil menarik barang tersebut. Ini bisa dikategorikan perilaku menjengkelkan atau tidak menyenangkan bagi si anak.

Lalu ketika anak sedang belajar berjalan, banyak larangan demi larangan dari pihak orang tua atau pengasuh. Padahal ini adalah proses belajar si anak untuk mengisi informasi di otaknya. Ketika anak sudah mulai berbicara dan banyak bertanya, jawaban yang didapatkan oleh anak lebih sering jawaban yang kurang memuaskan dari orang tua atau orang dewasa.

Bahkan jawaban yang asal jadi  dapat membuat anak bingung, marah , bahkan sangat menjengkelkan bagi anak. Bisa jadi ini karena faktor kelelahan orang tua saat mengasuh atau terlalu capek pulang  bekerja. Sehingga malas sekali memberikan penjelasan yang berulang-ulang.

Ketika melihat barang baru di rumah, anak ingin mengetahui lebih dekat lagi dan berusaha untuk menggapai atau memegangnya. Orang-orang dewasa di sekelilingnya malah menjauhkan barang tersebut karena takut rusak atau mencederai anak. Tindakan ini  juga akan menjadi pemicu anak untuk menjadi manusia yang pemarah, kecewa, tidak percaya diri, tantrum, dan cendrung emosional.

BACA JUGA  Covid-19 Kabupaten Solok: 3 PDP Dirawat, 2 Diisolasi

Jadilah orang tua yang selalu ridho terhadap anak yaitu dengan cara selalu memaafkan kesalahannya, mengajak anak berdialog, rangkul anak dengan sepenuh hati,dan seringlah memujinya.

Seorang pakar pendidikan, Timothy Wibowo, memberikan beberapa kiat atau tips supaya anak bisa menjadi rajin dan mudah belajar di rumah maupun di sekolah. Pertama, Jadilah orang tua atau guru teladan (contoh) yang baik serta punya rasa kasih sayang yang tulus dan ikhlas kepada anak.

  1. Orang tua atau guru harus tahu dengan bakat dan minat anak. Sehingga kita bisa meluangkan waktu bersama anak untuk menyalurkan bakat dan kreatifitasnya.
  2. Saat anak pulang sekolah, tanyakan apa saja hal menyenangkan hari itu. “Hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini di sekolah ?”.

Otomatis anak akan mencari hal-hal menyenangkan di sekolah dan secera tidak langsung membentuk mindset anak bahwa sekolah adalah tempat belajar dan bermain yang sangat menyenangkan.

Sehingga mindset dan pola belajar anak di rumah juga akan terasa sangat menyenangkan.

  1. Ketika anak akan tidur masukan sugesti positif dengan mengatakan bahwa belajar adalah hal menyenangkan.

Belajar itu sangat  mudah dan sama menyenangkan dengan bermain, berhitung,  dan menghafal. Ini salah satu bentuk hypnosleep positif pada anak.

  1. Jelaskan kegunaan materi pelajaran yang sedang dikerjakan. Sesuaikan penjelasan dengan materi anak, misalnya dengan belajar perkalian, maka anak dapat menghitung jumlah koleksi mainannya atau menghitung sendiri harga action figure di sebuah supermarket dan membandingkannya dengan harga di mall lain.

Atau jika mahir bahasa Jepang maka menonton anime tak perlu menggunakan subtitle dan dapat membaca komik aslinya yang langsung yang berbahasa Jepang.

Jelaskan kegunaan pelajaran pada anak supaya sang anak memahami tujuan akhir dari pelajaran tersebut.

  1. Mintalah pada guru kelas atau guru lesnya (jika ada), untuk sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak hebat dan luar biasa.
BACA JUGA  BLT Dana Desa Disalurkan, Parambahan Tidak Penuhi Kuota

Pujian tulus dan memacu semangat anak untuk belajar lebih penting daripada diajari macam-macam teknik berhitung dan menghafal cepat.

Mintalah bantuan orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri anak.

  1. Bila anak masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, pangkulah si anak saat membacakan dongeng. Posisikan anak di posisi nyaman dan memudahkan kita untuk memberikan ciuman serta pelukan kasih sayang.

Tujuannya supaya anak dapat menghubungkan sensasi menyenangkan antara membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua.

  1. Buatkan surat rahasia untuk anak lalu kita bisa mengatakan bahwa hanya kita dan si anak yang mengetahui tentang surat tersebut dan isinya.

Isi suratnya bisa saja kata-kata semangat untuk anak dalam kegiatan belajar mengajar sekolahnya atau hal lain yang dapat membangkitkan semangat anak.

  1. Seringlah memberi pujian dan penghargaan pada anak. Sehingga anak bertambah percaya diri dan semakin termotivasi dalam belajar.
  2. Jangan terlalu sering mengeluh dan membanding-bandingkan kemampuan kecerdasan anak. Karena tidak ada manusia yang diciptakan oleh Allah SWT yang sempurna. Semua kita  akan selalu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Masih banyak tips lainnya untuk membuat anak bersemangat dalam belajarnya. Intinya adalah kerjasama berbagai pihak dalam menumbuhkan  rasa percaya diri untuk anak dalam batas wajar.

Apabila berlebihan maka akan jadi seperti tindakan yang kelewat memanjakan anak dan itu akan berakibat tidak baik juga pada anak. Jika anak sudah semangat belajar maka setengah pertandingan sudah dimenangkan.

Sehingga belajar dapat membawa perubahan bagi anak, baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, tentunya anak juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa juga menyesuaikan diri dengan lingkungannya. ***

Baca Juga :

Facebook Comments

loading...